<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504</id><updated>2012-02-16T16:47:35.092-08:00</updated><category term='drama'/><category term='samawa'/><category term='rendra'/><category term='ludruk'/><category term='trowulan'/><category term='realis'/><category term='soeharto'/><category term='majapahit'/><category term='max arifin'/><category term='karya budaya'/><category term='puisi'/><category term='preside'/><category term='tempo'/><category term='samuel beckett'/><category term='sumbawa'/><category term='ibu'/><category term='stanislavsky'/><category term='majapahit park'/><category term='teater'/><category term='hardjono ws'/><category term='mojokerto'/><category term='absurd'/><category term='newmont'/><title type='text'>BANYUMILI</title><subtitle type='html'>&lt;a href="http://www.easycounter.com/"&gt;
&lt;img src="http://www.easycounter.com/counter.php?kurakurabiru" border="0" alt="page counter"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;br&gt;&lt;a href="http://www.easycounter.com/FreeCounter3.html"&gt;Free Hit
 Counter&lt;/a&gt;</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>86</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-7000208095223208322</id><published>2007-12-26T03:31:00.000-08:00</published><updated>2007-12-26T03:34:28.780-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teater'/><title type='text'>Liputan Dialog Teater di Radar Mojokerto</title><content type='html'>PELAKU TEATER LINTAS GENERASI CURHAT&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Biro Seni Drama Dewan Kesenian Kota Mojokerto (DKM) Minggu 23 Desember 2007 mengadakan kegiatan bertajuk Dialog Lintas Generasi Tentang Perkembangan Seni Drama di Mojokerto. Bertempat di Gedung Dharma Wanita lantai 2 di Jl. Hayam Wuruk 50 Kota Mojokerto.&lt;br /&gt;  Acara dimulai pukul 09.54 oleh M.Misbakh sebagai Koordinator Biro Seni Drama DKM.&lt;br /&gt;“Kegiatan ini merupakan tanggung jawab DKM khususnya Biro Seni Drama kepada publik. Adalah wajar sebagai lembaga yang mendapat dana operasional dari APBD sebesar 50 juta per tahun dan untuk Biro Seni Drama mendapat 2,5 juta rupiah untuk membuat laporan kegiatan.”&lt;br /&gt;  Menghadirkan narasumber Heriyanto Subekti (Sekretaris DKM) dan Bagus Yuwono (Lidhie Art Forum).&lt;br /&gt;Heriyanto Subekti secara garis besar menjelaskan perkembangan teater di Mojokerto era 70-an saat aktif bersama kelompok teater Roda Roda. Juga fenomena Lomba Drama Lima Kota di &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1198668297_0"&gt;Surabaya&lt;/span&gt; yang ikut mewarnai semaraknya teater di Mojokerto kala itu.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Bagus Yuwono sebagai narasumber berikutnya menjelaskan kegiatan Lidhie Art Forum yang telah mementaskan naskah karya Bagus Yuwono sendiri masing-masing Sisi Gelap Kamar Yuli dan sang Penggali batu.Bagus Yuwono yang baru saja menjadi PNS tersebut menjelaskan kiat-kiatnya dalam membuat jejaring teater antar kota dan pengalamannya dalam melatih teater pelajar di Teater Taman SMA Taman Siswa dan Teater Jingga SMAN 1 Puri Kabupaten Mojokerto.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Dialog antar generasi teater di Mojokerto selanjutnya menampilkan pembicara generasi tua pelaku teater modern dan tradisi di Mojokerto.&lt;br /&gt;Ibnu Sulkan mengurai pengalamannya bermain ludruk sejak tahun 1963. “Saya pernah bermain di TVRI sebayak 19 kali antara lain menampilkan naskah-naskah lokal Mojokerto antara lain Kyai Sabuk Alu, Mbah Selo sampai Sunan Kalijaga.”&lt;br /&gt;Cak Sulkan juga pernah bermain sinetron Secercah Liku Kehidupan bersama Rina Hasyim. “Semasa Pak Boimin menjadi Sekdakot saya pernah diminta membuat alat musik bernama Cumplingan Jeblok”, imbuh Cak sulkan di hadapan peserta dialog.&lt;br /&gt;  Cak Sulkan pernah menjadi pimpinan ludruk Putra Madya Mojokerto.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Hanibal dari SMAN 1 Kota Mojokerto memaparkan aktivitasnya semasa menjadi mahasiswa IKIP Negeri &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1198668297_1"&gt;Surabaya&lt;/span&gt; (sekarang UNESA) bersama Teater Ritma. “Tahun 1984-1985 saya mengajar di Mojokerto dan mulai berkenalan dengan Mas Tatok D.Soemardi dan Mas Krisantus Sugiatmoko (sekarang bekerja di Dinas Infokom Kota Mojokerto). “Saya mengusulkan semacam arisan teater bagi komunitas teater di Mojokerto. Selain sebagai sarana kongkow kongkow juga menampilkan produksi terbaru tiap grup teater.”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Pembicara berikutnya adalah Tatok D.Soemardi dari Teater Roda Roda. “Saat ini saya menetap di &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1198668297_2"&gt;Bandung&lt;/span&gt; dan kehadiran saya di forum ini merupakan blessing in disguise.”&lt;br /&gt;  Sebagai aktivis teater generasi lawas Tatok D.Soemardi menjelaskan panjang lebar peta teater di Mojokerto era 70 an.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kegiatan diikuti sekitar 50 peserta sebagaian besar teater pejar khususnya teater Pegasus SMA PGRI 2 Kota Mojokerto dan teater Jingga SMAN 1 Puri Kabupaten Mojokerto, Suliadi (penyair asal Gedeg),pelaku dan aktivis kebudayaan, selebihnya pengurus Dewan Kesenian Kota Mojokerto antara lain saiful Bakri (biro sastra), Tavia Dewi (biro tari), Darto Kuswandi (biro musik). Satu peserta dari mahasiswa jurusan seni teater Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1198668297_3"&gt;Surabaya&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Bagian yang paling menarik adalah sesi tanya jawab. Sejumlah pertanyaan muncul berkisar hal mendasar sampai statemen yang argumentatif. Adelia dari teater Pegasus SMA PGRI 2 Kota Mojokerto bertanya apakah yang dipelajari dari teater, Cakra dari teater Jingga SMAN 1 Puri menanyakan adanya stigma dari masyarakat bahwa ikut teater sama saja dengan seperti orang gila.&lt;br /&gt;Abdul Malik dari Banyumili menambahkan “ Saya mendapat kiriman email dari Bapak Anton de Sumartana pendiri Teater Swawedar bahwa teater di Mojokerto telah ada sejak 44 tahun lalu. Bapak Anton yang saat ini tinggal di &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1198668297_4"&gt;Bogor&lt;/span&gt; mengirim profil dan data teater Swawedar sepanjang 5 lembar. Selanjutnya saya mendukung usulan Pak Hanibal untuk mengadakan arisan teater mulai tahun depan. Kita asumsikan tiap kelompok teater tampil tiap bulan dan mendapat bantuan biaya produksi 5 juta per produksi berarti setahun 60 juta. Saya berharap Biro Seni Drama meneruskan usulan program tersebut dan saya siap mendukung “.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Dialog juga membahas adanya perbedaan  persepsi terhadap istilah  teater pelajar dan teater umum.&lt;br /&gt;M.Mismakh sebagai Biro Seni Drama mencoba menjawab “ Apakah di Mojokerto ada teater umum? Rony Yunarto dan LG, Bagus Yuwono dan Lidhie Art Forum, Andik L Hasan dan teater Kaca, dan saya sendiri teater Koalisi juga jarang pentas di kota sendiri. Yang ada malah kelompok teater cap stempel. Dalam kesempatan ini saya mengajak mari kita ramaikan kota kita dengan pentas teater yang berkualitas”.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Andik L. Hasan dari teater Kaca dan Study Teater Mojokerto (STEMO) mengusulkan kepada DKm untuk membuka kelas teater di sekretriat DKM&lt;br /&gt;Namun usulan tersebut ditolak secara tegas oleh M.Misbakh dengan alasan bahwa DKM sebagai lembaga yang menaungi seluruh lembaga seni di Mojokerto. “Kalau DKM sebagai sanggar tentu akan menimbulkan kecemburuan banyak pihak”.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Rony Yunarto menambahkan sedikit pengalaman dari tiga tahun menjadi pelatih teater Payung Hitam SMAN 1 Sooko kabupaten Mojokerto.&lt;br /&gt;  Gatot Sableng memberi gambaran betapa pentingnya posisi teater pelajar dalam peta teater di Mojokerto.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tatok D Soemardi menutup dialog siang hari tersebut dengan memberi masukan agar komunitas teater di Mojokerto mengadakan workshop dengan pelaku teater semisal Rendra sesering mungkin. “Mohon resume dialog teater hari ini dikirimkan juga ke DPRD dan Eksekutif Kota Mojokerto.”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Pukul 13.00 wib dialog selesai.&lt;br /&gt;  (***)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  (Harian Radar Mojokerto, Rabu, 26 Desember 2007  halaman 28)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Informasi:&lt;br /&gt;  M.Misbakh&lt;br /&gt;  Biro Seni Drama&lt;br /&gt;  Dewan Kesenian Kota Mojokerto&lt;br /&gt;  Jl. Gajah Mada 149&lt;br /&gt;  Kota Mojokerto 61324&lt;br /&gt;  Hp 081 913 10 3365&lt;br /&gt;  Email:&lt;a rel="nofollow" ymailto="mailto:dewankeseniankotamojokerto%40gmail.com" target="_blank" href="http://us.f543.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=dewankeseniankotamojokerto%40gmail.com"&gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" class="yshortcuts" id="lw_1198668297_5"&gt;dewankeseniankotamo jokerto@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-7000208095223208322?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/7000208095223208322/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=7000208095223208322' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/7000208095223208322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/7000208095223208322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/12/liputan-dialog-teater-di-radar.html' title='Liputan Dialog Teater di Radar Mojokerto'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-6765381476826993846</id><published>2007-12-24T02:32:00.000-08:00</published><updated>2007-12-24T02:33:53.893-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ludruk'/><title type='text'>Ludruk Karya Budaya di Festival Bengawan Solo</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Dimuat di harian SURYA edisi Online &lt;a href="http://www.surya.co.id/"&gt;www.surya.co.id&lt;/a&gt; pada rubrik Citizen Journalism, Jumat, 21 Desember 2007&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ludruk merupakan benteng kesenian terakhir yang harus dijaga di wilayah Jawa Timur. Ludruk Karya Budaya (LKB) Mojokerto mendapat undangan dari panitia Festival Bengawan Solo yang diadakan Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Pemkot Surakarta. Kegiatan diadakan 14-16 Desember 2007 di Taman Sriwedari yang telah berusia 106 tahun. Membawakan lakon Joko Sambang, LKB mendapat giliran tampil Sabtu (15/12) dalam festival yang mengambil tema Lebih Akrab dengan Tradisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilan LKB dimulai pukul 22.10 WIB setelah sebelumnya tampil pentas karawitan anak-anak, gamelan Bali oleh I Wayan Sadra, Tari Piring dari Minangkabau dan Tari Denok Deblong dari Semarang. Tari Remo oleh Cak Soekis membuka panggung Festival Bengawan Solo. Cak Slamet melanjutkan dengan Kidungan Jula Juli. Trio lawak Cak Trubus, Cak Slamet, dan Cak Supali membuat sekitar seratusan penonton terbahak-bahak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakon Joko Sambang bercerita tentang masa penjajahan Belanda yang sedang mengadakan pembangungan jembatan di Porong lewat program kerja paksa. Setiap&lt;br /&gt;lurah wajib mengirim 10 rakyat untuk kerja rodi. Adalah Bintoro (Cak Soekis), Lurah Gunung Gangsir, satu-satunya lurah yang menolak mengirim rakyat kepada kumpeni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Lurah Abilowo (Cak Muzet) bersama Carik Bargowo (Gawok) sibuk mengatur siasat untuk menjilat kumpeni. Keduanya berinisiatif melaporkan Bintoro&lt;br /&gt;agar ditangkap kumpeni. Namun ternyata diam-diam Abilowo menaruh hati pada Sutinah (Ririn) istri Bintoro. Kumpeni langsung menangkap Bintoro dan memasukkan dalam penjara, berkat laporan Abilowo dan Bargowo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutinah dan orangtuanya mencari Joko Sambang (Cak Mujiadi Zakaria), putra satu-satunya Lurah Bintoro dan Sutinah untuk menyerahkan keris pusaka. Joko Sambang sedang bertapa di petirtaan Jolotundo di lereng Gunung Penanggungan. Penampilan Trubus dan Slamet sebagai kumpeni sekali lagi membuat penonton terpingkal-pingkal. Penonton juga memberi aplaus pada penampilan laga para pemain ludruk Karya Budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir cerita Joko Sambang berhasil mengusir penjajah Belanda dan membebaskan rakyat dari kerja paksa. Lakon Joko Sambang terasa aktual karena mengusung semangat vox&lt;br /&gt;populi vox dei, suara rakyat suara Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agung Priyo Wibowo, salah satu panitia Festival Bengawan Solo 2007 menyatakan kekagumannya pada gaya lawak trio Slamet, Trubus, Supali. “Saya semakin yakin ludruk merupakan benteng kesenian terakhir yang harus dijaga di wilayah Jawa Timur. Tentu menarik jika ada yang berminat membuat website khusus ludruk sekaligus museum ludruk,” katanya.”Usia Ludruk Karya Budaya yang telah mencapai 38 tahun dan frekuensi pentas 180 kali setahun juga merupakan pertimbangan khusus dari panitia bagaimana sebuah kelompok kesenian tradisi masih dapat bertahan sampai hari ini.”&lt;br /&gt;Pukul 00.30 WIB LKB menutup penampilan Festival Bengawan Solo malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Abdul Malik&lt;br /&gt;Kradenan, Mojokerto&lt;br /&gt;banyumili@telkom.net&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kurakurabiru.multiply.com/"&gt;http://kurakurabiru.multiply.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://majapahitan2.blogspot.com/"&gt;http://majapahitan2.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-6765381476826993846?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/6765381476826993846/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=6765381476826993846' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/6765381476826993846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/6765381476826993846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/12/ludruk-karya-budaya-di-festival.html' title='Ludruk Karya Budaya di Festival Bengawan Solo'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-8532185084464035876</id><published>2007-12-22T01:12:00.000-08:00</published><updated>2007-12-22T01:13:09.690-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='drama'/><title type='text'>Dialog Perkembangan Seni Drama di Mojokerto</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt;"&gt;Salam budaya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilah jenis berkesenian yang sedang ini saat ini lebih didominasi seni yang mengarah pada hiburan sesaat yang lebih diwarnai kemewahan, hura-hura dan tidak jarang terjadinya tawuran, tapi sayang seni yang mengarah pada kesederhanaan dan dapat menghibur nurani dengan mengedepankan rasa dari pada mata serta dapat merubah perilaku pemain maupun penonton tidak berkembang ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni drama Ya ! Yang modern (teater) kita kembangkan sebagai alternatif untuk membangkitkan gairah remaja berkesenian sedangkan yang drama tradisi (ludruk, gambus, wayang orang, ketoprak, dll) kita jaga kelestariannya. Siapakah yang sebenarnya berhak mewujudkan harapan diatas? Apakah Pemkot Mojokerto melalui Dewan Kesenian Kota Mojokerto nya atau seniman sendirian dengan segala keterbatasannya? Jawabannya tentu tidak ! Bersinergi untuk mewujudkan masyarakat berbudaya merupakan kebutuhan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai langkah awal keberlanjutan pemberdayaan berkesenian Dewan Kesenian Kota Mojokerto Biro Seni Drama yang membidangi tumbuh kembangnya seni drama modern/tradisi dengan senang hati mengajak para seniman dan penggiat kesenian di Mojokerto untuk bersama-sama merumuskan langkah apa saja yang perlu untuk menggairahkan kembali seni drama di masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan tiada &lt;st1:place st="on"&gt;tara&lt;/st1:place&gt; kami sampaikan bila Bapak/Ibu/Saudara para seniman dan penggiat  seni berkenan hadir di acara yang akan kami selenggarakan  sebagai bentuk kepesertaan dalam mewujudkan tumbuh kembangnya seni drama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara             :  Dialog Lintas Generasi Tentang Perkembangan Seni Drama di Mojokerto&lt;br /&gt;Pelaksana      &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;: Biro Seni Drama Dewan Kesenian Kota Mojokerto&lt;br /&gt;Pembicara      : Bagus Yuwono (Lidhie Art Forum) dan Heriyanto Subekti &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;(Dewan Kesenian Kota Mojokerto)&lt;br /&gt;Tempat          : Gedung Dharma Wanita &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; Mojokerto Jl. Hayam wuruk 50 Kota Mojokerto&lt;br /&gt;Waktu           : Minggu, 23 Desember 2007 pukul 08.30 wib-selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas dukungan dan dorongan atas terlaksananya kegiatan ini baik sebelum dan sesudahnya. Wassalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biro Seni Drama,&lt;br /&gt;M.MISBAKH&lt;br /&gt;Hp 081 913 10 33 65&lt;br /&gt;Biro Seni Drama&lt;br /&gt;Dewan Kesenian Kota Mojokerto&lt;br /&gt;Jl. Gajah Mada 149 Kota Mojokerto 61324&lt;br /&gt;Jawa Timur&lt;br /&gt;email: dewankeseniankotamojokerto@gmail. com&lt;br /&gt;http://dewankeseniankotamojokerto. blogspot. com&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-8532185084464035876?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/8532185084464035876/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=8532185084464035876' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/8532185084464035876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/8532185084464035876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/12/dialog-perkembangan-seni-drama-di.html' title='Dialog Perkembangan Seni Drama di Mojokerto'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-2888817180439932515</id><published>2007-11-30T20:30:00.000-08:00</published><updated>2007-11-30T20:32:44.633-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ludruk'/><title type='text'>Ludruk Karya Budaya Goes To Festival Bengawan Solo</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sabtu, 01 Des 2007&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Persiapan Ludruk Karya Budaya yang Diundang pada Even Nasional Bengawan Solo &lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;br /&gt;Siapkan Lakon Joko Sambang, sebagai Misi Kebudayaan&lt;br /&gt;Menjadi satu-satunya grup ludruk yang dipilih dalam ajang budaya Bengawan Solo Festival 2007, membuat kelompok ludruk pimpinan Cak Edy Karya ini bersiap diri. Sayang, pada kesempatan tersebut Cak Edy sendiri tidak bisa menyertai karena hari ini sudah harus masuk asrama haji untuk berangkat ke Tanah Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KHOIRUL INAYAH, Mojokerto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALUNAN musik gamelan khas ludruk mengalun di sela-sela rumah warga di Desa Canggu Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto. Sesekali musik tersebut berhenti, berganti dengan dialog dalam bahasa Jawa khas. Tak lama kemudian diiringi musik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, hampir setiap hari ada kegiatan di Pondok Jula Juli Karya Budaya, Dusun Sukodono RT 1/RW 2, Desa Canggu Kecamatan Jetis yang menjadi markas Ludruk Karya Budaya yang dipimpin oleh Eko Edy Susanto, kepala cabang Dinas P dan K Kecamatan Magersari Kabupaten Mojokerto ini. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Arial;"&gt;Frekuensi ini semakin ditingkatkan seiring dengan datangnya undangan dari panitia Festival Bengawan Solo 2007 pada 13-16 Desember mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang akan dibawa? Cak Edy Karya menuturkan pihaknya akan menampilkan lakon Joko Sambang. Nama ini di Mojokerto sudah cukup terkenal, karena menjadi cikal bakal berdirinya Kabupaten Mojokerto setelah Majapahit runtuh. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Joko Sambang merupakan salah anak satu keturunan Raja Majapahit yang mati muda. Proses perebutan kekuasaan inilah yang akhirnya menewaskan Joko Sambang dalam usia belasan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Arial;"&gt;Undangan yang ditandatangani ketua panitia Dharsono ini terasa istimewa bagi Cak Edy Karya. Karena even Bengawan Solo Festival sudah cukup terkenal dan menjadi agenda rutin Pemkot Solo. Karena itu, meskipun "hanya" mendapatkan honor Rp 5 juta, pihaknya pun memberangkatkan tim dengan segenap kemampuan maksimal. Padahal, kalau manggung di hajatan bisa mencapai Rp 8 juta per pertujukan. "Ini istimewa karena ada misi budaya," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, tampil di ajang festival akan menambah jam terbang dan mentalitas pemain yag terbiasa tampil pada ajang lokal. Meskipun, untuk Ludruk Karya Budaya sendiri bukan lagi bisa disebut kelompok ludruk lokal, karena sudah berkali-kali mendapatkan pennghargaan pada ajang-ajang festival.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Selain itu, masa festival tersebut bagi Karya Budaya termasuk bulan sepi order. Karena memasuki bulan Selo (bulan Jawa, Red). Pada bulan ini, orang Jawa tidak mau membuat hajatan apalagi nanggap ludruk. Selo diartikan keseselan olo (terkena musibah, Red). Sehingga, tidak mengganggu jadwal yang ada. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Arial;"&gt;Untuk bulan Desember, ludruk ini baru mulai tampil pada tanggal 17 Desember, sehari setelah datang dari Solo. Tercatat, hingga akhir tahun ada 8 pertunjukan yang harus dilakoni ludruk ini. Antara lain, Lakarsantri Surabaya, Krembug Sidoarjo, Driyorejo Gresik dan beberapa lainnya di Mojokerto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Ludruk Karya Budaya, yang akan tampil pada ajang ini antara lain beberapa kesenian se-Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Misalnya, gamelan Bali, Minangkabau Group, Sanggar Greget Semarang, Seni dan Budaya Sunda Jakarta, Bengkel Seni Kutai Kalimantan Timur, serta Wayang Kulit Solo. (*)&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;(Harian Radar Mojokerto)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-2888817180439932515?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/2888817180439932515/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=2888817180439932515' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/2888817180439932515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/2888817180439932515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/11/ludruk-karya-budaya-goes-to-festival.html' title='Ludruk Karya Budaya Goes To Festival Bengawan Solo'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-8056848774132633736</id><published>2007-11-18T19:59:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T20:01:45.703-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teater'/><title type='text'>Cupak Tanah: Spirit Tradisi dan Semangat Modern</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Cupak Tanah: Spirit Tradisi dan Semangat Modern&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Senin, 12 Nopember 2007 pukul 19.00 WIB. Bau dupa mulai tercium begitu memasuki Gedung Gelangang Mahasiswa IAIN Sunan Ampel, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Setting panggung sangat sederhana. Tampak level setinggi dua meter dan bambu berbentuk segitiga dibalut kain kotak hitam putih. Tata lampu sederhana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pukul 19.30 WIB, penonton mulai memasuki ruang pertunjukan. Sekitar 200 penonton memenuhi gedung Gema meskipun tidak semuanya membeli tiket seharga tiga ribu rupiah. Mereka berasal dari Pasuruan, &lt;st1:city st="on"&gt;Malang&lt;/st1:city&gt;, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto dan tentu saja &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Banyaknya penonton (khususnya luar &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;) merupakan kerja yang patut diacungi jempol dari Luhur Kayungga dkk dari Lintas Masyarakat Teater Jawa Timur. Suasana gedung cukup panas, hanya ada beberapa kipas angin, sedangkan pendingin udara tidak tersedia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pukul 20.15 WIB Lampu padam dan pementasan Cupak Tanah Produksi Sanggar Kampoeng Seni Banyoening, Singaraja, &lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;, dimulai. Sembilan pemain—dua di antaranya perempuan—muncul membawa daun pisang menutup wajah mereka. Seluruhnya memakai kostum kotak-kotak hitam putih khas &lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;. Mereka bergerak di panggung sambil menumpahkan air. Tanah di atas panggung menjadi becek. Penonton hanya berjarak satu meter dengan pemain. Separuh penonton berdiri di belakang. Mereka terlihat antusias mengikuti pementasan. Salah seorang pemain membacakan riwayat Cupak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Lampu padam karena &lt;i&gt;korsleting. &lt;/i&gt;Pementasan berjalan terus. Lampu neon gedung dinyalakan. Di sini terlihat kekuatan pemain Cupak Tanah sebagai seniman tradisi. Terlatih spontanitas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Cupak (Nengah Wijana) tengah tiduran dengan kaki bersilang di atas level. Sembilan pemain berjejer di sekeliling Cupak. Mereka berusaha membangunkan Cupak yang sedang terlelap. Cupak bangun dengan perlahan. Mereka mulai berdialog tentang rakyat yang sudah mulai habis memiliki tanah tempat mereka hidup. Mengingatkan penonton pada tragedi lumpur Lapindo yang tak begitu jauh dari kampus IAIN Surabaya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Humor seringkali hadir di atas pentas membalut narasi yang sarat kritik. Sehingga pementasan tidak terlalu membuat kening kita berkerut. Humor muncul dalam bentuk teks maupun bahasa tubuh. Pementasan malam itu seakan mengingatkan akan kebiasaan pemimpin di negeri kita yang mudah lupa—lupa pada tragedi lumpur Lapindo, hutan tropis &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt; yang mulai habis, tambang emas Freeportyang tak juga membuat masyarakat Papua sejahtera. Malam itu Milan Kundera seakan hadir menyampaikan pesan bahwa, “Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Mereka memasukkan isu-isu lokal agar pementasan malam itu lebih mengena pada penonton misalnya soal pemilihan Gubernur Jatim yang memang mulai menghangat, namun tak semuanya tepat seperti ungkapan, “Harga tanah paling mahal adalah tanah Balaikota di Jalan Pahlawan”. Letak Balaikota Surabaya di dekat Jalan Walikota Mustajab, sementara di jalan Pahlawan adalah kantor Gubernur Jawa Timur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Deddy Obeng salah satu penonton memberikan komentar bahwa pementasan Cupak Tanah menarik dari sisi vitalitas dan eksplorasi bahasa tubuh, juga spontantitas pemain misalnya ketika lampu padam, terjatuh karena tanah becek di panggung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Secara pribadi saya tertarik dengan pementasan Cupak Tanah karena Kampoeng Seni Banyoening memadukan spirit tradisi (mengingatkan pada pementasan ludruk Karya Budaya di Mojokerto) dengan semangat modern lewat sosok Putu Satria Kusuma. Dalam diskusi seusai pentas, Putu Satria Kusuma mengaku telah membaca literatur Teater Miskin (Grotowski), Teater Realis (Stanislavsky).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Tepat pukul 21.15 wib pementasan berakhir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;**&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Diskusi dimulai pukul 21.25 wib dengan narasumber Drs Hardiman, M.Si (Dosen Seni Rupa Universitas Pendidikan Singaraja(Undiksha), Kurniasih Zaitun, S.Sn (dosen teater STSI Padangpanjang), Putu Satria Kusuma (sutradara Cupak Tanah), moderator Anwar Sobary (Teater Pancar).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Suasana diskusi berjalan serius namun santai diikuti sekitar 100 peserta. Sebagian besar pertanyaan berkutat pada istilah teater tradisi dan modern. Hardiman menjelaskan perkembangan teater di &lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt; dan posisi Kampoeng Seni Banyoening (nama ini diberikan oleh penyair Umbu Landu Paranggi) sebagai sebuah kampung seni. Dalam bagian lainHardiman menjelaskan sosok Putu Satria Kusuma sebagai warga Kampoeng Seni Banyoening namun terpengaruh juga dengan kehidupan teater di luar kampung seni. Kurniasih Zaitun merasa terkesan dengan penampilan Cupak Tanah di mana spirit tradisi begitu kental. Putu Satria Kusuma menjelaskan pemilihan bentuk setting yang berbeda dari dua tempat sebelumnya—Celah celah langit (&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;) dan ISI (&lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;). Sebagai penutup Halim HD menjelaskan ada baiknya peserta diskusi tidak terlalu mempersoalkan istilah tradisi dan modern tetapi lebih melihat pada vitalitas tubuh aktor dan tema yang diusung malam itu bahwa tanah bukan hanya persoalan tempat tinggal tetapi hidup mati. Diskusi berakhir pukul 22.30 wib.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Banyaknya penonton malam itu semoga menunjukan indikasi segmentasi penonton seni di &lt;st1:city st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:city&gt; sudah mulai terbentuk mengingat pada saat yang sama &lt;st1:place st="on"&gt;Taman&lt;/st1:place&gt; Budaya Jatim sedang menyelenggarakan Festival Cak Durasim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Selamat dan sukses untuk pementasan Cupak Tanah Sanggar Kampoeng Seni Banyoening. (&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Abdul Malik&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  Dimuat di www.kelolaarts.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-8056848774132633736?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/8056848774132633736/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=8056848774132633736' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/8056848774132633736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/8056848774132633736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/11/cupak-tanah-spirit-tradisi-dan-semangat.html' title='Cupak Tanah: Spirit Tradisi dan Semangat Modern'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-7497635444874621737</id><published>2007-11-18T19:57:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T19:59:05.355-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit'/><title type='text'>Yayasan Peduli Mojopahit</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Arial;"&gt;Minggu, 04 Nov 2007,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;Ungkap Peradaban Yang Pernah Jaya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Sejarah mencatat, kejayaan Kerajaan Majapahit tak hanya mampu menyatukan kerajaan-kerajaan di Nusantara, tapi juga kesohorannya ketika membuat Madagaskar bertekuk lutut. Namun, itu semua tinggal cerita. Wujud Kerajaan Majapahit hingga kini masih dicari melalui berbagai situs maupun relief peninggalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang melatarbelakangi dideklarasikannya Yayasan Peduli Mojopahit yang dipelopori Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luluk Sumiarso, tadi malam. Deklarasi yang dihelat di Hotel Majapihit itu dihadiri para tokoh, budayawan, arkeolog, maupun akademisi. Mantan gubernur Jawa Timur H.M. Noer adalah salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luluk bersama para tokoh yang memiliki kepedulian terhadap Kerajaan Majapahit ingin mengungkap peradaban dan merekonstruksi keberadaan kerajaan tersebut. Mereka yang ikut membidani lahirnya yayasan tersebut antara lain, Prof Budi Santoso, arkeolog dari Universitas Indonesia (UI) dan Jendral Wijoyo Suyono (mantan Dirjen Kebudayaan dan juga seorang arkelolog). Deklarasi dan sarasehan Yayasan Peduli Mojopahit itu dikupas bersama Luluk Sumiarso, Chairman/CEO Jawa Pos Group Dahlan Iskan (wakil ketua), Prof Budi Santoso, Wijoyo Suyono, Langit Krisna Hariyadi (penulis buku Gajah Mada), dan Widorini (pengusaha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibuka Dahlan Iskan, ajang tersebut ingin mengumpulkan pikiran maupun sumbangan ide dari berbagai pihak. "Saat ini hanya ada situs-situs dan berbagai uraian dari buku Negarakertagama. Karena itu, malam ini menjadi momen untuk bertukar pikiran," ujar Luluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya arah pengkajian dan penelusuran sejarah yang dilakukan benar, di belakang yayasan ini telah berdiri ahli-ahli arkeolog yang siap mengawal. "Supaya apa yang kami kaji tidak melenceng dari hal-hal ilmiah," jelas pria penggemar lagu-lagu Campursari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yayasan ini juga terbuka dan mengajak semua pihak yang memiliki kepedulian terhadap Kerajaan Majapahit untuk bergabung. Budi Santoso menambahkan, selain merekontruksi Kerajaan Majapahit, yang penting dalam pengkajian itu adalah inspirasi yang diperoleh. "Baik dari segi arsitektur, teknologi, maupun peruntukannya untuk apa?" ujarnya. Sebab, apapaun, sejarah telah membuktikan bila &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; pernah berjaya. "Maka, sejatinya kita pun bisa meraih kejayaan itu kembali," ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam deklarasi itu juga dipampang berbagai sejarah yang berkaitan dengan Majapahit. Di antaranya, silsilah raja-raja Tumapel-Singosari-Majapahit, rekaan perspektif tepi sungai pada masa Majapahit, maupun rekaan persepktif permukiman pada masa Majapahit (berdasarkan situs). (kit)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;(Harian Jawa Pos)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-7497635444874621737?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/7497635444874621737/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=7497635444874621737' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/7497635444874621737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/7497635444874621737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/11/yayasan-peduli-mojopahit.html' title='Yayasan Peduli Mojopahit'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-95856811089434450</id><published>2007-11-15T22:33:00.000-08:00</published><updated>2007-11-15T22:35:18.395-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hardjono ws'/><title type='text'>Cerpen: Saat pertunjukan di Candi Bajangratu itu berlangsung, meneteslah air mataku</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;CERPEN HARDJONO WS:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;SAAT PERTUNJUKAN DI CANDI BAJANGRATU ITU BERLANGSUNG, MENETESLAH AIR MATAKU&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pagi itu aku akan melihat sebuah tontonan di Bajngratu,candi yang berdiri megah ini menjadi saksi bahwa negeri ini pernah menjadi negeri besar dan ternama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Ratusan tahun candi ini berdiri dan telah mengalami perbaikan supaya tidak roboh. Berdiri di atas pelataran yang ditata rapi, menyapa pengunjung dengan kesepiannya sendiri dan tidak bisa berkata apa apa meski mampu menjadi saksi bisu tentang sejarah negeri ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aneh, pagi itu menjadi lain.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Umbul umbul sebagai kebesaran negeri ini masa lampau berkelebatan ditiup angin. Mobat mabit amat anggunnya. Berwarna warni merah, kuning, hitam dan putih sebagai lambang hidup diri manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Warnapun bagi nenek moyang kita dulu amat berarti untuk mawas diri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Pemain musik telah menempati tempatnya masing masing, dan amat sederhana. Tidak seperti pementasan pementasan yang harus diiringi gamelan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Gender, gong dan kendang mulai terdengar pelan. Makin lama makin keras dan tiba tiba berhenti ketika kendang menyentak kemudian ditimpali suara gender amat nyaring. Nikmat terdengar. Dari arah candi muncul arak arakan dengan segala kebesarannya meski tidak mewah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Seorang anak muda duduk di atas tandu sementara tembangpun muncul diantara bunyi gamelan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aneh, suasana candi Bajangratu berubah tiba tiba menjadi semarak seakan candi itu sendiri salah satu dari ratusan penonton yang saat itu menonton pementasan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bajangratu saat itu seakan diam, tetapi menikmati dengan sepenuh hati tontonan pagi itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Setelah arak arakan itu masuk, tiba tiba muncul adegan perang dan seorang narator membaca naskahnya dengan cara dibaca seperti membaca puisi. Sesekali tembang muncul dengan suara khasnya suara pesinden meski yang melakukan masih muda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Tiba tiba air mataku menetes keluar dari pelupuk mata. Aku ingat anakku Ganang beberapa tahun yang lalu pergi ke kota lain setelah membawa kekecewaan yang amat berat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Masih ingat bagaimana ia menangis berkepanjangan agar diijinkan untuk mengikuti kegiatan semacam itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Aku kan tidak melupakan tugas tugas utamaku sebagai anak sekolah. Nilai di rapot kan tidak pernah jelek,” kata nya meyakinkan diri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pikiranku hanya satu kepada bapaknya yang sejak awal kurang senang kalau Ganang mengikuti kegiatan kesenian di sekolahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ayahnya amat sayang kepada satu satunya anak semata wayang itu. Mengapa mengikuti kegiatan teater tidak mengikuti tari atau menyanyi saja ? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Teater itu bagian pendidikan di sekolah pak dan itu bukan merupakan tujuan bagi anak anak. Proses menjadi manusia pak,” katanya lagi saat berhadapan dengan ayahnya di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gandok depan rumah menirukan kata kata pelatihnya yang kebetulan juga gurunya sendiri. Aku terhenyak sejenak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Pokoknya kau harus berhenti dari kegiatan itu kalau kau mau meneruskan sekolah,” kata ayahnya keras.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tak ada yang diucapkan Ganang saat itu kecuali menangis dan langsung masuk kamarnya. Tak mampu melakukan perlawanan terhadap keputusan ayahnya, dan aku hanya bisa diam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Tiba tiba terdengar suara tepuk tangan amat meriah, dan tontonan di pelataran candi itupun usailah. Semua penonton memberi selamat berjabat tangan dengan para pemain termasuk kepada Ganang sutradaranya sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Air mataku tak dapat kubendung lagi, dan aku sendirilah yang tahu arti air mata itu. Terharu dan tersadar dengan apa yang baru kunikmati pagi itu. Aku menangis pagi itu. Candi Bajangratu tetap diam dengan gagahnya. Yang kulihat tidak hanya saja candi perkasa ini, tetapi seakan ikut mengucapkan selamat kepada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;para pemain dan kepada anakku yang saat itu tak mampu menolak pelukan candi dengan hangat seakan berbisik :”Selamat dan terimakasih Ganang” Aku hari ini banyak dikunjungi anak cucuku dengan penuh suka cita.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Aku memandang dari jauh, seakan ikut melihat dan mendengar candi bajangratu bercerita tentang dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Menurut ceritanya Bajangratu ini lebih tepat kalau tidak disebut candi, tetapi sebagai pura atau gapura. Ini kalau dilihat dari bentuknya. Hanya sebagai bangunan untuk lewat dari sebuah temapt ke tempat lain, melewati tangga yang naik dan turun, bentuk paduraksa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sejarah juga telah menulis dengan ragu ragu tentang keberadaannya dan fungsi candi ini. Sebagai peringatan tentang pemerintahan sang raja jayanegara atau tempat abu raja itu sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Sebagai seorang penonton yang cukup senang menikmati tontonan yang menarik ingin rasanya aku lari dan memberi selamat kepada seluruh pemain terutama kepada Ganang anakku sendiri, tetapi aku malu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Yang kulakukan hanya kubiarkan air mataku mengalir deras dan sesekali kupejet hidungku karena air hidung akhirnya tak mau mengalah ingin menunjukkan keharuanku juga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Pikiranku meloncat amat jauh menembus ruang dan waktu yang amat panjang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Semenjak larangan ayahnya tak dapat dibantah lagi, akhirnya Ganang menjadi anak pendiam. Tak ingin mengikuti kegiatan apa apa di sekolah. Ganang menjadi pemurung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku tahu itu semua, tetapi aku tak mampu melawan, sampai ayahnya mendapat tugas di tempat yang masih sering terjadi perang saudara di negeri sendiri. Ayahnya harus berjuang memadamkan pemberontakan di daerah Timor Timor yang akhirnya harus pulang hanya nama saja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kematian ayah makin membuat Ganang semakin murung seakan tak ada lagi semangat untuk hidup.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Hari-harinya hanya diisi dengan sekolah sebagai kewajiban saja bukan sebagai suatu hal yang membuat seseorang makin perkasa dan semangat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Nilai rapotnya selalu pas pasan dan benar benar membuat Ganang tidak memiliki gairah sama sekali.Sampai suatu ketika ia bertemu lagi dengan pak Bagas pelatih keseniannya dulu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;“Tidak pak, aku sudah mati dan aku tak tahu harus melanjutkan ke mana nanntinya,apalagi ibu kan hidup sendiri.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;“Kenapa tidak dendam?” tanya pak Bagas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;“Kepada siapa ?” Ganang balik bertanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;“Kepada ayahmu sendiri?” pancing pak Bagas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;“Kepada ayahku?” tanya ganang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;“Ya.Tahu bentuknya dendam itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;“Nggak pak” jawab Ganang tegas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;“Dendam tidak mesti selalu jelek.sekarang yakinkan pada orang tuamu apa yang kaulakukan amat baik dan bisa berguna untuk orang lain. Ganang dulu kan dilarang untuk kegiatan kesenian karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sayang berkelebihan dari ayahmu. Sekarang ayahmu sudah tidak ada.Yang melarang dan berkuasa tidak ada. Mengapa tidak kau teruskan lagi impianmu dulu sampai menjadi kenyataan?’&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ganang diam,berpikir agak lama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Hidup ini milikmu Ganang,bukan milik siapa siapa.Tergantung pada dirimu sendiri tentang pada dirimu sendiri tentang hidup ini. Kau buat apa hidupmu ini.Semua ini tergantung padamu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Mau kau buat baik atau jelek, semua ini tergantung pada dirimu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ganang makin diam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Kau buat untuk merenung terus tanpa dendam yang positip?Tak ada yang bisa kaulahirkan dari pekerjaan merenung terus.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku tersadar,bangku bangku tempat penonton sudah mulai kosong.Seorang demi seorang sudah mulai pulang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kulihat para pemain dan Ganang masih dikerumuni penonton malah beberapa wartawan sedang mewawancarai.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Untuk yang kesekian kalinya aku menangis, air mataku menetes tetapi tidak sederas seperti tadi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Angin semilir datang menerpa tubuhku terasa sedikit segar meski matahari sudah merangkak sejak tadi tetapi belum sampai di pertengahan langit atas Bajangratu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Candi megah yang terletak didesa Dukuh Kraton Kecamatan Trowulan pagi itu benar benar tampak semarak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Biasanya sepi,tetapi pagi itu tampak semarak dan gairah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mobil wisata atau disebut mobil kereta dengan warna warni yang semarak tampak berderet di tepi jalan. Begitu juga mobil mobil pribadi juga berderet di tempat yang sudah tersedia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Candi bajangratu tampak makin anggun seakan ikut mengantar tamu sampai di pagar kawasan candi.dengan latar belakang pelataran yang ditumbuhi rumpaut dan pepohonan yang rimbun, candi ini makin anggun dan asri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Candi ini pernah direnovasi agar tak roboh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Di bagian dalam candi ditahan dengan besi yang cukup kuat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sayang cara pengerjaannya sedikit kasar,sehingga besi itu sedikit menampakkan ketidakasliaan candi ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Ayo bude ke mas Ganang,”ajak ponakanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Nanti saja.Kau saja yang ke sana,”jawabku menutupi rasa malu sekaligus kebanggaan yang tak mungkin kusembunyikan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Setelah ayahnya gugur di medan perang,Ganang memaksaku untuk mengijinkan melanjutkan studinya di bidang kesenian dan satu satunya kota yang dituju adalah Jogjakarta, karena di kota ini juga ada kakak ayahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Ganang tak bisa dicegah, dan apa yang dilakukan saat pulang menjengukku adalah permohonan maafnya sekaligus doa restu dariku untuk meniti hidupnya sesuai pilihannya sendiri bukan pilihan ayahnya atau aku sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Akhirnya aku yang menyerah kalah.kalah tanpa peperangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Ganang ingin melakukan sesuatu untuk kota kelahiranku,”katanya saat pulang ke rumah dengan beberapa temannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Kalau ayah bisa berbuat sesuatu buat bangsa dan negaranya sampai harus gugur di medan perang, aku juga ingin mempersembahkan sesuatu meski hanya untuk sebuah kota,’ katanya dengan keyakinan yang tampaknya tak mungkin mau surut kembali.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Aku dilahirkan di kota yang pernah menjadi sebuah negeri pusat kebudayaan saat itu, ingin rasanya Ganang bercerita kepada siapa saja yang ingin mendengar ceritaku tentang negeri ini sekecil apapun,”katanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku makin percaya ada sesuatu kekuatan dalam dirinya, apalagi setelah berani beberapa tahun tinggal di luar kota kelahirannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Trowulan kota kecil,sebuah kota kecamatan di kawasan kabupaten Mojokerto adalah kota yang menyimpan sejarah besar di negeri ini.Mojopahit yang mengenalkan bendera merah putih, mengumandangkan Bhinneka Tunggal Ika seperti Sumpah Palapa nya Patih Gajamada. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jauh sebelum negeri ini memiliki Sumpah Pemuda tahun 1928, Gajah Mada sudah menyampaikan Sumpah Palapa.Tak akan tidur nyenyak sebelum Nusantara ini menjadi sebuah kawasan yang bersatu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Trowulan inilah yang menjadi obsesi Ganang untuk berbuat sesuatu bagi kotanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Membangunkan candi yang tidur panjang dengan rambutnya yang rapi dan bersih.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Menggeliat bangun menyampaikan salam dan senyumnya yang hangat kepada pewaris bangsa ini lewat pertunjukkan keseniannya.sejak aku masih kecil sampai menjadi guru, aku beberapa kali melihat candi ini, tak pernah berubah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bagaimana aku bersama temanku melihat candi candi di Trowulan dengan perasaan senang hanya karena bisa bepergian bersama sama teman sekelas.Guru pun tak pernah memberikan cerita yang bisa kuingat sampai sekarang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku senang tetapi terasa hambar karena tak mendapat apa apa.Begitu juga saat aku menjadi guru dan bisa mengajak murid muridku melihat candi bajangratu ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kebahagiaanku hanya satu bisa menyenangkan hati murid murid bisa menikmati warisan nenek moyang kita.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saat aku menjadi murid sampai menjadi guru, candi ini tak pernah ada perubahan sama sekali.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Asri,tetapi sepi dan lengang seakan tak ada kehidupan kecuali menikmati onggokan batu yang tersusun rapi,kuat dan indah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Hari itu aku bisa merasakan bagaimana candi itu merasa amat bahagia karena merasa hidup kembali.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku bahagia dan tiba tiba air mataku menetes lagi, karena aku yakin ayah Ganang saat melihat dari sana jauh dan amat jauh pasti kebahagiaan yang muncul dan pasti permintaan maaf akan disampaikan kepada anakku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Seperti apa yang dimainkan para pemain, kisahnya tidak jauh dari sejarah candi itu sendiri sehingga para penonton bisa mengerti sejarahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Layaknya seorang guru berserita tentang setangkai kembang, di tangan kannya telah tersedia kembang yang diceritakan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bajang artinya kecil.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ratu artinya raja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Raja yang memerintah Mojopahit setelah R.Wijaya adalah anaknya sendiri Raden Jayanegara.Ia diangkat menjadi raja ketika masih kecil.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pemerintahan tak bisa tenang dan damai.Di mana mana perang saudara terjadi karena kurang puas dengan kebijakaksanaan sang raja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Muncul pemberontakan pemberontakan Ra Kuti,Ronggolawe dan lain lainnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jayanegara tak mapu memadamkan pemberontakan itu dan akhirnya mangkat karena ulah sahabat terdekatnya: Tanca.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Untuk memperingati wafatnya raja yang masih kecil itulah Bajangratu itu dibangun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Diperkirakan Bajangratu didirikan antara Abad XIII dan awal Abad XIV karena raja Jayanegara wafat pada tahun 1328 [strata dhinar meng kappongan,bhiseka ringesrenggapura pratista ring antawulan] ini tertulis pada Pararaton.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pigeud yang menerjemahkan Negara Kertagama menceritakan bhawa sang raja wafat tahun 1328 dan didharmakan di dalam kedaton. Arcanya dalam bentuk Wisnnu terdapat di Shila Petak dan Bubad.Bubad itu terletak di Trowulan sedang Sela Petak yang belum diketahui dengan pasti sampai sekarang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Kubaca sekali lagi tembang yang ditulis dalam synopsis serta cuplikan naskah pertunjukan pagi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Hei prajurit kang angesti&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Aja cidra neng negaramu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Andepani tanah wutah ludira&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Anatepi sumpahira…..&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Para dewa di atas langit&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Dengarkan sumpahku ini&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Aku tak memiliki ibu dan bapak&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Ibu bapakku adalah tempat ajalku kelak&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Tempat aku lahir dan mengenyam nikmat&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Para dewa di dalam bumi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Dengarkan sumpahku ini&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Aku tak punya anggota badan lagi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Anggota badanku adalah bakti pada pertiwi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Anggota badanku adalah cinta pada negeri&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mereka adalah alat alat yang tak mampu berkata tidak saat sang raja para penguasa memerintah lewat mulutnya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mereka hanya mapu berkata daulat tuanku raja&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Perang terjadi dimana mana banjir darah menggenang dimana mana&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Air mataku menetes lagi satu satu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Yang lewat dan singgah di pikiran dan batinku adalah bayangan ayah si Ganang saat bertugas di daerah pertikaian&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;di negeri ini:Timor Timur.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dia hanyalah alat yang tak mapu berkata tidak saat sang raja para penguasa memerintah lewat mulutnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ia harus bertugas menumpas para pemberontak.Ia gugur di medan perang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ia tak punya anggota badan lagi.anggota badannya hanya baktinya kepada negeri ini.Anggota badannya hanya cinta pada negeri ini sampai ia harus mati meninggalkan keluarganya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Memang sebagai seorang prajurit sejati ia wajib memiliki semboyan yang ditulis Ganang anaknya sendiri.Anaknya yang tak pernah diperbolehkan memasuki dunia seni.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sampai pada saat pamit hendak pergi ke tempat tugas,pesan yang disampaikan tetap tak berubah:”tolong Ganang,jangan diperbolehkan menerskan kegiatannya.Sebuah tempat telah kusiapkan untuk hidupnya supaya baik untuk masa depannya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Aku tersadar saat seseorang mencari cariku mendekat dan mengajak segera ke tempat para pemain karena Ganang sudah lama menungguku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku segera menuju para pemain yang masih sibuk untuk mengemasi pakaian dan bersiap untuk pulang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pada wajah wajah mereka tampak kebahagiaan yang pasti orang lain tak mampu merasakan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Berjabat tangan dan saling mengucapkan selamat sekan mereka telah menyelesaikan tugas yang amat besar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Aku tak bisa menyembunyikan perasaanku sendiri.dan aku tak mengerti perasaan apa yang muncul saat itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Terharu,malu,bahagia,bercampur aduk menjadi satu.sementara seorang penonton tiba tiba datang dan memberi selamat kepadaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Selamat bu,putranya telah berhasil.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tangan itu terus kugenggam erat sebab yang muncul dalam pikiranku malah muncul hanya satu:malu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Kenapa bu?” tanyanya dengan heran.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;“ Tidak apa apa,” jawabku agak berat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;“Mas Ganang berhasil membangunkan candi yang sudah ratusan tahun menikmati tidur panjangnya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku makin terpuruk mendengar pujian itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku ingin menangis keras keras,karena merasa tak kuat menahan perasaan malu yang makin lama makin bertumpuk.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Ganang muncul dan dan aku tak ingin ia yang menjabat tanganku lebih dahulu.Kusambut tangannya dengan mesra,jabatan tangan seorang ibu yang menumpahkan segala perasaan tentang rasa terharu,malu,bahagia dan bersalah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bergejolak perasaan itu bergumpal gumpal menyesakkan dada salaing tindih persaan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saling bergumul dan saling mencabik membuat nafasku makin sesak, dan satu satunya jalan hanyalah sebuah pelukan dan air mata kubiarkan deras sederas perasaanku padanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Kupeluk erat erat bahu Ganang,tak ingin kulepaskan sebelum aku selesai mengucapkan segala perasaan dan rasa bersalahku meski itu hanya bisa kuucapkan dalam hati.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Setelah puas kulepaskan pelukanku,tetapi mataku tak mampu memandang arah lain.Kupandang anakku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Yang kulihat adalah seorang laki laki gagah tak ubahnya bapaknya sendiri yang sekarang pasti berada di sana jauh di sana.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku yakin ia memandangku berdua di altar candi bajangratu yang menjadi saksi pertemuan batin antara ibu dan seorang anak laki lakinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Kenapa?” tanya Ganang dengan pandangan aneh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Bapakmu lahir kembali di tempat ini Ganang,”kataku bangga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Lain Bu,bapak gagah di sana, Ganang gagah di sini,”katanya dengan enak,seenak hidupnya yang telah dimiliki dengan cara dan pilihannya sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku lebih bangga lagi mendengar kata kata itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Kugandeng Ganang dan benar,aku telah dipertemukan lagi dengan suamiku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang sudah almarhum, anakku sendiri di candi Bajangratu ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kedua duany adalah laki laki yang gagah dan kucintai.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kupamdang sekali lagi wajahnya saat meninggalkan kawasan candi dan sempat berkata meski hanya dalam batin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Benar Ganang, bapakmu gagah di sana, engkau gagah di sini.” Diam diam candi Bajangratu mengantarkan kepergian kami dengan gagahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sebentar lagi suasana kembali sepi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[Jatidukuh,2004]&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-95856811089434450?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/95856811089434450/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=95856811089434450' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/95856811089434450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/95856811089434450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/11/cerpen-saat-pertunjukan-di-candi.html' title='Cerpen: Saat pertunjukan di Candi Bajangratu itu berlangsung, meneteslah air mataku'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-820762698655428159</id><published>2007-11-15T22:30:00.000-08:00</published><updated>2007-11-15T22:32:38.606-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hardjono ws'/><title type='text'>Cerpen: Dialog imajiner dengan dua putri</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;CERPEN KARYA HARDJONO WS:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;DIALOG IMAJINER DENGAN DUA ORANG PUTRI&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kususuri jalan kecil menuju sebuah tempat peristirahatan dua orang putri yang pernah terpatri dalam batinku dan sampai sekarang tak bisa kulupakan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Sebenarnya tukang ojek yang mengantarku ke kawasan candi candi di trowulan ini akan dibawa ke komplek makam panjang Troloyo,tetapi aku ingin menjenguk lebih dulu makam dua putri Mojopahit ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dua orang putri yang pernah kudengar tentang kecantikan dan kewibawaan semasa hidupnya. Dewi Anjasmara dan putri Kencono Wungu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Rerumputan dan ilalang menyambut kedatanganku dengan ramah.Helai demi helai daunnya berkelebat kecil kecil karena hembusan angin pagi.Segar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku tak percaya sebuah legenda tentang dua orang perempuan di kerajaan atau negeri besar Mojopahit ini akhirnya harus menikmati tidur panjangnya bersama sama, berkumpul menjadi satu dengan kuburan rakyat setempat meskipun berdekatan dengan makam panjang kompleks Troloyo.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Mojopahit yang pernah mengirimkan puluhan perahu layarnya menuju negeri negeri luar untuk bercerita bahwa negeri ini adalah sebuah negeri yang patut didatangi untuk menimba ilmu tentang hidup dan kehidupan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kuburan yang tersisih dan berada di luar kompleks Troloyo yang dibangun megah ini makin tambah sepi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Aku terus berjalan menyusuri jaln kecil dan kujmpai bangunan yang tampaknya tertutup rapat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Selamat pagi sang putri dan sang dewi,” kataku dalam hati saat melihat bangunan sederhana ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kubuka sepatu dan kaos kakiku dan segera duduk di terasnya.Dingin dan terasa teduh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bunga bunga kembang kamboja tampak berserakan di tanah pekuburan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tiba tiba muncul perasaan ibaku menahan keharuan yang amat dalam,seakan tak percaya ini adalah tempat peristirahatan dua orang putri yang pernah menghias negeri ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Negeri kecil yang pernah mampu menyatukan kawasan Nusantara ini menjadi sebuah kesatuan dengan Bhinneka Tunggal Ika nya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Mengapa kalian harus tidur di tempat ini sang putri?” dan pertanyaan ini yang membuat pikiranku melayang layang entah singgah ke mana saja yang akhirnya berhenti di sebuah kerajaan yang terkenal dengan sebutan Mojopahit.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ratusan tahun telah lewat, meskipun hanya puluhan tahun yang lewat dua putri tidur pulas ini pernah dihidupkan oleh seorang guruku saat aku masih duduk di sekolah rakyat atau sekolah dasar kalau istilha sekarang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aneh, tiba tiba pak Niti guruku muncul didepanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ia menyapaku dengan senyuman dan akupun menganggukan kepalaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Dengan pakaian rapi sebagai seorang guru saat itu, ia melihatku tajam tajam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Selamat pagi pak Niti,”kataku menegur dengn sopan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Selamat pagi juga,” katanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ia lupa denganku,terlalu lama waktu yang membatasinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Setelah ingat,betapa senangnya ia bisa bercerita denganku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku adalah salah seorang muridnya yang senang nembang dan belajar sejarah, sementara pak Niti sendiri pemain ketoprak yang sering main di gedung nasional di kotaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“nanti malam nonton ketoprak,lakonnya Damarwulan ngarit,” katanya saat itu menyruh murid muridnya nonton ketoprak dan kebetulan dia sendiri yang menjadi tokohnya : Damarwulan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Diantara penonton itu aku sendiri menjadi penonton yang masih kecil, dan cerita Damarwulan ngarit ini adalah sebuah cerita yang amat menarik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Biasa, guru yang mempunyai keistimewaan saat itu, aneh aneh perangainya termasuk pak Niti ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Anak anak biasanya paling tidak senang kepada pak Niti ini kalau saat ulangan hukumannya akan disesuaikan dengan jumlah salahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kalau anak laki laki bersalah ia harus menunjukkan jumlah salahnya dengan jumlah jari tangang. Salah empat, berarti empat jari jarinya harus diacungkan ke atas dan langsung mendapat pukulan penggaris empat kali.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kalu anak perempuan salah empat maka cubitan pak Niti pun mendarat.Kalu tidk di ketiaknya ya di dekat paha mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tertawa sendiri karena ingatan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Kenapa kau tertawa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku tidak menjawab, siapa tahu hukumanku akan lebih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berat kalau bercerita tentang itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku menggumam dalam tembang yang kuingat sepenggal.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Sun iki dutane nata&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;prabu kenya Mojopahit&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;asmane damarsasangka atma mantune ki patih…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;“Masih ingat dengan tembang itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;“Sedikit pak, lupa seluruhnya,”jawabku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tampak tersenyum pak Niti mendengar tembngku tadi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tembang bagi pak niti di sekolah saat itu merupakan pelajaran wajib.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Anak yang senag dan pinter nembang lebih mendapat perhatian darinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kasihan akhirnya pak Niti ini. Matinya tertimpa patahan pohon saat berteduh di bawahnya karena hujan deras mengguyur di kotaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Kau masih ingat tentang tembang tadi?” tanyanya lagi.Tak kujawab, hany akepalau saja yang mengangguk.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kisah atau cerita yang paling disenangi anak anak saat itu, dan tak kubayangkan baru kali ini aku bisa bertemu dengan tokoh dalam tembang dan legenda itu meskipun sudah berebentu kuburan dan batu nisan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Damarwulan sang tokoh dalam kisah ini harus hidup dengan prihatin&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepada pamannya sendiri yang kebetulan menjadi patih di kerajaan Mojopahit.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pamannya yang bernama patih logender ini memiliki tiga putra masing masing Layang Seto, Layang Kumitir dan gadis yang amat cantik Anjasmara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Dikisahkan bagaimana beratnya pekerjaan damarwulan di kepatihan pamannya sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ia bekerja sebagai seorang perawat kuda milik patih Logender dan kedua anak laki lakinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Setiap hari mencari rumput dan membersihkan kandang serta merawat kuda kuda supaya tetap sehat dan gagah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pekerjaan semacam ini sama sekali tak memberatkan diri damarwulan,tetapi karena Anjasmara kehidupan damarwulan mulai terancam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Diam diam Anjasmara mencintai Damarwulan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Pekerjaan berat dan kotor serta tempat tidurnya juga tidak di kepatihan, tetapi di sebuah rumah kecil yang tak jauh berbeda dengan kandang kuda itu sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sebagai sebuah jalan atau cara menuju hidup bahagia kelaknya harus dilewatinya semacam itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ini adalah puasa bagi orang yang ingin mendapatkan hari raya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dan ujian berat bagi Damarwulan adalah perempuan cantik putri sang patih, dewi Anjasmara sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dalam waktu senggang secara sembunyi sembunyi dewi Anjasmara selalu berusaha untuk menemui Damarwulan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Oh alngkah indahnya kisah kasih cinta mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Meski demikian Damarwulan tak pernah mau meladeni kisah cinta ini walau tidak juga disebut cinta bertepuk sebelah tangan.Ini ujian berat bagi Damarwulan sebagai seorang satria khususnya buat orang Jawa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Ini yang membuatku makin mencintai dia,” kata dewi Anjasmara tiba tiba bangn entah darimana datangnya.Aku melihatnya dengan takjub melihat kecantikan sang dewi ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pelan pelan putri Kencono Wungu pun ikut bangun dari tidur panjang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Cantik dan anggun dengan segalan pakaian kebesarannya,pakaian raja Mojopahit.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Selamat datang ke tempat kami,” kata mereka berdua amat berwibawa tak jauh berbeda dengan dewi Ratih dan dewi Sumbadra.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Terima kasih,” jawabku dengan hormat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kutoleh tampak pak Niti sudah tidak ada entah pergi ke mana.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Belum sempat kuucapkan terima kasihku, tetapi sudah pergi dengan cepat tanpa pamit sepatah kata pun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Aku bertiga di tempat itu, tempat yang kulihat makin lama makin agung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sebenarnya aku takut,tetapi kuberanikan diri, apalagi kedua putri ini adalah sosok yang amat saling menghargai sehingga sampai menikmati tidur panjangpun mereka tetap tak ingin dipisahkan.tetap menjadi satu tempat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Teruskan ceritamu seperti apa yang pernah kaudengar di sekolahmu dulu atau buku yang sempat kau baca.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Teruskan,” katanya sambil duduk di kursi kebesarannya.Berdua mereka duduk, tak kulihat satria yang mereka cintai: Damarwulan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dengan penuh perhatina seringkali dewi Anjasmara memberi makanan ataupun kue masakannya sendiri yang khusus diberikan pada Damarwulan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dalam persoalan ini Damarwulan tak pernah menolaknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dalam persoalan lain damarwulan masih tetap bisa menahan hawa nafsunya.Cinta mereka lalui dengan saling menyayangi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Akhirnya percintaan mereka yang agung dan suci ini terbau juga oleh kedua kakaknya Layang Seto dan Layang Kumitir.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mereka tidak terima kalau adiknya mencintai seorang perawat kuda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Peretengkaran mulut sering terjadi dan tidak jarang terjadi perkelahian.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Benar,kedua kakakku tak pernah merasa malu, meskipun perkelahian itu selalu dimenangkan kakangmas Damarwulan,’kata dewi Anjasmara dengan suara yang masih memiliki sisa sisa kebanggaan terhadp kehebatan Damaewulan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Cinta dewi Anjasmara tetap membara begitu juga dari diri Damarwulan cinta itu mulai bersemi.Patih Logender mulai mencium kisah kasih putrinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dengan segala daya berusaha untuk merenggangkan benih cinta mereka berdua.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Anjasmara adalah laut dan Damarwuln adalah gelombangnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Damarwulan adalah api dan Anjasmara adalah baranya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Saat itu negeri Mojopahit mendapat percobaan berat .Pemberontakan pemberontakan mulai muncul seperti Ra Kuti,Ronggolawe begitu juga sang Menakjnggo bupati Banyuwangi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Oleh sang patih Logender Damarwulan didaftarkan menjadi hulubalang kerajaan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Benar kisah itu dan Damarwulan salah seorang calon yang berhasil menjadi hulubalang yang paling gagah dan tampan,” kata sang putri Kencono Wungu sambil melirik dewi Anjasmara dengan amat cantik, begitu juga anggunnya.Kecantikannya tidak saja keluar dari air mukanya, tetapi dari dalam batinnya muncul kecantikan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Malah sekalian aku membuat sayembara kepada siapa saja yang bisa mengalahkan bupati Menakjinggo dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Banyuwangi itu akan kujadikan raja sekaligus menjadi pendamping hidupku,” katanya dengan lembut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Nyuwun sewu sang putri, apakah saat itu sang putri tidak tahu kalu sang dewi amat mencintai raden Damarwulan?” tanyaku memberanikan diri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Itulah yang sama sekali tak kumengerti.Setelah aku tahu dan mengerti, aku minta maaf pada adikku yang cantik ini. Aku tidak ingin berkuasa terhadap kakangmas Damarwulan. Adikku menyadari bahwa ini semua karena sumpah atau janji seorang raja yang sering diyakini sebagai sabdo pandhito ratu yang sudah kuucapkan daripada Mojopahit menjadi jajahan adipati Menakjinggo. Sedang aku sendiri juga tak mencintainya,” kata putri Kencono Wungu dengan perasaan yang amat teduh. Sementara dewi Anjasmara memandangnya dengan pandangan yang tak jauh berbeda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kedua perempuan cantik dan anggun ini saling mendekat dan memeluk dengan perasaan cinta yang amat dalam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku memandangnya dengan takjub dua perempuan yang ikhlas dan amat teduh dalam berpikir.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Tahu mengapa kami ingin mati dalam sebuah tempat dan dalam sebuh kuncup, meski tak mungkin kami&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berdua bertempat dalam sebuah lubang atau liang. Dalam sejarahku bersama sang putri kami akhirnya menjadi sepasang saudara yang mencintai kakangmas Damarwulan dan aku berjanji kelak matiku bisa dikuburkan dalam sebuah tempat,” katanya dengan senyumnya yang amat segar sesegar air kelapa muda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dewi Kencono Wungu mendengar dengan perasaan yang amat sayang.Kemudian sang putri berkata lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Kami berdua ingin sekali dikubur dalam sebuah kuncup di tengah tengah anak cucuku yang hidup dan mendiami kawasan Mojopahit, karena aku yakin kelak keturunanku tetap akan menghargai sejarah.kakek nenek kita memang tidak sama, tetapi bukankah nenek moyang kita sam.Ya kan? Kami berdua amat bahagia tinggal di sini.sampaikan salam hangatku kepada siapa saja yang ingin menjengukku kemari. Terserah bagaimana mereka menghargai sejarah nenek moyangnya,”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tiba tiba aku ingat tembang pamitnya damarwulan kepada Anjasmara saat akan pergi ke Banyuwangi untuk berperang melawan Menakjinggo.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Anjasmara ari mami&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;masmirahku..laka warta&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;dasih mutha ulun layon&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;aneng kutho probolinggo….&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ah hanya sepotong yang kuingat,kucoba untuk kuingat tetapi tetap tak ingat.Kuberjanji setelah ini akan aku cari lanjutan tembang itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Akhirnya Damarwulan pergi melawan Menakjinggo ke Banyuwangi.Apa yang dilakukan patih Logender dengan kedua anak laki lakinya Layang seto dan Layang Kumitir?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mereka sepakat untuk menghalangi keberhasilan Damarwulan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Peperangan tak dapat dicegah lagi, dan menurut legenda yang muncul di masyarakat luas, Damarwulan bisa mengalahkan Menakjinggo karena mendapat bantan dua putri Suhita dan Puyengan dengan jalan dipukul dengan gada wesi kuning milik Menakjinggo sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Dalam kisah selanjutnya Damarwulan bisa membawa kepala Menakjinggo, tetapi di tengah perjalanan ia dicegat Layang Seto dan Layang Kumitir.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Damarwulan dikeroyok sampai pingsan dan ketika dianggap sudh mati kepala Menakjinggo dirampas dan langsung dibawa ke Mojopahit diserahkan kepada sang putri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Tidak salah kisah itu memang terjadi demikian dan aku tak percaya dengan apa yang dilaporkan patih Logender tentang keberhasilan kedua anaknya.setelah damarwulan siuman langsung ia menghadapku untuk menceritakan semua peristiwa.Pertengkaran tak bisa diselesaikan akhirnya kuputuskan untuk mengdu mereka,” kata sang putri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Sabdo pendito ratu?” tanyaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;“Ya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Akhirnya terjadi perekelahian antara Damarwulan dan kedua kakak beradik Layang Seto dan Layang Kumitir yang akhirnya dimenangkan oleh Damarwulan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;“Dan baru itlah aku mengerti kalau adikku sudah menunggu kedatangan kakangmas damarwulan dan langsung melakukan perkawinannya, begitu juga dengan aku.kami sebenarnya berdua tetapi hanya satu,” kata putri Kencono Wungu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku mendengar dengan khusyuk kisah romantika dewi Anjasmara dan dewi Kencono Wungu ini. Kisah dua orang dewi bersama seorang satria yang pernah mengisi sejarah negeri ini, sejarah nenek moyang kami.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Kulihat sekali lagi kedua perempuan itu dengan perasaan yang amat mencekam.Kubayangkan betapa kedua putri ini memiliki jiwa yang mat besar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mereka menjadi satu mencintai seorang satria dan itu dilewatinya dengan kehidupan yang amat manis semanis senyumnya. Sampai matipun mereka tetap ingin bersatu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Tiba tiba dengan gerakan yang amat manis putri Kencono Wungu langsung menggandng tangan dewi Anjasmara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Keduanya melemparkan senyumnya kepadaku dengn teramat manis, meningggalkan tempat itu.Makin lama makin menghilang dan kecil lenyap di sebuah tempat yang amat asri. Kuikuti dengan sisa sisa penglihatanku yang masih bisa memandang kemana kedua putri itu berjalan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dengan langkah kakiknya yang amat anggun sementara selendangnya sesekali bergerak karena hembusan ngin silir silir.Kedua putri itu akhirnya naik dan naik smbil sesekli melemparkan senyumnya. Makin juh akhirnya lenyap di atas langit yang berwarna biru entah kemana.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku tersadar sedang duduk bersila diatas teras makam kedua putri itu.Sepi awang uwung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Pekuburan kembali menjadi sepi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tak ada tanda kehidupan keculi pohon kmboja tumbuh amat suburnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Beberapa kuntum bunga bertebarab di atas tanah.Terasa teduh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dengan ojek yang sama aku melanjutkan perjalananku pagi itu untuk menikmati warisan berharga dari nenek moyngku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Warisan itu berupa candi dan peninggalan lain yang bisa menjadi saksi bahwa nenek moyangku pernah manjadikan negeri ini adalah negeri besar dan terhormat, Mojopahit dan Trowulannya. [*]&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-820762698655428159?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/820762698655428159/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=820762698655428159' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/820762698655428159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/820762698655428159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/11/cerpen-dialog-imajiner-dengan-dua-putri.html' title='Cerpen: Dialog imajiner dengan dua putri'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-1601993341257853226</id><published>2007-11-14T20:32:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T13:23:55.991-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='max arifin'/><title type='text'>Perpustakaan Max Arifin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzvNChrBdKI/AAAAAAAAAI4/6htPCU7m5P8/s1600-h/max+arifin%27s+library.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzvNChrBdKI/AAAAAAAAAI4/6htPCU7m5P8/s320/max+arifin%27s+library.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5132921643601065122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-1601993341257853226?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/1601993341257853226/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=1601993341257853226' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/1601993341257853226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/1601993341257853226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/11/perpustakaan-max-arifin.html' title='Perpustakaan Max Arifin'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzvNChrBdKI/AAAAAAAAAI4/6htPCU7m5P8/s72-c/max+arifin%27s+library.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-8819797050913256284</id><published>2007-11-14T19:44:00.000-08:00</published><updated>2007-11-14T19:46:12.904-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ludruk'/><title type='text'>Jadwal ludruk Karya Budaya Mojokerto, Nopember-Desember 2007</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Jadwal pentas ludruk &lt;b&gt;KARYA BUDAYA MOJOKERTO&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;NOPEMBER-DESEMBER 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;@ 8 juta rupiah /tanggapan/ terop&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;2 Nopember, Jumat Pon&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Ngepung, Pungging, Kabupaten Mojokerto&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;3 Nopember, Sabtu Wage&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: Temu Gang I, Prambon, Sidoarjo&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;4 Nopember , Minggu Kliwon : Kecipik/Boteng, Menganti, Gresik&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;5 Nopember, Senin Legi&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Pacing RT1, Bangsal, Kab.Mojokerto&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;6 Nopember, Selasa Pahing&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;:Pathuk, Krian, Sidoarjo&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;7 Nopember, Rebo Pon&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;: Pandansili, Trowulan, Kab. Mojokerto&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;8 Nopember, Kamis Wage&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: Plumpung, Balongbendo, Sidoarjo&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;10 Nopember, Sabtu Legi&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Tenaru, Driyorejo, Gresik&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;11 Nopmebr, Minggu Pahing&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;: Gadel, Tandes, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;17 Nopember, Sabtu Pon&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;: Kebonagung, Porong, Sidoarjo&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;8 Desember 2007: Kemendung, taman,Sidoarjo&lt;br /&gt;17 Desember       Wonoayu,jetis,kab.Mojokerto&lt;br /&gt;22 Desember       Biting,krembong,Sidoarjo&lt;br /&gt;24 Desember        Sawo,sambikerep,Surabaya&lt;br /&gt;25 Desember        Mlirip,jetis,Mojokerto&lt;br /&gt;26 Desember        Batankrajan,gedeg,kab.Mojokerto&lt;br /&gt;27 Desember        Bangkringan,lakarsantri, &lt;span class="yshortcuts"&gt;Surabaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;29 Desember        Cangkir,driyorejo,Gresik&lt;br /&gt;31 Desember        Kebonagung,sukodono,Sidoarjo&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Dengan maraknya ludruk yang diprakarsai oleh TNI dan Polri, tahun 1967 membuat para tokoh masyarakat di Desa Canggu Kecamatan Jetis Mojokerto tergerak hatinya untuk mendirikan organisasi ludruk. Di desa Canggu secara turun temurun sejak jaman penjajahan Belanda selalu berdiri grup ludruk. Maka diamanatkan pada Cak Bantu yang kebetulan anggota Polsek Jetis untuk mendirikan grup ludruk. Tepatnya tanggal &lt;b&gt;29 Mei&lt;/b&gt; &lt;b&gt;1969 &lt;/b&gt;berdirilah ludruk yang diberi nama &lt;b&gt;Karya Budaya&lt;/b&gt; dipimpin oleh Cak Bantu dengan binaan Polsek Jetis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Menjelang pemilu 1971, ludruk Karya Budaya ditanggap Partai Golkar sebagai hiburan kampanye Golkar selama satu bulan berpindah dari desa ke desa. Hal tersebut sangat dimanfaatkan Cak Bantu mempromosikan ludruk Karya Budaya. Dengan keberhasilan pada setiap pementasan membuat ludruk Karya Budaya dikenal masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tahun 1993 Cak Bantu Karya wafat, dan secara aklamasi seluruh anggota memilih putra sulung Cak Bantu Karya memimpin ludruk Karya Budaya yakni  &lt;b&gt;Drs Eko Edy Susanto,&lt;/b&gt; Msi (lebih akrab dipanggil Cak Edi Karya, ludruk Karya Budaya mengalami perkembangan yang bertambah pesat. Merayakan ulang tahun ke-30 pada tanggal 29 Mei 1999, ludruk Karya Budaya resmi menjadi Yayasan Kesenian dengan SK Notaris No.06 melalui akte Notaris Grace Yeanette Pohan, SH.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Informasi:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Drs Eko Edy Susanto,Msi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(Cak Edy Karya)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pimpinan Ludruk Karya Budaya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Dusun Sukodono RT 02 RW 01 Desa Canggu Kecamatan Jetis&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Kabupaten Mojokerto 61310&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Jawa Timur&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;INDONESIA&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Telp 0321- 362847&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;HP 081 231 89 347&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Email:cakedikarya@&lt;a href="http://yahoo.com/" target="_blank"&gt;&lt;span class="yshortcuts"&gt;yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-8819797050913256284?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/8819797050913256284/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=8819797050913256284' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/8819797050913256284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/8819797050913256284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/11/jadwal-ludruk-karya-budaya-mojokerto.html' title='Jadwal ludruk Karya Budaya Mojokerto, Nopember-Desember 2007'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-3276842970970929635</id><published>2007-11-14T02:10:00.000-08:00</published><updated>2007-11-14T02:12:42.000-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit'/><title type='text'>Jadwal Festival Seni Pertunjukkan Majapahit 2007</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Jadwal Festival Seni Pertunjukkan Majapahit 2007.&lt;br /&gt;14 Nov - 15 Nov 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari            : Rabu&lt;br /&gt;Tgl              : 14 November 2007&lt;br /&gt;pukul          : 14.00 WIB - 15.00 WIB&lt;br /&gt;Tempat       : Halaman Parkir Pendopo Agung Trowulan Mojokerto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergelaran   :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Hari Rabu Tgl 14 Nov '07 pukul 15.00 WIB - Selesai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ludruk Arek dari Ngembat Kec. Gondang, Mojokerto&lt;br /&gt;2. Bantengan dari Padi Kec. Gondang, Mojokerto&lt;br /&gt;3. Ketoprak dari SMUN 1 Puri Kec. Puri, Mojokerto&lt;br /&gt;4. Wayang Beling dari SMPN 1 Sooko Kec. Sooko, Mojokerto&lt;br /&gt;5. Musik Mbaljigong dari Dewan Kesenian Kota Mojokerto&lt;br /&gt;6. Ludruk Komunitas dari Jati Sumber Kec. Trowulan, Mojokerto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Hari Kamis Tgl 15 Nov '07 Pukul 19.00 WIB - Selesai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bantengan dari Claket Kec. Pacet, Mojokerto&lt;br /&gt;2. Kuda Kumbara dari KebonAgung Kec. Puri, Mojokerto&lt;br /&gt;3. Kuda Lumping dari Gempol Kerep Kec. Gedeg, Mojokerto&lt;br /&gt;4. Tari Kembang Kemuning dari Gembongan Kec. Gedeg, Mojokerto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara dilanjutkan dengan pengumuman 3 penyaji terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima Kasih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam hangat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rony Yunarto&lt;br /&gt;Sie Festival Seni Pertunjukkan Majapahit 2007&lt;br /&gt;Telp. 081 850 399 2&lt;br /&gt;emai:teater_ &lt;span class="yshortcuts"&gt;r@yahoo.co&lt;/span&gt;. id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-3276842970970929635?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/3276842970970929635/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=3276842970970929635' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/3276842970970929635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/3276842970970929635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/11/jadwal-festival-seni-pertunjukkan.html' title='Jadwal Festival Seni Pertunjukkan Majapahit 2007'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-2270504995635356054</id><published>2007-11-09T18:59:00.000-08:00</published><updated>2007-11-09T19:01:34.265-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit'/><title type='text'>Abdul Malik, Blogger asal Mojokerto yang Bikin Situs Majapahitan</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:7;"  &gt;Sabtu, 10 Nov 2007 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10;"  &gt;Abdul Malik, Blogger asal Mojokerto yang Bikin Situs Majapahitan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Dapat Data dari Teman Chatting di Prancis&lt;br /&gt;Rekonstruksi Kerajaan Majapahit tidak hanya "diimpikan" kalangan pelestarian purbakala saja. Kalangan pemuda pun tak kalah bersemangat. Termasuk kelompok blogger. Yakni, dengan membuat blog khusus tentang Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KHOIRUL INAYAH, Mojokerto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GEMAR berselancar di internet dan membuat blog ternyata memiliki makna tersendiri bagi Abdul Malik. Dan itu dimanfaatkannya dalam bentuk yang positif, yakni membuat blog tentang Majapahit. Suatu hal yang belum terbersit dalam pikiran mereka yang mengaku peduli Majapahit sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  lang="IT" &gt;Dengan dana pribadi, dan literatur dari sana-sini, Abdul Malik pun mewujudkannya impiannya memiliii blog sendiri. Ini tidaklah berlebihan, sebab ia telah menekuni dunia blogger sejak Desember 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tujuan saja pada saat itu, saya ingin memberi kado buat diri saya sendiri," ujar lajang yang tinggal di Kradenan Kelurahan Kauman Kota Mojokerto ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, salah satu penjaga warnet di Jl Jayanegara sedang asyik sedang asyik membuat blog untuk hal-hal yang bernuansa 1980-an. Ia pun ikut tertarik. "Nama blog yang saya pilih waktu itu ingin yang bernuansa lokal dan cepat dikenal. Ya akhirnya saya pilih Majapahit," ujarnya laki-laki kelahira 22 Desember 1968 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung, ia memiliki beberapa dokumentasi tentang Majapahit. Salah satunya adalah naskah karya almarhum Max Arifin tentang Majapahit. Selain itu, materi mendapatkan dari banyak sumber. Misalnya teman chatting, Olivier warga Perancis yang beberapa kali ke Museum Trowulan dan Gunung Penanggungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Juga mendapatkan informasi bahwa majalah Arts of Asia (Hongkong) edisi November 2000 memuat laporan utama tentang Majapahit. Saya surfing alamat website-nya lalu cover di-download.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk isinya Olivier berbaik hati mengirim beberapa halaman yang telah di scanner via email," ujar Malik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, ia pun mengkopi buku Tatanegara Majapahit parwa 1 dan 2 karya Mohammad Yamin ke Perpustakaan Ignatius di Yogyakarta. "Saya berniat menampilkannya di blog dalam bentuk PDF agar dapat di baca lebih banyak kalangan," kata Malik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal paling sulit dalam blog adalah proses update data. Semua itu ia kerjakan setiap hari. Untuk keperluan itu, Malik banyak dibantu oleh Bagus Hendro, pemilik warnet di Jl jayanegara untuk proses scanner bahkan seringkali memberi fasilitas gratis. Terkadang juga oleh Hendrik salah satu petugas warnet tersebut. Yang paling menjengkelkan adalah ketika update data koneksi warnet drop. "Namun, karena semuanya menggunakan dana pribadi maka proses berjalan agak lambat," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  lang="IT" &gt;Ada saat dimana ia tak meng update blog. Saat itu ia lagi menekuni multiply. Sama-sama menarik. Prinsip nya sama-sama menginformasikan kepada orang lain. "Untuk mengetahui seberapa banyak yang berkunjung ke blog dan multiply saya, saya menambahkan hit counter," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pengalaman tak terlupakan dalam menekuni dunia blog terjadi pada November 2006. Saat itu almarhum Max Arifin diundang khusus oleh PT Newmont Nusa Tenggara untuk perjalanan pulang kampung ke Sumbawa. Malik ikut dalam tim sebagai asisten Max Arifin. Salah satu agenda kegiatan adalah Max Arifin menjadi narasumber dalam diskusi di sebuah SMA di Taliwang. Makalah untuk bahan diskusi tertinggal di Mojokerto. "Melalui bantuan staf kantor PT Newmont saya dapat mengakses internet membuka blog saya dan tinggal copy paste materi bahan diskusi. Pak Max sendiri pada waktu itu belum merespons dunia blog karena ia terbiasa dengan media cetak," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan Festival Majapahit, Malik kembali mengaktifkan blog-nya. Untuk menarik pembaca ia menginformasikan perihal berita yang ada di blog maupun multiply melalui SMS dan banyak milis dengan judul berita yang menggoda misalnya Ingin mengetahui master plan megaproyek Majapahit Park di Trowulan? &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Silakan klik http://majapahitan2.blogspot.com atau http://kurakurabiru.multiply.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meng-update data di blog-nya, Malik sebenarnya berharap banyak dari lembaga seperti Gotrah Wilwatikta untuk membuat semacam Pusat Studi Majapahit. Ini terilhami setelah ia banyak mendapatkan masukan sulitnya anak muda untuk mendapatkan informasi dan referensi tentang Majapahit. "Materi seminar yang diadakan Gotrah Wilwatikta dapatlah disebarluaskan lewat blog, juga aktivitas, riset dan program Gotrah Wilwatikta ke depan," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, ia mengaku aktivitasnya menekuni dunia blog tidaklah istimewa. "Aktivitas saya menekuni blog masih biasa-biasa saja kok demikian juga aktivitas saya menekuni sejarah Majapahit masih awam," ujar alumni SMAN 1 Gatoel (sekarang SMAN I Puri Mojokerto).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  lang="IT" &gt;Sebagai seorangn pegiat dunia blogger, ia ingin ada kompetisi blog antarkampung di Kota maupun Kabupaten Mojokerto. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;"Blog akan semakin menarik karena setiap warga adalah reporter. Seperti prinsip citizen journalism," kata dia. (*)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;(Harian Radar Mojokerto)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-2270504995635356054?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/2270504995635356054/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=2270504995635356054' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/2270504995635356054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/2270504995635356054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/11/abdul-malik-blogger-asal-mojokerto-yang.html' title='Abdul Malik, Blogger asal Mojokerto yang Bikin Situs Majapahitan'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-1426063763335496534</id><published>2007-11-08T23:39:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T13:23:56.407-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit'/><title type='text'>Arts of Asia-Nopember 2000 (6)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzQPZdE4W_I/AAAAAAAAAIw/9nh1Jdr0u9Q/s1600-h/majapahit++6.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzQPZdE4W_I/AAAAAAAAAIw/9nh1Jdr0u9Q/s320/majapahit++6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5130742805458082802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-1426063763335496534?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/1426063763335496534/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=1426063763335496534' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/1426063763335496534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/1426063763335496534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/11/arts-of-asia-nopember-2000-6.html' title='Arts of Asia-Nopember 2000 (6)'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzQPZdE4W_I/AAAAAAAAAIw/9nh1Jdr0u9Q/s72-c/majapahit++6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-4939261560379737627</id><published>2007-11-08T23:36:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T13:23:56.631-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit'/><title type='text'>Arts of Asia-Nopember 2000 (5)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzQOftE4W-I/AAAAAAAAAIo/isk9uLgL_EQ/s1600-h/majapahit+5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzQOftE4W-I/AAAAAAAAAIo/isk9uLgL_EQ/s320/majapahit+5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5130741813320637410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-4939261560379737627?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/4939261560379737627/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=4939261560379737627' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/4939261560379737627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/4939261560379737627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/11/arts-of-asia-nopember-2000-5.html' title='Arts of Asia-Nopember 2000 (5)'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzQOftE4W-I/AAAAAAAAAIo/isk9uLgL_EQ/s72-c/majapahit+5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-3579719011335560566</id><published>2007-11-08T23:34:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T13:23:56.804-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit'/><title type='text'>Arts of Asia-Nopember 2000 (4)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzQNv9E4W9I/AAAAAAAAAIg/6AF6T9mgStg/s1600-h/majapahit+4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzQNv9E4W9I/AAAAAAAAAIg/6AF6T9mgStg/s320/majapahit+4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5130740992981883858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-3579719011335560566?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/3579719011335560566/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=3579719011335560566' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/3579719011335560566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/3579719011335560566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/11/arts-of-asia-nopember-2000-4.html' title='Arts of Asia-Nopember 2000 (4)'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzQNv9E4W9I/AAAAAAAAAIg/6AF6T9mgStg/s72-c/majapahit+4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-4242561201440296974</id><published>2007-11-08T23:31:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T13:23:57.173-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit'/><title type='text'>Arts of Asia-Nopember 2000 (3)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzQNMdE4W8I/AAAAAAAAAIY/Ch7U4BJTHjo/s1600-h/majapahit+3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzQNMdE4W8I/AAAAAAAAAIY/Ch7U4BJTHjo/s320/majapahit+3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5130740383096527810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-4242561201440296974?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/4242561201440296974/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=4242561201440296974' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/4242561201440296974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/4242561201440296974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/11/arts-of-asia-nopember-2000-3.html' title='Arts of Asia-Nopember 2000 (3)'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzQNMdE4W8I/AAAAAAAAAIY/Ch7U4BJTHjo/s72-c/majapahit+3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-5742301531878379002</id><published>2007-11-08T23:26:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T13:23:57.445-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit'/><title type='text'>Arts of Asia-Nopember 2000 (2)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzQMD9E4W7I/AAAAAAAAAIQ/2nCk4q9_UXA/s1600-h/majapahit+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzQMD9E4W7I/AAAAAAAAAIQ/2nCk4q9_UXA/s320/majapahit+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5130739137556011954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-5742301531878379002?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/5742301531878379002/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=5742301531878379002' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/5742301531878379002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/5742301531878379002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/11/arts-of-asia-nopember-2000-2.html' title='Arts of Asia-Nopember 2000 (2)'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzQMD9E4W7I/AAAAAAAAAIQ/2nCk4q9_UXA/s72-c/majapahit+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-4174956914104437284</id><published>2007-11-08T23:20:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T13:23:57.987-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit'/><title type='text'>Arts of Asia-Nopember 2000</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzQK79E4W6I/AAAAAAAAAII/j647c4OIkZ4/s1600-h/majapahit.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzQK79E4W6I/AAAAAAAAAII/j647c4OIkZ4/s320/majapahit.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5130737900605430690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-4174956914104437284?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/4174956914104437284/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=4174956914104437284' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/4174956914104437284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/4174956914104437284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/11/arts-of-asia-nopember-2000.html' title='Arts of Asia-Nopember 2000'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzQK79E4W6I/AAAAAAAAAII/j647c4OIkZ4/s72-c/majapahit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-3735584215380688618</id><published>2007-11-05T02:22:00.001-08:00</published><updated>2008-12-10T13:23:58.116-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit'/><title type='text'>Desa Majapahit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzBLJezhKVI/AAAAAAAAAIA/tivS6XmasnU/s1600-h/lurahe+majapahit.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzBLJezhKVI/AAAAAAAAAIA/tivS6XmasnU/s320/lurahe+majapahit.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5129682601835047250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;DESA MAJAPAHIT&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Oleh &lt;b style=""&gt;Max Arifin&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;SEBUAH&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt; desa Majapahit kabarnya direncanakan akan dibangun di Trowulan. Penggagas dan pelaksananya tentulah orang-orang yang mempunyai gagasan yang visioner dan imajinatif. Hasil kerja mereka (nanti) bukan cuma secara fisik cukup memadai, tetapi yang jauh lebih penting adalah bahwa di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tergambar adanya sebuah budaya. Sebuah budaya yang usianya tujuh ratus tahun, yang telah mampu menjadi kekuatan pendorong ditambah dengan ambisi imajinatif seorang mahaatih: menjamah hampir seluruh nusantara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Sebuah budaya yang mampu mengantarkan adanya “&lt;i style=""&gt;sphere of influence&lt;/i&gt;”, area dimana sebuah negara mengklaim memiliki hak-hak tertentu atau diakui memiliki hak seperti itu. Juga disana terasa adanya semacam aura yang menurut Walter Benjamin memiliki asal-usulnya pada &lt;i style=""&gt;cultic ritual&lt;/i&gt;, pada ritual-ritual yang bersifat pemujaan. Itulah hal-hal abstrak yang tentu saja sulit diwujudkan, untuk tidak dikatakan sebagai sesuatu yang mustahil. Memang ada yang mengatakan, dapat saja hal-hal itu dinyatakan lewat simbol-simbol, lambang-lambang, pataka-pataka, kitab-kitab suci, dan lain-lain, tetapi persoalannya adalah: mampukah benda-benda itu “memancarkan” aura yang dimaksud.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Sebuah ilustrasi kita kutip dari kakawin Hariwangsa yang termuat dalam buku Kalangwan, karya monumental Prof. P.J. Zoetmulder, sebuah buku yang jarang dibicarakan sekarang (Djambatan, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, dengan tebal 648 halaman). Membaca buku ini seakan-akan kita mendengarkan gema suara leluhur kita dan suara-suara itu datang pada kita dari suatu sumber terdalam kebudayaan tanah air kita. Karya ini menarik terutama bagi mereka yang mencoba meletakkan suatu konfrontasi antara kepercayaan dan pengalaman hidup generasi-generasi terdahulu dengan pengalaman-pengalaman dan prasangka-prasangka kita pada masa kini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Situasi seperti itulah yang harus ada dalam diri para penggagas dan pelaksana rencana tersebut. Pada karya besar seperti Kalangwan ini terdapat suatu kekuatan, yaitu efeknya yang katalistik: ia membuka pintu bagi kita dan menghidupkan mesin kewaspadaan dalam diri kita. Di sana terdapat ceritera tentang kemenangan kemanusiaan atas kekuatan buta sang takdir, suara-suara itu seperti tersembul keluar dari suatu kesepian yang menyesakkan, mencoba menguak mengatasi batas-batas tanah airnya, batas-batas waktu dan batas nasib yang ditentukan pada mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Saat-saat yang sering disebut dalam kakawin ialah sore dan senja, malam yang disinari rembulan dan menjelang fajar. Sesudah pukul tujuh sore udara sudah mulai sejuk. Dalam Hariwangsa tertulis indah: semua suara mulai lenyap dan alam raya merasa bimbang, takut karena malam yang akan datang menjelma.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Bunga padma yang pada pagi hari mekar, menutup daun-daunnya agar tepung sarinya terlindung dengan baik, sambil menyediakan tempat tidur bagi kumbang-kumbang. Awan-awan gelap berputar-putar bersama gemuruhnya &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;guntur&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; memperingatkan manusia akan bahaya yang mungkin mengancam, supaya ia berjaga-jaga. Tetapi segalanya lenyap, rasa bimbang menghapuskan diri tatkala rembulan terbit dan mengusir kegelapan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Pada malam purnama para wanita dan gadis-gadis genit luwes dari kratobon bercengkerama dibawah sinar bulan purnama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Mereka menyanyi, menari dan menabuh gamelan, berkelompok untuk tukar menukar rahasia, berbisik-bisik atau duduk sendiri-sendiri merindukan kekasih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Membaca Kalangwan membuat kita merindukna sesuatu: kedamaina, ketenangan alam, perasaan satu dengan alam, tidak saling mengusik (apalagi menjadi musuh alam). Alam begitu tampak, nyata, mewujud dan terasa benar bagi manusia. Dan indah !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Itu sekedar ilustrasi dari suatu sudut, entah dimana itu, sebuah desa di Majapahit, tujuh ratus tahun yang lalu, yang coba kita “ciptakan” dalam jaman modern ini, Sesuatu yang fantastik dan rasanya sulit dijangkau di sebuah desa (Trowulan) dengan poros jalan Surabaya-Yogyakarta, jalan sempit berdebu namun jalan ini tidak pernah tidur, bergemuruh selalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Malam-malam memang membuat fantasi kita melayang ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Apa kira-kira yang terjadi pada malam seperti itu tujuh ratus tahun yang lalu di Candi Tikus, di Candi Bajang Ratu, Candi Kedaton, Candi Brahu, Candi Gentong (yang kini sedang dipugar), Gapura Wringin Lawang, di Candi Siti Hinggil. Atau, apakah para putri sedang berenang dan berendam di Kolam Segaran? Atau apakah terdengar suara sang kawi Prapanca mengutip dan membaca potongan-potongan Negarakertagama yang terkenal itu, dengan suara yang penuh dan berat berwibawa dan kemungkinan kita &lt;i style=""&gt;dissolve&lt;/i&gt; ke seorang anak muda modern dengan celana jins dan kaos hitam, berdiri di pelataran Candi Brahu sambil menggenggam lembaran-lembaran Negarakertagama yang telah disunting. Atau mungkin kita membayangkan, di suatu sudut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Desa Majapahit Mahapatih Gajahmada sedang berunding dengan salah seorang palnglima perangnya yang bernama Empunala. Mengatur siasat dan taktik bagaimana menundukkan Bali, &lt;st1:place st="on"&gt;Lombok&lt;/st1:place&gt;, Dompu. Dan bayangan kita menjejak pada masa kekinian dan menemukan besarnya pengarauh tata budaya Majapahit sampai sekarang di &lt;st1:place st="on"&gt;Lombok&lt;/st1:place&gt;. Dan orang-orang Lombok mengklaim bahwa Empu Nala meninggal di &lt;st1:place st="on"&gt;Lombok&lt;/st1:place&gt; dan kuburannya dapat ditemukan sampai sekarang di atas sebuah bukit kecil di luar Desa Sembalun, di kaki Gunung Rinjani yang berudara dingin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Kita memang diminta untuk terus bercermin pada hasil budi pendahulu-pendahulu kita. Dan itu berarti semua seniman yang ada dalam buku Kalangwan telah mampu mengatasi takdirnya !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Desa Majapahit? Kenapa tidak!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Japan Raya, awal Nopember &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Max Arifin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;(Pernah dimuat di Warta Majatama, Dinas Infokom Kabupaten Mojokerto edisi 52 Tahun 2003)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Keterangan gambar:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Poster Achmady, Bupati Mojokerto saat ini, dalam pemilihan Gubernur Jawa Timur&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan mengusung slogan “Lurahe Majapahit”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-3735584215380688618?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/3735584215380688618/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=3735584215380688618' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/3735584215380688618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/3735584215380688618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/11/desa-majapahit.html' title='Desa Majapahit'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RzBLJezhKVI/AAAAAAAAAIA/tivS6XmasnU/s72-c/lurahe+majapahit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-147878652112725571</id><published>2007-10-31T02:37:00.000-07:00</published><updated>2007-10-31T02:39:53.218-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='trowulan'/><title type='text'>Pariwisata di Trowulan suatu keniscayaan</title><content type='html'>&lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;PARIWISATA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-indent: 0.25in; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;DI TROWULAN.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-indent: 0.25in; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;SUATU KENISCAYAAN.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-indent: 0.25in; text-align: center;" align="center"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-indent: 0.25in; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Oleh: Max Arifin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-indent: 0.25in;"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-indent: 0.25in;"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in;"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;(I).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Banyak orang dan banyak kalangan mengatakan, bahwa daerah Trowulan ini merupakan daerah yang potensial untuk membangun pariwisata.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Benarkah?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Saya belum tahu, apakah pihak-pihak terkait di sini telah mengadakan atau melakukan identifikasi masalah untuk bisa mengatakan bahwa daerah ini adalah potensial. &lt;span id="lw_1172027647_0" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204);"&gt;Kita&lt;/span&gt; jangan terlalu silau dengan nama besar Majapahit. Secara fisik Majapahit meninggalkan beberapa candi yang tidak begitu monumental&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Saya pernah menulis dalam tabloit &lt;i&gt;Majatama&lt;/i&gt; yang diterbitkan oleh Pemkab Mojokerto, edisi no. 52 tahun 2003. Waktu itu saya mendengar ada gagasan yang ingin membangun desa Majapahit, sebuah gagasan yang inspiratif dan imajinatif. Secara fisik barangkali desa seperti itu tidak begitu sulit dibangun, tetapi yang jauh lebih penting, adalah, bahwa di sana tergambar adanya sebuah budaya. Sebuah budaya yang usianya tujuh ratus tahun, yang telah mampu menjadi kekuatan pendorong ditambah dengan ambisi imajinatif seorang mahapatih: menjamah hampir seluruh nusantara. Sebuah budaya yang mampu mengantarkan adanya “sphere of influence”, area di mana sebuah negara mengklaim memiliki hak-hak tertentu atau diakui memiliki hak seperti itu. Juga di sana &lt;i&gt;harus&lt;/i&gt; terasa adanya semacam aura---yang menurut Walter Benjamin---memiliki asal-usulnya pada &lt;i&gt;cultic ritual&lt;/i&gt;---pada ritual-ritual yang bersifat pemujaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Itulah hal-hal abstrak yang tentu sulit untuk diwujudkan, untuk tidak dikatakan sebagai sesuatu yang mustahil. Memang ada yang mengatakan, dapat saja hal-hal itu dinyatakan lewat simbol-simbol, lambang-lambang, pataka-pataka, kitab-kitab suci, dan lain-lain, tetapi persoalannya adalah: mampukah benda-benda itu “memancarkan” aura yang dimaksud. Dalam hal ini kita berbicara dalam dimensi-dimensi waktu, jarak waktu yang tentu saja memperlihatkan kesenjangan psikoloigis yang begitu mengangah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;(II).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Atau, bagi mereka yang memiliki buku &lt;i&gt;Kalangwan&lt;/i&gt; yang ditulis oleh Prof. P.J.Zoetmulder, dapat saja mereka menyimak secara spiritual apa yang ditulis di sana. Karena dengan membaca buku ini seakan-akan kita mendengar gema suara leluhur kita dan suara-suara itu datang pada kita dari suatu sumber terdalam kebudayaan tanah air kita. Pentingnya karya ini terutama bagi mereka yang mencoba meletakkan suatu konfrontasi antara kepercayaan dan pengalaman hidup generasi-generasi terdahulu dengan pengalaman-pengalaman dan prasangka-prasangka kita pada masa kini---ya, katakan saja bagi mereka yang mencoba membangun daerah&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;ini menjadi daerah pariwisata. Pada karya besar seperti &lt;i&gt;Kalangwan &lt;/i&gt;ini terdapat suatu kekuatan, yaitu efeknya yang katalistik: ia mencoba membuka pintu bagi kita dan menghidupkan mesin kewaspadaan dalam diri kita. Di sana terdapat ceritera tentang kemenangan kemanusiaan atas kekuatan buta sang takdir; suara-suara itu seperti tersembul ke luar dari suatu kesepian yang menyesakkan, mencoba menguak mengatasi batas-batas tanah airnya, batas-batas waktu dan batas nasib yang ditentukan pada mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;“Penggali-penggali” potensi pariwisata daerah ini haruslah mampu “membaca dan menyimak” suara-suara tersebut dan kemudian mencoba memvisualisasikannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Mampukah?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;(III).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Membangun pariwisata, haruslah dengan perencanaan yang matang. Bersentuhan dengan dunia pariwisata sebagai suatu usaha, maka kita harus menyadari adanya dua kutub yang seakan-akan terus-menerus mencoba saling menaklukkan: kecenderungan manusia dunia ketiga untuk tidak mau ketinggalan dalam nmenyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, karena dunia ini sendiri (seperti dikatakan oleh &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1193823417_0"&gt;Arthur Koestler&lt;/span&gt;) bergerak ke arah sebuah kebudayaan yang &lt;i&gt;uniform, mechanized and stereotyped---&lt;/i&gt;suatu kebudayaan massa yang menghentak kita sebagai suatu “form of mass suicide”. Kutub yang lain (kesadaran yang harus ada dalam otak pengelola atau penggiat pariwisata dan mempertahankannya) dengan &lt;i&gt;password: exotica. &lt;/i&gt;Ke dalam kata ini terkandung makna &lt;i&gt;asli, aneh, asing, tidak biasa&lt;/i&gt;. Paul Fussel---seorang petualang Amerika---mengatakan, bahwa dalam setiap &lt;i&gt;travel&lt;/i&gt;, perjalanan atau bepergian, terselubung makna pencarian sesuatu yang &lt;i&gt;anomaly,&lt;/i&gt; sesuatu yang tidak biasa, dalam beberapa hal berbeda dari apa yang normal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Barangkali apa yang saya katakan itu kurang tepat, tetapi cobalah kita simak bersama ucapan seorang pengeliling dunia Pico Iyer dalam bukunya &lt;i&gt;Video Night in Kathmandu&lt;/i&gt; (Black Swan Book, &lt;span id="lw_1172027647_1" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204);"&gt;London&lt;/span&gt;, l989: 40): tentang &lt;span id="lw_1172027647_2" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204);"&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1193823417_1"&gt;Bali&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; sebagai &lt;i&gt;“the Elysian isle famous for its&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;other-worldly exoticism, its&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;cultural integrity, its natural grace”&lt;/i&gt;---pulau surgawi yang terkenal akan eksotisme-dunia-yang-lain, integritas kebudayaan dan keanggunannya yang alami.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Semua itu terkait dalam apa yang disebut &lt;i&gt;tourism-psychology.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;(IV).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Namun demikian, kita tidak boleh terlalu silau dengan dunia pariwisata  dengan keberhasilan-keberhasilannya di daerah lain yang telah mampu memberi sumbangan pendapatan pada daerah yang bersangkutan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Bukunya yang saya sebut di atas---&lt;i&gt;Video Night in Kathmandu---&lt;/i&gt;selain sebagai buku yang menguraikan “exotica”&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;dunia yang ia lalui, tetapi juga dengan baik meneliti “what kind of resistence”&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;yang telah muncul dalam menghadapi kekuatan-kekuatan kolonial Coca-Cola dan “what kind of counter-strategies were planned”, kita melihat bagaimana &lt;span id="lw_1172027647_3" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204);"&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1193823417_2"&gt;Bali&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; mempertahankan dirinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Turisme merupakan serdadu-serdadu pejalan kaki terhadap invasi-invasi baru: para turis, dalam suatu pengertian, adalah  ekspansionisme lewat teroris-teroris kebudayaan. Dan &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1193823417_3"&gt;Jean-Paul Sartre&lt;/span&gt; menyebutnya sebagai “ the cool invaders”---penyerbut-penyerbu berdarah dingin. Begitu &lt;i&gt;paradise&lt;/i&gt;,surga itu menggoda, merayu para wisatawan, maka secepat itu pula wisatawan itu akan memperkosa dan mengurangi keanggunan surga (pariwisata) itu..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Mungkin kita tidak atau kurang atau pura-pura tidak memahami berlakunya hukum&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;itu. Untuk berlaku seperti itu, berarti kita telah mengaburkan atau tidak mengindahkan adanya suatu asimetri besar yang menguasai setiap perjumpaan antara turis dan lokal: wisatawan berada di sana karena pilihannya sendiri dan (penduduk) lokal memang berada di sana, terikat oleh takdir di tempatnya. Wisatawan melakukan perjalanan dalam semangat kesenangan, petualangan dan romans, sementara penduduk lokal berkubang dalam lumpur usaha untuk tetap bisa hidup. Wisatawan sering&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;diterima oleh pemerintah, menikmati imunitas&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;diplomatik (walau tidak resmi), diberikan tetesan-tetesan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;otoritas tanpa rasa tanggung-jawab apapun, sementara penduduk lokal di sana menancapkan harapan-harapan mereka pada setiap transaksi-transaksi yang mungkin diadakan. Pico bilang: “Every foreigner is a messenger from a world&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;of dreams”---setiap orang asing adalah pembawa pesan dari suatu dunia mimpi”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;(V).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Bagaimana peta pariwisata Jawa Timur sendiri?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Saya pernah diundang ke Seminar Pendekatakan Kebudayaan dalam Pembangunan di Jawa Timur, di Jember pada bulan Juli 2003. Di sana, I Nyoman Naya Sujana---dosen Universitas Airlangga---mengatakan, bahwa pariwisata dianggap belum begitu signifikan terhadap peningkatan PAD. Hal ini didasarkan pada Propeda dan Renstra Propinsi Jawa Timur 2000-2005. Karena itu pula pariwisata Jawa Timur belum menjadi suatu “industri rakyat”. Dan Festival Budaya Majapahit yang digelar di Trowulan, Mojokerto tahun 2000 dapat dikatakan sebagai festival yang gagal . Wisatawan yang datang sangat terbatas. Ini merupakan evaluasi yang membuat kita harus mawas diri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Pariwisata yang kita kembangkan di Mojokerto adalah (industri) pariwisata budaya dan sekaligus memakai  pendekatan kebudayaan dalam pelaksanaannya. Prinsip-prinsipnya antara lain:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;1. Kata kebudayaan di sini hendaklah diterjemahkan menjadi kebudayaan&lt;span&gt;               &lt;/span&gt;lokal, yaitu kebudayaan yang dilestarikan dan dikembangkan oleh masyarakat lokal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;2. Kebudayaan sebagai basis pengembangan industri pariwisata sehingga nilai-nilai industri yang meluncur di masyarakat lokal tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan norma-norma budaya lokal.&lt;span&gt;                         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;3. Pariwisata haruslah memiliki semangat atau ruh dari budaya masyarakat setempat dan mengandung nilai-nilai kultural yang positif. Di sana terdapat norma-norma dan nilai-nilai untuk mewujudkan suatu peradaban manusia yang lebih baik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;4. &lt;span id="lw_1172027647_4" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204);"&gt;Kita&lt;/span&gt; harus memahami realitas pembangunan pariwisata dengan landasan pengertian budaya, dengan “paradigma budaya”.&lt;span&gt;                     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;5.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Pembangunan pariwisata di Mojokerto haruslah  berdasarkan kebudayaan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span&gt;      &lt;/span&gt;Mojokerto (=Jatim) dan menjadi dasar segala aktivitas pembangunan pariwisata.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoHeader" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span&gt;      &lt;/span&gt;6. Masyarakat harus mampu mengendalikan “prilaku industri pariwisata”&lt;span&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span&gt;      &lt;/span&gt;sesuai dengan nilai dan norma budaya masyarakat sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 37.5pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;7.&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pariwisata dewasa ini telah dikategorikan sebagai kegiatan ekonomi, adalah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 19.5pt; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;kegiatan negara atau rakyat yang mempunyai tujuan memperoleh keuntungan. Oleh sebab itu ia harus dikelola secara ekonomi dengan mengedepankan hukum-hukum ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 19.5pt; text-indent: 0in;"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 19.5pt; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;(VI).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 19.5pt; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Kalau kita bicara tentang pariwisata, maka kita membayangkan adanya modal besar, restoran besar dan kehidupan sosial yang materialistic. Hal itu tidak seluruhnya benar dan kurang tepat. Untuk membangun sarana dan prasarana pariwisata---hotel, tempat rekreasi, jalan dan tempat hiburan besar---memang membutuhkan modal yang sangat besar dan ini berarti perlu investor besar. Tetapi kita harus mampu memobilisasi potensi dan kekuatan lokal dalam pengembangan daerah-daerah tujuan wisata yang berstandar nasional dan internasional.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 19.5pt; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Tugas dalam era otonomi daerah haruslah mengembangkan konsep (industri) pariwisata lokal: mengembangkan potensi dan daya masyarakat lokal&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;sebagai pilar pengembangan pariwisata. Umpama, rumah penginapan tidak perlu besar-besar, cukup hanya satu atau dua kamar dengan kualitas yang standar. Begitu pula rumah-rumah adat yang dikelola oleh masyarakat lokal; berbagai jenis tanaman dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 19.5pt; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Setelah masyarakat lokal memiliki konsep pembangunan industri pariwisata rakyat, maka masyarakat haruslah memiliki kemampuan-kemampuan tertentu. Antara lain, yang terpenting, melakukan koordinasi lintas sektoral dalam masyarakat lokal sehingga semua kepentingan kelompok sosial dapat disertakan. Hal ini kita dasarkan pada teori &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1193823417_4"&gt;Pierre Bourdieu&lt;/span&gt; tentang “the field of cultural production”. Bourdieu menekankan, bahwa karya budaya ditemukan pada sejarah dan struktur medan budaya di mana karya itu ada---dengan keseluruhan komponen yang membentuknya dan juga di dalam hubungan medan budaya dengan medan kekuasaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 19.5pt; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Juga dalam soal-soal keamanan dan ketertiban; sikap sosial masyarakat yang terbuka, ramah dan penuh komunikatif; perlu pelatihan petugas wisata; produk-produk wisata dan cendera mata, peta wisata, akomodasi yang standar; membangun pengertian dan kesadaran hidup bersama antar ras dan suku; mendorong warga masyarakat untuk membangun mitra kerja denagn siapa saja yang menjadi wisman dan sebagainya. Di sinilah arti kolaboratif dalam mengelola dunia pariwisata. Membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak terkait dan jaringan kerja (net working) yang luas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 19.5pt; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Pandangan-pandangan yang miring dan sinis (konservatif) terhadap pembangunan industri pariwisata yang tentu masih ada di daerah ini perlu dibenahi, antara lain yang memandang pariwisata sebagai industri maksiat. Hal ini bisa dicapai lewat sosialisasi dunia pariwisata itu. Sosialisasi penting dalam hal ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 19.5pt; text-indent: 0in;"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 19.5pt; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;(VII)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 19.5pt; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Setelah semuanya terbenahi, maka barulah Pemda setempat berpikir tentang PAD.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 19.5pt; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Terima kasih.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 19.5pt; text-indent: 0in;"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 19.5pt; text-indent: 0in;"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 19.5pt; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span&gt;                                                            &lt;/span&gt;&lt;span id="lw_1172027647_5" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204);"&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1193823417_5"&gt;Japan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Raya, 5 Juli 2004.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 19.5pt; text-indent: 0in;"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 13.5pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span&gt;                                                                   &lt;/span&gt;Max Arifin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 19.5pt; text-indent: 0in;"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 19.5pt; text-indent: 0in;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-147878652112725571?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/147878652112725571/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=147878652112725571' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/147878652112725571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/147878652112725571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/pariwisata-di-trowulan-suatu.html' title='Pariwisata di Trowulan suatu keniscayaan'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-1327876876190502635</id><published>2007-10-31T02:31:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:23:58.260-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan penutup</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhLcezhKNI/AAAAAAAAAHA/2CZgJGQFFds/s1600-h/40.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhLcezhKNI/AAAAAAAAAHA/2CZgJGQFFds/s320/40.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127431128438876370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-1327876876190502635?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/1327876876190502635/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=1327876876190502635' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/1327876876190502635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/1327876876190502635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-penutup.html' title='Majapahit Park master plan penutup'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhLcezhKNI/AAAAAAAAAHA/2CZgJGQFFds/s72-c/40.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-4238596129788923664</id><published>2007-10-31T02:26:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:23:58.433-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 38</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhKU-zhKMI/AAAAAAAAAG4/sYGEg4YlcWk/s1600-h/39.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhKU-zhKMI/AAAAAAAAAG4/sYGEg4YlcWk/s320/39.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127429900078229698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-4238596129788923664?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/4238596129788923664/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=4238596129788923664' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/4238596129788923664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/4238596129788923664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan.html' title='Majapahit Park master plan 38'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhKU-zhKMI/AAAAAAAAAG4/sYGEg4YlcWk/s72-c/39.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-6790335111134411037</id><published>2007-10-31T02:24:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:23:58.553-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 37</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhJ6-zhKLI/AAAAAAAAAGw/JJhLNZd22qw/s1600-h/38.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhJ6-zhKLI/AAAAAAAAAGw/JJhLNZd22qw/s320/38.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127429453401630898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-6790335111134411037?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/6790335111134411037/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=6790335111134411037' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/6790335111134411037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/6790335111134411037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-37.html' title='Majapahit Park master plan 37'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhJ6-zhKLI/AAAAAAAAAGw/JJhLNZd22qw/s72-c/38.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-8037903359233936977</id><published>2007-10-31T02:22:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:23:58.740-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 36</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhJdezhKKI/AAAAAAAAAGo/hy2Y7eTDybE/s1600-h/37.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhJdezhKKI/AAAAAAAAAGo/hy2Y7eTDybE/s320/37.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127428946595489954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-8037903359233936977?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/8037903359233936977/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=8037903359233936977' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/8037903359233936977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/8037903359233936977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-36.html' title='Majapahit Park master plan 36'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhJdezhKKI/AAAAAAAAAGo/hy2Y7eTDybE/s72-c/37.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-1989725906875503184</id><published>2007-10-31T02:20:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:23:58.854-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 35</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhJCuzhKJI/AAAAAAAAAGg/vP1qokmEPBY/s1600-h/36.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhJCuzhKJI/AAAAAAAAAGg/vP1qokmEPBY/s320/36.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127428487033989266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-1989725906875503184?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/1989725906875503184/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=1989725906875503184' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/1989725906875503184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/1989725906875503184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-35.html' title='Majapahit Park master plan 35'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhJCuzhKJI/AAAAAAAAAGg/vP1qokmEPBY/s72-c/36.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-3895621433942417523</id><published>2007-10-31T02:19:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:23:58.987-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 34</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhIp-zhKII/AAAAAAAAAGY/HwwvL-LuV3w/s1600-h/35.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhIp-zhKII/AAAAAAAAAGY/HwwvL-LuV3w/s320/35.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127428061832226946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-3895621433942417523?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/3895621433942417523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=3895621433942417523' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/3895621433942417523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/3895621433942417523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-34.html' title='Majapahit Park master plan 34'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhIp-zhKII/AAAAAAAAAGY/HwwvL-LuV3w/s72-c/35.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-6084013276974742729</id><published>2007-10-31T02:17:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:23:59.130-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 33</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhIK-zhKHI/AAAAAAAAAGQ/2dmY3T3GeR8/s1600-h/34.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhIK-zhKHI/AAAAAAAAAGQ/2dmY3T3GeR8/s320/34.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127427529256282226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-6084013276974742729?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/6084013276974742729/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=6084013276974742729' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/6084013276974742729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/6084013276974742729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-33.html' title='Majapahit Park master plan 33'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhIK-zhKHI/AAAAAAAAAGQ/2dmY3T3GeR8/s72-c/34.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-3482721087598272157</id><published>2007-10-31T02:15:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:23:59.360-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 32</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhHyezhKGI/AAAAAAAAAGI/i79pmcYWY5I/s1600-h/33.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhHyezhKGI/AAAAAAAAAGI/i79pmcYWY5I/s320/33.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127427108349487202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-3482721087598272157?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/3482721087598272157/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=3482721087598272157' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/3482721087598272157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/3482721087598272157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-32.html' title='Majapahit Park master plan 32'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhHyezhKGI/AAAAAAAAAGI/i79pmcYWY5I/s72-c/33.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-5478277342855479101</id><published>2007-10-31T02:10:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:23:59.490-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 29</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhGl-zhKEI/AAAAAAAAAF4/ahH6BkZSt34/s1600-h/30+copyedit.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhGl-zhKEI/AAAAAAAAAF4/ahH6BkZSt34/s320/30+copyedit.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127425794089494594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-5478277342855479101?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/5478277342855479101/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=5478277342855479101' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/5478277342855479101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/5478277342855479101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-29.html' title='Majapahit Park master plan 29'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhGl-zhKEI/AAAAAAAAAF4/ahH6BkZSt34/s72-c/30+copyedit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-7982293426059658192</id><published>2007-10-31T02:08:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:23:59.606-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 28</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhGJ-zhKDI/AAAAAAAAAFw/A73lIGNzirg/s1600-h/29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhGJ-zhKDI/AAAAAAAAAFw/A73lIGNzirg/s320/29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127425313053157426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-7982293426059658192?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/7982293426059658192/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=7982293426059658192' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/7982293426059658192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/7982293426059658192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-28.html' title='Majapahit Park master plan 28'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhGJ-zhKDI/AAAAAAAAAFw/A73lIGNzirg/s72-c/29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-5337809530805669390</id><published>2007-10-31T02:05:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:23:59.753-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 27</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhFe-zhKCI/AAAAAAAAAFo/dB8FVtPUSDw/s1600-h/28.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhFe-zhKCI/AAAAAAAAAFo/dB8FVtPUSDw/s320/28.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127424574318782498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-5337809530805669390?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/5337809530805669390/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=5337809530805669390' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/5337809530805669390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/5337809530805669390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-27.html' title='Majapahit Park master plan 27'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhFe-zhKCI/AAAAAAAAAFo/dB8FVtPUSDw/s72-c/28.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-2263430371021807034</id><published>2007-10-31T02:03:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:23:59.874-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 26</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhFCOzhKBI/AAAAAAAAAFg/o6HkOqmBg7U/s1600-h/27.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhFCOzhKBI/AAAAAAAAAFg/o6HkOqmBg7U/s320/27.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127424080397543442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-2263430371021807034?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/2263430371021807034/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=2263430371021807034' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/2263430371021807034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/2263430371021807034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-26.html' title='Majapahit Park master plan 26'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhFCOzhKBI/AAAAAAAAAFg/o6HkOqmBg7U/s72-c/27.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-7352646851559713303</id><published>2007-10-31T02:01:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:00.045-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 25</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhEjOzhKAI/AAAAAAAAAFY/wypDRSyLF0k/s1600-h/26.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhEjOzhKAI/AAAAAAAAAFY/wypDRSyLF0k/s320/26.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127423547821598722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-7352646851559713303?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/7352646851559713303/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=7352646851559713303' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/7352646851559713303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/7352646851559713303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-25.html' title='Majapahit Park master plan 25'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhEjOzhKAI/AAAAAAAAAFY/wypDRSyLF0k/s72-c/26.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-415883348376574556</id><published>2007-10-31T01:58:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:00.285-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 24</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhDu-zhJ_I/AAAAAAAAAFQ/8z5Vwoj1zgA/s1600-h/25.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhDu-zhJ_I/AAAAAAAAAFQ/8z5Vwoj1zgA/s320/25.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127422650173433842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-415883348376574556?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/415883348376574556/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=415883348376574556' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/415883348376574556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/415883348376574556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-24.html' title='Majapahit Park master plan 24'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyhDu-zhJ_I/AAAAAAAAAFQ/8z5Vwoj1zgA/s72-c/25.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-518554192021705482</id><published>2007-10-29T21:18:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:00.455-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 23</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyayxuzhJ6I/AAAAAAAAAEw/t5gnkyeTvRk/s1600-h/24.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyayxuzhJ6I/AAAAAAAAAEw/t5gnkyeTvRk/s320/24.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126981793255335842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-518554192021705482?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/518554192021705482/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=518554192021705482' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/518554192021705482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/518554192021705482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-23.html' title='Majapahit Park master plan 23'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyayxuzhJ6I/AAAAAAAAAEw/t5gnkyeTvRk/s72-c/24.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-7841294015588367522</id><published>2007-10-29T21:08:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:00.584-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 22</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyawGezhJ5I/AAAAAAAAAEo/ObQ0wG-yyes/s1600-h/23.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyawGezhJ5I/AAAAAAAAAEo/ObQ0wG-yyes/s320/23.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126978851202738066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-7841294015588367522?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/7841294015588367522/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=7841294015588367522' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/7841294015588367522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/7841294015588367522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-22.html' title='Majapahit Park master plan 22'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyawGezhJ5I/AAAAAAAAAEo/ObQ0wG-yyes/s72-c/23.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-1540931864781689529</id><published>2007-10-29T21:00:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:01.031-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 21</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/Ryate-zhJ4I/AAAAAAAAAEg/Te7zLrfqxkw/s1600-h/22.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/Ryate-zhJ4I/AAAAAAAAAEg/Te7zLrfqxkw/s320/22.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126975973574649730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-1540931864781689529?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/1540931864781689529/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=1540931864781689529' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/1540931864781689529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/1540931864781689529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-21.html' title='Majapahit Park master plan 21'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/Ryate-zhJ4I/AAAAAAAAAEg/Te7zLrfqxkw/s72-c/22.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-1298363749689672443</id><published>2007-10-29T20:54:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:01.164-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 20</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyasKezhJ3I/AAAAAAAAAEY/4YXrRvlhYUQ/s1600-h/21.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyasKezhJ3I/AAAAAAAAAEY/4YXrRvlhYUQ/s320/21.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126974521875703666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-1298363749689672443?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/1298363749689672443/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=1298363749689672443' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/1298363749689672443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/1298363749689672443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-20.html' title='Majapahit Park master plan 20'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyasKezhJ3I/AAAAAAAAAEY/4YXrRvlhYUQ/s72-c/21.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-9177632655077878630</id><published>2007-10-29T20:44:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:01.398-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 19</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyaqEezhJ2I/AAAAAAAAAEQ/24z0qTsME9g/s1600-h/20.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyaqEezhJ2I/AAAAAAAAAEQ/24z0qTsME9g/s320/20.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126972219773232994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-9177632655077878630?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/9177632655077878630/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=9177632655077878630' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/9177632655077878630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/9177632655077878630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-19.html' title='Majapahit Park master plan 19'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyaqEezhJ2I/AAAAAAAAAEQ/24z0qTsME9g/s72-c/20.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-1441776173401521860</id><published>2007-10-29T20:30:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:01.544-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 18</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyamnuzhJ1I/AAAAAAAAAEI/f_71aeNyHVE/s1600-h/19.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyamnuzhJ1I/AAAAAAAAAEI/f_71aeNyHVE/s320/19.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126968427317110610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-1441776173401521860?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/1441776173401521860/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=1441776173401521860' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/1441776173401521860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/1441776173401521860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-18.html' title='Majapahit Park master plan 18'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyamnuzhJ1I/AAAAAAAAAEI/f_71aeNyHVE/s72-c/19.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-8671586207230784154</id><published>2007-10-29T20:18:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:01.781-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 17</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyakXOzhJ0I/AAAAAAAAAEA/rzpAluHKdXQ/s1600-h/18.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyakXOzhJ0I/AAAAAAAAAEA/rzpAluHKdXQ/s320/18.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126965944826013506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-8671586207230784154?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/8671586207230784154/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=8671586207230784154' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/8671586207230784154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/8671586207230784154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-17.html' title='Majapahit Park master plan 17'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyakXOzhJ0I/AAAAAAAAAEA/rzpAluHKdXQ/s72-c/18.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-2876581953537055203</id><published>2007-10-29T19:35:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:02.068-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 16</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyaaHOzhJyI/AAAAAAAAAD0/ovigRxNr9xM/s1600-h/17.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyaaHOzhJyI/AAAAAAAAAD0/ovigRxNr9xM/s320/17.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126954674831828770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-2876581953537055203?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/2876581953537055203/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=2876581953537055203' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/2876581953537055203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/2876581953537055203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-16.html' title='Majapahit Park master plan 16'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyaaHOzhJyI/AAAAAAAAAD0/ovigRxNr9xM/s72-c/17.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-7477299299115702752</id><published>2007-10-29T19:31:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:02.314-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 15</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyaYSezhJxI/AAAAAAAAADs/leHJfi3Gs8w/s1600-h/16.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyaYSezhJxI/AAAAAAAAADs/leHJfi3Gs8w/s320/16.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126952669082101522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-7477299299115702752?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/7477299299115702752/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=7477299299115702752' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/7477299299115702752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/7477299299115702752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-15.html' title='Majapahit Park master plan 15'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyaYSezhJxI/AAAAAAAAADs/leHJfi3Gs8w/s72-c/16.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-3025060716112605584</id><published>2007-10-29T19:27:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:02.585-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 14</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyaXUuzhJwI/AAAAAAAAADk/phqpawSimiU/s1600-h/15.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyaXUuzhJwI/AAAAAAAAADk/phqpawSimiU/s320/15.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126951608225179394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-3025060716112605584?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/3025060716112605584/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=3025060716112605584' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/3025060716112605584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/3025060716112605584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-14.html' title='Majapahit Park master plan 14'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyaXUuzhJwI/AAAAAAAAADk/phqpawSimiU/s72-c/15.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-7199819587792293009</id><published>2007-10-29T19:23:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:02.793-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 13</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyaWT-zhJvI/AAAAAAAAADc/Gv1MejlNvIk/s1600-h/14.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyaWT-zhJvI/AAAAAAAAADc/Gv1MejlNvIk/s320/14.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126950495828649714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-7199819587792293009?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/7199819587792293009/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=7199819587792293009' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/7199819587792293009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/7199819587792293009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-13.html' title='Majapahit Park master plan 13'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyaWT-zhJvI/AAAAAAAAADc/Gv1MejlNvIk/s72-c/14.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-2710191118924468201</id><published>2007-10-29T19:12:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:02.948-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 12</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyaT8ezhJuI/AAAAAAAAADU/lryZEZbgVpg/s1600-h/13.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyaT8ezhJuI/AAAAAAAAADU/lryZEZbgVpg/s320/13.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126947893078468322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-2710191118924468201?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/2710191118924468201/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=2710191118924468201' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/2710191118924468201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/2710191118924468201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-12.html' title='Majapahit Park master plan 12'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyaT8ezhJuI/AAAAAAAAADU/lryZEZbgVpg/s72-c/13.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-2738380838041029208</id><published>2007-10-28T23:30:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:03.607-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 11</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyV_I-zhJrI/AAAAAAAAAC8/XzdR3PcO5Mc/s1600-h/12.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyV_I-zhJrI/AAAAAAAAAC8/XzdR3PcO5Mc/s320/12.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126643543105939122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-2738380838041029208?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/2738380838041029208/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=2738380838041029208' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/2738380838041029208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/2738380838041029208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-11.html' title='Majapahit Park master plan 11'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyV_I-zhJrI/AAAAAAAAAC8/XzdR3PcO5Mc/s72-c/12.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-5675460613491307114</id><published>2007-10-28T23:18:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:03.749-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 10</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyV9duzhJqI/AAAAAAAAAC0/5DO5__PIxzE/s1600-h/11.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyV9duzhJqI/AAAAAAAAAC0/5DO5__PIxzE/s320/11.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126641700564969122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-5675460613491307114?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/5675460613491307114/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=5675460613491307114' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/5675460613491307114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/5675460613491307114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-10.html' title='Majapahit Park master plan 10'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyV9duzhJqI/AAAAAAAAAC0/5DO5__PIxzE/s72-c/11.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-3645663956363569186</id><published>2007-10-28T23:06:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:04.131-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 09</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyV6jezhJpI/AAAAAAAAACs/9WwCeM3vQ3o/s1600-h/10.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyV6jezhJpI/AAAAAAAAACs/9WwCeM3vQ3o/s320/10.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126638500814333586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-3645663956363569186?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/3645663956363569186/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=3645663956363569186' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/3645663956363569186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/3645663956363569186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-09.html' title='Majapahit Park master plan 09'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyV6jezhJpI/AAAAAAAAACs/9WwCeM3vQ3o/s72-c/10.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-1163210342226964424</id><published>2007-10-28T21:57:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:04.397-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 08</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVo7ezhJoI/AAAAAAAAACk/1iAdiMY39vM/s1600-h/9.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVo7ezhJoI/AAAAAAAAACk/1iAdiMY39vM/s320/9.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126619121921894018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-1163210342226964424?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/1163210342226964424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=1163210342226964424' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/1163210342226964424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/1163210342226964424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-07_28.html' title='Majapahit Park master plan 08'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVo7ezhJoI/AAAAAAAAACk/1iAdiMY39vM/s72-c/9.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-6716384979918846029</id><published>2007-10-28T21:43:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:04.632-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 07</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVl3uzhJnI/AAAAAAAAACc/gn4b9kki8A4/s1600-h/8.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVl3uzhJnI/AAAAAAAAACc/gn4b9kki8A4/s320/8.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126615758962501234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-6716384979918846029?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/6716384979918846029/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=6716384979918846029' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/6716384979918846029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/6716384979918846029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-07.html' title='Majapahit Park master plan 07'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVl3uzhJnI/AAAAAAAAACc/gn4b9kki8A4/s72-c/8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-2720006834561573699</id><published>2007-10-28T21:34:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:04.850-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 06</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVkoezhJmI/AAAAAAAAACU/yUP7eYEp2GQ/s1600-h/7.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVkoezhJmI/AAAAAAAAACU/yUP7eYEp2GQ/s320/7.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126614397457868386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-2720006834561573699?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/2720006834561573699/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=2720006834561573699' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/2720006834561573699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/2720006834561573699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-06.html' title='Majapahit Park master plan 06'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVkoezhJmI/AAAAAAAAACU/yUP7eYEp2GQ/s72-c/7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-3140722175182748831</id><published>2007-10-28T21:25:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:05.088-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 05</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVii-zhJlI/AAAAAAAAACM/RIXA3y9X8FQ/s1600-h/6.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVii-zhJlI/AAAAAAAAACM/RIXA3y9X8FQ/s320/6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126612103945332306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-3140722175182748831?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/3140722175182748831/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=3140722175182748831' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/3140722175182748831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/3140722175182748831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-05.html' title='Majapahit Park master plan 05'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVii-zhJlI/AAAAAAAAACM/RIXA3y9X8FQ/s72-c/6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-6635322304877956646</id><published>2007-10-28T21:18:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:05.217-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 04</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVf6-zhJkI/AAAAAAAAACE/fFmFgozofPQ/s1600-h/5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVf6-zhJkI/AAAAAAAAACE/fFmFgozofPQ/s320/5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126609217727309378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-6635322304877956646?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/6635322304877956646/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=6635322304877956646' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/6635322304877956646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/6635322304877956646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-master-plan-04.html' title='Majapahit Park master plan 04'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVf6-zhJkI/AAAAAAAAACE/fFmFgozofPQ/s72-c/5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-415714369281266026</id><published>2007-10-28T20:57:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:05.386-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park masterplan 03</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVb1-zhJjI/AAAAAAAAAB8/TSEiDU3Wcy8/s1600-h/4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVb1-zhJjI/AAAAAAAAAB8/TSEiDU3Wcy8/s320/4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126604733781452338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-415714369281266026?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/415714369281266026/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=415714369281266026' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/415714369281266026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/415714369281266026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-masterplan-03.html' title='Majapahit Park masterplan 03'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVb1-zhJjI/AAAAAAAAAB8/TSEiDU3Wcy8/s72-c/4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-205816664854363491</id><published>2007-10-28T20:51:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:05.540-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 02</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVZj-zhJiI/AAAAAAAAAB0/d3pGXeHrRr4/s1600-h/3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVZj-zhJiI/AAAAAAAAAB0/d3pGXeHrRr4/s320/3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126602225520551458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-205816664854363491?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/205816664854363491/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=205816664854363491' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/205816664854363491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/205816664854363491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-masterplan-02.html' title='Majapahit Park master plan 02'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVZj-zhJiI/AAAAAAAAAB0/d3pGXeHrRr4/s72-c/3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-7110667574482318384</id><published>2007-10-28T20:44:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:05.662-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan 01</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVX5OzhJhI/AAAAAAAAABs/RfJILe9hrTk/s1600-h/2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVX5OzhJhI/AAAAAAAAABs/RfJILe9hrTk/s320/2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126600391569516050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-7110667574482318384?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/7110667574482318384/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=7110667574482318384' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/7110667574482318384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/7110667574482318384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-masterplan-01.html' title='Majapahit Park master plan 01'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVX5OzhJhI/AAAAAAAAABs/RfJILe9hrTk/s72-c/2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-5657576745202047504</id><published>2007-10-28T20:34:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:05.975-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit park'/><title type='text'>Majapahit Park master plan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVWTOzhJgI/AAAAAAAAABk/z1g_Yj4Uvj0/s1600-h/1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVWTOzhJgI/AAAAAAAAABk/z1g_Yj4Uvj0/s320/1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126598639222859266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-5657576745202047504?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/5657576745202047504/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=5657576745202047504' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/5657576745202047504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/5657576745202047504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/majapahit-park-masterlan.html' title='Majapahit Park master plan'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/RyVWTOzhJgI/AAAAAAAAABk/z1g_Yj4Uvj0/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-4259378911468902957</id><published>2007-10-20T06:31:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T13:24:06.075-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='majapahit'/><title type='text'>FESTIVAL SENI DAN BUDAYA MOJOPAHIT 2007</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/Rx7fks6rDOI/AAAAAAAAAAM/qZFW877cgCM/s1600-h/c0011.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/Rx7fks6rDOI/AAAAAAAAAAM/qZFW877cgCM/s320/c0011.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5124779247619738850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;FESTIVAL SENI DAN BUDAYA MOJOPAHIT 2007&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;FESTIVAL PEDALANGAN&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Pendaftaran&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Pendaftaran dimulai pada tanggal 10 s.d 31 Oktober 2007 bertempat di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mojokerto Propinsi Jawa Timur telp 0321- 3222 44&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Waktu dan tempat pelaksanaan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Hari       : Senin s.d kamis&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Tanggal  : 12 s.d 15 Nopember 2007&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Pukul     : 19.00 wib-selesai&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Tempat   : halaman parkir Pendopo Agung Trowulan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Technical meeting tanggal 5 Nopember 2007 pukul 10.00 wib bertempat di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mojokerto&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Syarat-syarat peserta&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-pria atau wanita&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-umur 20 s.d 45 tahun&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-warga Kabupaten Mojokerto&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-menampilkan cerita bebas dengan babon cerita Ramayana ata Mahabarata&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-gagrak jawatimuran&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-durasi 45 menit&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Lain-lain&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-peserta tidak dipungut biaya&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-panitia memberikan bantuan transportasi dan konsumsi&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-panitia memilih 3 penyaji terbaik non rangking dan akan mendapat trophy, piagam penghargaan dan uang pembinaan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-panitia menyediakan fasilitas berupa gamelan pelog slendro, kelir dan wayang simpingan, sound system dan dua orang sinden&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-pengamat: masa Sorowedi dan Pak Jumiran&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;FESTIVAL SENI PERTUNJUKAN&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Batasan pengertian&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Seni pertunjukan merupakan bentuk pergelaran dari berbagai unsur kreativitas musik, tari, teater dan sastra yang bertumpu pada tradisi setempat dan dikemas dalam media tuntunan yang unik dan menarik. Yang termasuk seni pertunjukan diantaranya: ludruk, besutan, kuda lumping, bantengan, reog, kentrung, jaranan, dll.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Bentuk penghargaan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Bentuk kegiatan festival dengan memilih 3 penyaji unggulan non rangking masing-masing mendapatkan trophy, piagam dan uang pembinaan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;materi festival/peserta&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-tema bebas&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-penyajian menggunakan iringan langsung&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-durasi antara 10-20 menit&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-peserta adalah group maksimal 15 orang&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Kriteria pengamatan/penilaian&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-pemilihan materi&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-pengemasan karya&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-kreativitas/keunikan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-harmonisasi&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-penataan artistik&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Fasilitas&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-sound system danlighting&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-panggung&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-konsumsi peserta&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Pendaftaran&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Pendaftaran dilaksanakan mulai tanggal 17 Oktober s.d 5 Nopember 2007 di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mojokerto di Jl. jayanegara 4 Kabupaten Mojokerto telp 0321- 322244 setiap jam kerja&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Penyelenggaraan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Hari     : Senin s.d Kamis&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Tanggal: 12 s.d 15 Nopember 2007&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Pukul   : 14.00 wib-selesai&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Tempat : halaman parkir Pendopo Agung Trowulan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Technical meeting tanggal 5 Nopember 2007 pukul 10.00 wib bertempat di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mojokerto.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Lain-lain&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-peserta tidak dipunguty biaya&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-peserta merupakan wakil dari masing-masing kecamatan di wilayah kabupaten Mojokerto&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-contact person bapak Moh Rejo 081 3300 86 521 dan Sdr Roni Younard 081 85 03992.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-panitia memilih 5 penyaji terbaik non rangking dan akan mendapat trophy, piagam penghargaan dann uang pembinaan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;FESTIVAL MUSIK JALANAN&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Pendaftaran&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Pendaftaran dimulai tanggal 22 Oktober s.d 17 Nopember 2007 bertempat di Dinas pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Mojokerto&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Waktu dan tempat pelaksanaan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Hari       : Minggu&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Tanggal  : 18 Nopember 2007&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Pukul      : 08.30 wib-selesai&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Tempat    : halaman Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mojokerto&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Syarat-syarat peserta&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-pria atau wanita&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-sehat jasmani dan rohani&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-mengisi formulir pendaftaran&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-usia bebas&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-tema lagu bebas dengan durasi waktu max 10 menit (1 atau 2 lagu)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-jenis alat musik akustik (harap membawa alat musik sendiri)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-jumlah group minimal 2 orang maksimal 5 orang&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-berpakaian rapi dan bersepatu (warna bebas dan sopan)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Lain-lain&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-peserta tidak dipungut biaya&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-setiap peserta akan mendapatkan subsidi transportasi Rp 25.000,- s.d Rp 50.000,- (sesuai dengan jumlah group/kelompok) untuk 20 peserta pendaftar pertama&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-untuk juara satu akan mendapat kesempatan mengikuti Festival Jawa Timur di Surabaya&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-panitia memilih juara 1, 2 dan 3 dan akan mendapat trophy serta uang pembinaan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;PAMERAN LUKISAN/FOTO DAN LOMBA LUKISAN ANAK&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Waktu dan tempat pelaksanaan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Tanggal   : 1 s.d 7 Desember 2007&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Pukul      :-&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Tempat    : pasar Industri dan Pusat Informasi Pariwisata Trowulan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Pendaftaran&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Pendaftaran dimulai tanggal 1 s.d 18 Nopember 2007 bertempat di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mojokerto&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Informasi: M Nur Baderi (fotografi) : 081 25 222 501 dan Bapak Drs Hadi Sucipto (senirupa):0321- 7299244.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Persyaratan lomba&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Lomba foto&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-terbuka untuk pelajar SMP/SMA atau sederajat&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-mengisi formulir pendaftaran dan membayar biaya pendaftaran Rp 15.000,- per peserta&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-maksimal 3 karya ukuran 10 R salon (20 cm x 30 cm) dengan tema:&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Trowulan Tempo Dulu dan Kini&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-foto diambil di area Mojopahit&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-penyerahan karya selambat-lambatnya tanggal 25 Nopember 2007 di sekreatraiat Panitia Festival Seni dan Budaya Mojopahit Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mojokerto &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-menyerahkan foto kopi kartu pelajar&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-foto harus original dari kamera HP, kamera digital maupun analog&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-bagi pemenang wajib menyerahkan negatif film atau file asli&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-panitia berhak memamerkan atau menggunakan foto yang dilombakan sebagai media promosi&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-foto yang dilombakan menjadi milik panitia dan tidak akan dikembalikan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-keputusan dewan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Lomba lukisan anak/mewarnai&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-lomba mewarnai untuk TK dan lomba lukisan untuk SD&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-mengisi formulir pendaftaran dan membayar biaya pendaftaran Rp 10.000,- per peserta&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-tema lomba: Trowulan Tempo Dulu dan Kini&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-peralatan lukis dan mewarna dibawa masing-masing peserta&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-panitia menyediakam hadiah berupa trophy dan uang pembinaan bagi pemenag 1,2 dan 3.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-hasil lomba mewarnai dan lomba lukisan menjadi hak panitia&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;PEMILIHAN GUS DAN YUK KABUPATEN MOJOKERTO 2007&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Maksud dan tujuan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-untuk lebih memperkaya wawasan dan khasanah tentang kepariwisataan di Kabupaten Mojokerto ke masyarakat luas&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-sebagai duta pariwisata Kabupaten Mojokerto guna mempromosikan potensio pariwisata Kabupaten Mojokerto ke tingkat regional, nasional maupun internasional&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-mencetak insan pariwisata yang profesional, mampu, siap bersaing, mandiri dan berjiwa wirausaha serta menyiapkan pemuda/pemudi atau generasi muda yang peduli kebudayaan dan kepariwisataan daerah&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Persyaratan peserta&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-warga negara indonesia dutamakan warga masyarakat kabupaten mojokerto (dibuktikan foto kopi KTP)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-umur 17-25 tahun (terhitung sampai dengan tahun 2007)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-pendidikan minimal smu dan sederajat&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-tinggi pria minimal 165 cm dan wanita minimal 160 cm&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-berpenampilan menarik&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-mempunyai wawasan luas tentang pariwisata, sejarah dan kebudayaan kabupaten mojokerto&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Pendaftaran&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-pendafataran dimulai tanggal 15 Oktober s.d 2 Nopember 2007 bertempat di dinas pariwisata dan kebudayaan kabupaten mojokerto setiap jam kerja&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-mengisi formulir pendaftaran dan membayar uang pendaftaran Rp 50.000,-/peserta&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Waktu dan tempat pendaftaran&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Pelaksanaaan dimulai tanggal 6-8 Nopember 2007 di Dinas Pariwisata dan kebudayaan kabupaten Mojokerto dan Grand final tanggal 10 Nopmebr 2007 bertempat di Pendopo graha maja Tama kabupaten Mojokerto&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Kriteria penilaian&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-penguasaan bahasa asing&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-pengetahuan umum&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-pengetahuan pariwisata, seni dan budaya&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-keserasian berbusana&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-penampilan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-kepribadian&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-tes wawancara dilakukan di hotel, dikarantina, diberikan bimbingan dan pelatihan kepribadian, kepemimpinan dan talenta&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Bentuk penghargaan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;bentuk kegiatan dengan memilih juara 1, 2 dan 3, juara harapan dan juara favorit. Masing-masing juara mendapatkan trophy, piagam dan uang pembinaan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;PEMILIHAN RAJA DAN RATU MOJOPAHIT 2007&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Maksud dan tujuan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-untuk lebih memperkaya wawasan tentang sejarah peninggalan dan kebudayaan Kerajaan Mojopahit&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-sebagai duta pariwisata nasional guna mempromosikan potensi pariwisata di Indonesia serta melestarikan sejarah peninggalan dan kebudayaan Kerajaan Mapajahit&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-mencetak insan pariwisata yang profesional, mampu, siap bersaing, mandiri dan berjiwa wirausaha serta menyiapkan pemuda/pemudi atau generasi muda yang peduli dengan sejarah peninggalan dan kebudayaan Indonesia terutama peninggalan Kerajaan Mojopahit&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Persyaratan peserta&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-warga negara indonesia, diutamakan warga masyarakat se jawa timur (dibuktikan foto kopi KTP)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-umur 17-25 tahun (terhitung sampai dengan tahun 2007)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-pendidikan minimal smu atau sederajat&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-tinggi pria minimal 165 cm dan wanita minimal 160 cm&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-berpenampilan menarik&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-mempunyai wawasan luas tentang pariwisata, sejarah dan budaya bangsa indonesia khususnya sejarah kerajaan mojopahit&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-mempunyai kemampuan tentang ketrampilan seni dan budaya ciri khas daerah masing-masing&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Pendaftaran&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-pendaftaran dimulai tanggal 2-25 Oktober 2007 bertempat di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mojokerto setiap jam kerja&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-mengisi formulir pendaftaran dan membayar uang pendaftaran Rp 200.000,-/peserta&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Waktu dan Tempat pelaksanaan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Pelaksanaan dimulai tanggal 26 Oktober 2007 di Hotel Virgo Jl. RA Basuni Sooko Kabupaten Mojokerto dan grand final tanggal 27 Oktober 2007 bertempat di pendopo Graha maja Tama&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Kriteria penilaian&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-penguasaan bahasa asing&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-pengetahuan umum&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-pengetahuan pariwisata, seni dan budaya&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-keserasian berbusana&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-penampilan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-kepribadian&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-pengetahuan sejarah bangsa (mojopahit)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-tes wawancara dilakukan di hotel, dikarantina, diberikan bimbingan dan pelatihan kepribadian, kepempinan dan talenta&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Bentuk penghargaan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;bentuk kegiatan dengan memilih juara 1(Raja dan ratu Mojopahit), juara 2 (Pangeran dan Putri Mojopahit), juara 3 (Pendamping Raja dan Ratu Mojopahit), juara harapan (Pendamping Paneran dan Putri) dan juara favorit. Masing-masing juara mendapatkan trophy, piagam dan uang pembinaan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Pembukaan Festival Mojopahit akan dilaksanakan Minggu, 28 Oktober 2007 pukul 19.00 WIB-selesai di Pendopo Kabupaten Mojokerto Jl. A Yani Kabupaten Mojokerto.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Informasi:&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;BAPAK AFFANDI ABDUL HADI, Kepala Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mojokerto&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Jl. Jayanegara 4 Kabuapten Mojokerto&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;telp 0321- 322244&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;(Sumber:panduan Festival Seni dan Budaya Mojopahit 2007 yang diterbitkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mojokerto Propinsi Jawa Timur)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Keterangan gambar:&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;sampul majalah Arts of Asia (Hongkong) edisi November-Desember 200 memuat Majapahit sebagai laporan utama.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-4259378911468902957?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/4259378911468902957/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=4259378911468902957' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/4259378911468902957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/4259378911468902957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2007/10/festival-seni-dan-budaya-mojopahit-2007.html' title='FESTIVAL SENI DAN BUDAYA MOJOPAHIT 2007'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5mL8Dpcu45A/Rx7fks6rDOI/AAAAAAAAAAM/qZFW877cgCM/s72-c/c0011.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-116504913443203785</id><published>2006-12-02T00:44:00.000-08:00</published><updated>2007-11-01T23:47:57.329-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sumbawa'/><title type='text'>Pilar-Pilar Budaya Sumbawa</title><content type='html'>Terbit : PILAR PILAR BUDAYA SUMBAWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul                    : Pilar pilar Budaya Sumbawa&lt;br /&gt;Penulis                 : Wahyu Sunan Kalimati&lt;br /&gt;Penerbit                : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sumbawa Barat&lt;br /&gt;Cetakan pertama  :  Nopember 2005&lt;br /&gt;Tebal                    : 150 halaman&lt;br /&gt;Tiras                     : 1500 eksemplar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia wisata kita mengenal The Lonely Planet , yang menerbitkan  buku panduan dan sering dijadikan buku rujukan bagi wisatawan dunia. Mereka menerbitkan buku saku dalam berbagai bahasa.&lt;br /&gt;Kalau boleh, buku Pilar-pilar Budaya Sumbawa dapatlah nantinya dijadikan buku panduan untuk mengenal Sumbawa. Meskipun dalam bentuk yang sederhana ,Wahyu S.Kalimati memerlukan waktu sebelas tahun untuk mewujudkan buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Pilar-pilar Sumbawa terbagi atas empat bab, yaitu:&lt;br /&gt;1.Mancawarna –Manusia pemula penghuni Sumbawa dan  gelombang suku-suku  pendatang .&lt;br /&gt;2.Sumbawa dalam suryakanta: pengertian suku Sumbawa, pernik pernik kebudayaan samawa, akulturasi dalam kebudayaan Sumbawa, pemurnian islam dalam renik kebudayaan.&lt;br /&gt;3.Bianglala Bahasa Sumbawa: leluhur bahasa Sumbawa, bahasa samawa—dialek standar, tugas berat dan elastisitas.&lt;br /&gt;4.Tahta pujangga Sumbawa:melacak satera jontal, proses kreatif pujangga, karya sastra monumental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampilan buku ini cukup bagus, dicetak dengan kertas kualitas bagus dan  hard cover. Dicetak sebanyak 1.500 eksemplar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang baru berusia tiga tahun.&lt;br /&gt;Selanjutnya PT Newmont Nusa Tenggara membantu cetak ulang sebanyak 500 eksemplar untuk dibagi secara cuma-cuma kepada karyawan PT Newmont Nusa Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi tentang Sumbawa agak kurang dibanding budaya Jawa  dan Bali. Disarankan agar buku ini dicetak dengan tiras lebih banyak, dijual dengan harga tidak terlalu mahal dan dibagi secara cuma-cuma untuk perpustakaan sekolah di Sumbawa. Juga perpustakan media massa di seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;Untuk sasaran wisatawan manca negara setidaknya buku ini terbit dalam bahasa inggris.&lt;br /&gt;Mudah ditemukan di toko buku di bandara udara, hotel, restoran siap saji, café, spa dan fasilitas wisata lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biografi penulis:&lt;br /&gt;Wahyu Sunan Kalimati terlahir dengan nama Raden Wahyu Wijayanto Adi Susilo Teguh Pangarso, 25 Juli 1968 di Temanggung, Jawa Tengah. Menamatkan pendidikan sampai ke jenjang sarjana (S1) pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Semarang, 1991. Merintis karir sebagai Pemandu wisata (tour guide) khusus obyek wisata daerah Yogyakarta, 1989 hingga tamat kuliah. Belajar seni pedalangan di surakarta, 1992 dan memperluas pengetahuan bahasa inggris di Sydney, australia 1993. Tinggal di jakarta dan bekerja pada perusahaan asing sebagai pemandu wisata lintas pulau sumatra, jawa dan bali 1994. Bekerja pada kantor dinas pariwisata kabupaten Sumbawa 1995. Guru SLTP Negeri 2 Plampang dan semenjak 1998 menetap di Taliwang menjadi staf pengajar bidang studi Kesenian dan bahasa indonesia pada SMA Negeri 1 Taliwang, Sumbawa Barat. Menulis puisi dan artikel tentang pendidikan dan kebudayaan dipublikasikan pada media massa daerah. Aktivis beberapa organisasi kepemudaan di Sumbawa Barat.&lt;br /&gt;Alamat kontak:&lt;br /&gt;Wahyu Sunan Kalimati&lt;br /&gt;Jl.Telaga Biru 1 ,Taliwang, Sumbawa Barat 84355&lt;br /&gt;Telp 0372- 81211, HP 081 3395 14117.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-116504913443203785?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/116504913443203785/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=116504913443203785' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116504913443203785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116504913443203785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/12/pilar-pilar-budaya-sumbawa.html' title='Pilar-Pilar Budaya Sumbawa'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-116504904307299580</id><published>2006-12-02T00:42:00.000-08:00</published><updated>2007-11-01T23:43:40.224-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sumbawa'/><title type='text'>Agus Irawan Syahmi: Penyair Sumbawa</title><content type='html'>Agus Irawan Syahmi: Penyair Sumbawa&lt;br /&gt;TERBIT: ANTOLOGI PUISI  MERAH PUTIH CINTAKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit               : KEMAS SAMAWI (Kerukunan Masyarakat Pecinta Seni Samawa Ano Rawi), Sumbawa Barat&lt;br /&gt;Pengantar             : KH Zulkifli Muhadli, SH, MM (rektor Universitas Cordova Indonesia, di Taliwang, Kab.Sumbawa Barat)&lt;br /&gt;Cetakan pertama  : Agustus 2006&lt;br /&gt;Tebal                    : ix + 96 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan antologi puisi tunggalnya yang kedua setelah Nyanyian Rembulan (2004). Terbagi dalam dua bagian Merah Putih Cintaku (27 puisi) dan bagian kedua dengan Sajak Cinta SMS (56 puisi). Dua puisi diantaranya dalam bahasa daerah Taliwang: Beka Po dan I..Aqu’na,…Bero Mo.&lt;br /&gt;Puisi Beka Po sempat dibacanya dalam Apresiasi Sastra di SMAN Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Kamis, 9 Nopember 2006. Dalam acara yang disponsori oleh PT Newmont Nusa Tenggara tersebut hadir pembicara utama: Max Arifin dan Dinullah Rayes, dengan moderator Wahyu Sunan Kalimati, penulis buku Pilar-pilar Budaya Sumbawa.Dihadapan sekitar 150 undangan, Agus Irawan Syahmi menunjukkan kualitasnya sebagai pembaca puisi yang handal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ini Agus Irawan Syahmi (AIS) masih berkutat pada persoalan teknis bahasa ucap. Dan belum sepenuhnya berhasil.&lt;br /&gt;Meskipun dengan tema yang sama, kalau boleh membandingkan, puisi-puisi karya Wiji Thukul masih lebih “kena” meskipun dengan bahasa ucap Wiji Thukul yang ‘ala penyair kampung’ itu.&lt;br /&gt;Atau bolehlah menengok puisi Goenawan Mohamad :Zagreb---berbicara tentang tema sosial politik dengan begitu mencekam.&lt;br /&gt;Beberapa puisi  dalam buku ini malah terkesan sloganisme.&lt;br /&gt;Kesibukan AIS sebagai politisi muda mungkin membuatnya  tak banyak waktu membaca buku untuk menambah referensi dalam eksplorasi bahasa ucap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca judul antologi puisi Merah Putih Cintaku, spontan saya teringat pada penyanyi Leo Kristi. Lewat syair-syair lagu yang  ditulisnya , nasionalisme, hadir dengan roh yang sungguh berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada juga puisi yang cukup menarik Menjelang Lebaran: Sehabis lelah mencapai/ Setelah lapar dikenyangkan/ Setelah birahi diragikan/ Setelah malam didirikan/ Setelah qalam dikhatamkan/setelah duka fakir disenyumkan/ Setelah takbir, tahmid dan tasbih dilagukan/Selalu ada yang tergadai dalam sunyi jiwa/ Bila pintu maaf atas lafas-laku kami yang ternoda/Tak tersucikan dari kemuliaan kalbu jamaah seiman/&lt;br /&gt;Perkenankan kami bersama kekasih keindahan surga MU/Taqabalallhu minna wa minkum/  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun kehadiran AIS menambah daftar nama penyair Sumbawa, selain Dinullah Rayes dan Asmi Dewi (karyawati PT Newmont Nusa Tenggara, yang sedang menyiapkan antologi puisi tunggal yang pertama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Irawan Syahmi, lahir di Tepas-Brang Rea, Kabupaten Sumbawa Barat, 37 tahun lalu. Bapak 3 anak , alumni Universitas Muhammadiyah Mataram..Saat ini menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum Daerah Kabupaten Sumbawa Barat.&lt;br /&gt;Sebelumnya telah menerbitkan antologi puisi tunggal Nyanyian Rembulan (Lembaga Kebudayaan LONTO ENGAL, Sumbawa, 2004).&lt;br /&gt;Beberapa catatan berkesenian antara lain:&lt;br /&gt;-Pendiri dan pembina Kerukunan Masyarakat Pecinta Seni Samawa Ano Rawi (KEMAS-SAMAWI)  Sumbawa Barat&lt;br /&gt;-Elemen Komunitas Sastra Sumbawa Barat&lt;br /&gt;-Tim kreator Lembaga Kebudayaan Lonto Engal, Sumbawa&lt;br /&gt;-Pendiri dan pembina lembaga musik PROGRES RAAW Taliwang, Sumbawa Barat&lt;br /&gt;-Mengikuti Festival Teater Nasional di Solo, 1993 bersama Bengkel Aktor Mataram&lt;br /&gt;-Menjadi sutradara pagelaran sastra Dari Catatan Harian Sahdi untuk Sahdia, karya Max Arifin, pada Festival Teater Kampus di Universitas Mataram, 1992.&lt;br /&gt;-Ketua Bidang Teater SASENTRA Universitas Muhammadiyah Mataram 1990-1993&lt;br /&gt;-Menjadi sutradara pagelaran sastra Lautan Jilbab karya Emha Ainun Nadjib bersama SASENTRA Universitas Muhammadiyah Mataram, 1993.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamat kontak:&lt;br /&gt;Agus Irawan Syahmi,&lt;br /&gt;Jl.Lasap Gang Brang Mate 13, Menala, Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat&lt;br /&gt;Hp 081 339 722 369.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(abdul malik, email:banyumili@telkom.net)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-116504904307299580?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/116504904307299580/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=116504904307299580' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116504904307299580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116504904307299580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/12/agus-irawan-syahmi-penyair-sumbawa.html' title='Agus Irawan Syahmi: Penyair Sumbawa'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-116504896784861704</id><published>2006-12-02T00:41:00.000-08:00</published><updated>2007-11-01T23:42:19.254-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='newmont'/><title type='text'>BATU HIJAU,Dulu,Kini dan Esok</title><content type='html'>TERBIT: BATU HIJAU, DULU, KINI DAN ESOK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul                    : BATU HIJAU,DULU,KINI DAN ESOK&lt;br /&gt;Penulis                 : Eddy Karna Sinoel&lt;br /&gt;Editor                   : Eddy Karna Sinoel, Masnun Mas’ud&lt;br /&gt;Fotografer            : I Nyoman Budhiana&lt;br /&gt;Periset data           : Masnun Mas’ud&lt;br /&gt;Pracetak                : Mahirun Mahyun&lt;br /&gt;Tebal                     : xiv+302 halaman&lt;br /&gt;Penerbit                 : PT Newmont Nusa Tenggara&lt;br /&gt;Cetakan pertama   : 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Pengantar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            BATU HIJAU DULU,KINI DAN ESOK adalah buku berisi rekam jejak anak negeri dari sudut-sudut desa yang sekarang mulai menggeliat setelah bertahun-tahun lamanya hidup dalam keterbatasan. Ini adalah sebuah catatan perjalanan. Perjalanan menelusuri desa-desa, berdialog dengan petani, nelayan, pengrajin, pengusaha kecil, anak-anak muda penuh kreatif, siswa, guru, dokter serta mereka yang menyintai desa dan masyarakatnya. Ada kilas balik.Dulu, Kini dan Esok. Cerita lama adalah penggalan sejarah lampau. Namun ia menjadi sejarah kini. Dan sejarah kini akan menjadi pula sejarah esok. Itulah yang ingin disampaikan dalam kumpulan rekam jejak dan catatan perjalanan ini. Lihatlah desa-desa itu. Sekongkang Atas, Sekongkang Bawah, Tongo, Aik Kangkung, Tatar serta Goa, Maluk dan Benete.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;           Kegairahan warga terlihat di sana. Prakarsa anak-anak desa terus tumbuh. Mencoba mengambil peran dalam kehidupan desa. Proses kreatif yang penuh optimisme. Di sepanjang jalan Aik Kangkung menuju Tatar, siswa berseragam nampak bersemangat pergi ke sekolah, sementara seorang dokter di Maluk dengan bangga menyatakan malaria di sini tidak lagi menjadi penyakit yang menakutkan. Ada petani di Benete bercerita tentang keberhasilan menanam bawang merah. Guru di Sekongkang Bawah bertutur tentang prestasi siswa, siswa bicara tentang cita-cita, sementara seorang warga Desa Sekongkang Atas mengisahkan kemajuan koperasinya. Dari Tongo, ada tokoh masyarakat yang bangga dengan kemajuan desanya, sedangkan seorang petani Tatar merasa optimistis dengan potensi gaharunya cukup menjanjikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Keberhasilan budidaya System of Rice Intensification (SRI) diceritakan petani dari Aik Kangkung dan Sekongkang  Bawah, sedangkan petani di Goa berhasil mengelola bisnis kopra. Lihat pula kisah mahasiswa asal Belo yang mendapat beasiswa atas prestasinya. Inilah wajah lingkar tambang. Secara nyata yang tampak sekarang adalah kegairahan Sekongkang dan menggeliatnya Jereweh, dua kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat yang tengah memacu pertumbuhan dan pemberdayaan warga desa. Inilah rekam jejak yang ingin disampaikan dalam buku ini. Banyak pelajaran bahkan teladan yang bisa dipetik ketika rangkuman data dicari lagnsung ke desa-desa yang kini sedang mengalami perkembangan itu. Suguhan fakta dari sebuah proses pemberdayaan, pengembangan dan pembangunan masyarakat yang tengah terjadi saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Pada posisi itulah buku BATU HIJAU DULU, KINI DAN ESOK ini disusun. Disusun dari fakta lapangan yang dituangkan dalam kalimat-kalimat bertutur. Tujuannya sederhana, ingin memberikan gambaran utuh dan sesungguhnya dari kehadiran sebuah program besar yang disebut Community Development (ComDev) sebagai prakarsa Newmont Batu Hijau yang dalam putaran waktunya hingga sekarang telah memberi nuansa pertumbuhan dan perkembangan bagi kehidupan di desa-desa lingkar tambang. Dan disadari sepenuhnya bahwa belum semua sisi-sisi kehidupan penduduk desa lingkar tambang terangkum dalam buku ini. Tentu masih ada catatan-catatan keberhasilan dari warga desa lainnya yang belum terangkat. Atau, mungkin juga ada pandangan-pandangan lain yang kebetulan saja berbeda. Biarkanlah warna-warni itu menjadi bagian dari kehidupan. Karena sesungguhnya ia adalah juga sisi lain dari persahabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Buku BATU HIJAU, DULU,KINI DAN ESOK diterbitkan oleh Community Development (ComDev) Newmont Batu Hijau. Apakah ada pesan yang ingin disampaikan? Ada.Hanya sepenggal kalimat,”Bahwa desa tanpa kita sadari banyak memberi pelajaran kehidupan”.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;           Lingkar Tambang, Agustus 2005&lt;br /&gt;           EDDY KARNA SINOEL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           EDDY KARNA SINOEL adalah wartawan senior di Nusa Tenggara Barat. Karir jurnalistiknya dirintis di Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA sejak tahun 1990 hingga sekarang.Pendidikan formalnya diselesaikan pada jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Parahyangan Bandung.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan buku ini, silakan menghubungi:&lt;br /&gt;Bapak Kasan Mulyono,&lt;br /&gt;Public Relation Manager&lt;br /&gt;PT Newmont Nusa Tenggara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Site:&lt;br /&gt;Jereweh, Sumbawa Barat, NTB&lt;br /&gt;Telp 0372-635318 ext.46260&lt;br /&gt;Fax 0372-635319 ext 46317&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamat surat:&lt;br /&gt;Jl.Sriwijaya 258 Mataram NTB&lt;br /&gt;Telp 0370- 636318&lt;br /&gt;Fax 0370- 633349&lt;br /&gt;Email: Kasan.Mulyono@Newmont.com dan ptnnt.public.relation@Newmont.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-116504896784861704?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/116504896784861704/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=116504896784861704' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116504896784861704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116504896784861704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/12/batu-hijaudulukini-dan-esok.html' title='BATU HIJAU,Dulu,Kini dan Esok'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-116504887902511154</id><published>2006-12-02T00:39:00.000-08:00</published><updated>2007-11-01T23:44:53.418-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sumbawa'/><title type='text'>Ada Bimbo di HUT Kabupaten Sumbawa Barat</title><content type='html'>ADA BIMBO DI HUT  KABUPATEN SUMBAWA BARAT&lt;br /&gt;Catatan perjalanan oleh abdul malik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan hari lahir ke 3 Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) nampaknya akan diadakan secara meriah. Kelompok vokal asal Bandung, BIMBO akan menghibur masyarakat Taliwang dan sekitarnya pada Senin, 20 Nopember 2006 di alun-alun KSB di Kecamatan Taliwang.&lt;br /&gt;Sehari sebelumnya akan diadakan pentas kolosal oleh Teater Total dengan tema “Nuansa KSB Bumi Penuh Rahmat Tuhan” di alun-alun KSB pada pukul 20.00 wita.&lt;br /&gt;Mustakim Biawan sutradara pementasan tersebut di rumah makan Totang Rasa, Taliwang, Kamis siang (9/11), mengatakan bahwa nantinya pementasan akan didukung lebih dari 100 seniman KSB dengan mengambil tema sentral “Berbeda Itu Indah”.&lt;br /&gt;Musbiawan, panggilan akrab mantan Kepala Taman Budaya Nusa Tenggara Barat tersebut menjamin bahwa pentas kolosal nantinya bebas dari titipan dan sponsor yang biasa dilakukan pejabat saat menggelar ulang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datanglah ke kecamatan Taliwang yang menjadi ibukota KSB. Disana sini akan tampak pembangunan yang pesat dan kadang membuat kita geleng kepala. Jumat siang (10/11) terlihat sejumlah pekerja sedang mengerjakan gedung DPRD yang menelan biaya 7 milyar, sementara jumlah anggota dewan di KSB hanya 20 orang.&lt;br /&gt;Di sudut yang lain gedung kabupaten KSB sedang dikebut termasuk fasilitas helipad. Di seberangnya  ada guest house dengan kapasitas 600 kamar.Begitulah geliat Taliwang yang kalau mau jujur diakui karena keberadaan PT Newmont Nusa Tenggara (NNT).&lt;br /&gt;PT NNT  tahun 2005 membayar Pajak Bumi dan Bangunan sebesar Rp 9.063.178.522 kepada Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan Kabupaten Sumbawa Barat. Hal ini diungkapkan Bapak Malik Salim, Senior Manajer Hubungan Eksternal PT NNT, Sabtu malam, (11/11) di Hotel Lombok Raya, Mataram. Di luar kewajiban tersebut , PT NNT setiap tahun juga mengeluarkan sekitar dua puluh miliar rupiah untuk pengembangan masyarakat dan bantuan sosial. (Buletin Suara Batu Hijau, Edisi Masyarakat, No.10/Nopember 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Max Arifin,70, budayawan kelahiran Alas, Sumbawa Besar, menyempatkan diri mengunjungi Taliwang sebagai bagian dari agenda pulang kampung yang disponsori PT Newmont Nusa Tenggara.”Ada banyak perubahan di Taliwang semenjak saya mengajar di SMI (Sekolah Menegah Islam, setingkat SMP) Taliwang sekitar empat puluh tahun lalu.”. Saat mengajar di Taliwang selama tiga tahun tersebut, Pak Max, apnggilan akrabnya  mempunyai kelompok musik.”Saya bagian main biola dan gitar”. Salah satu anggotanya yang masih hidup adalah Bapak H.Lalu Muhadli, ayahanda Bupati Taliwang saat ini, K.H.Zulkifli Muhadli, SH, MM.&lt;br /&gt;Tinggal di  rumah yang asri di Jl.Mawar, Pak Muhadli menerima kehadiran kami dengan ramah, Jumat (10/11). Setelah makan siang, kami mengunjungi Pondok Pesantren Al Ikhlas di Jl.Pondok Pesantren 112.Di lahan seluas lima hektar dengan pemandangan bukit yang indah berdiri juga Universitas Cordova. Baik Pondok Pesantren maupun Universitas Cordova dikelola oleh Bapak K.H.Zulkifli Muhadli, SH MM.&lt;br /&gt;Sebagai alumni Pondok Pesantren Gontor di  Ponorogo, Pak Zulkifli menerapkan metode pendidikan  Ponpes Gontor pada Pondok Pesantren Al Ikhlas yang dikelolanya.&lt;br /&gt;Nama Cordova diambil dari nama sebuah kota di Spanyol yang pernah menjadi pusat kejayaan peradaban Islam dan pengembangan iptek pada abad X-XI. Diharapkan nama Cordova dapat menjadi sugesti dan pemompa semangat perjuangan bagi pimpinan dan staf Undova dalam memberikan pelayanan jasa pendidikan tinggi kepada masyarakat.&lt;br /&gt;Undova pada tahun ajaran 2005/2006 memiliki 214 mahasiswa yang tersebar pada 5 Program studi yaitu: Ekonomi Islam, Teknik Informatika, Teknik Pertambangan, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa Inggris dan Ilmu administrasi Pemerintahan.&lt;br /&gt;Saya teringat kepada Bapak Machmoed Zain, mantan Bupati Mojokerto di Jawa Timur, yang begitu mengagumi kejayaan Majapahit , sehingga nama universitas yang  didirikan saat masih menjabat sebagai bupati pun mencantumkan Majapahit: Universitas Islam Majapahit (UNIM). Sampai hari ini masih berdiri cukup megah di Jl.Raya Jabon Kabupaten Mojokerto, dengan arsitektur bernuansa Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang tamu yang semilir oleh angin ,siang itu Ibu Bupati didampingi putra sulung dan salah satu kerabat, menerima kedatangan Pak Max Arifin dan tim, sementara Bapak Bupati sedang berada di Jakarta untuk tugas kedinasan.&lt;br /&gt;Selanjutnya Pak Max menceritakan tentang bagaimana ‘menemukan’ salah satu sahabat lamanya, H.Lalu Muhadli.”Saat itu  saya sedang sakit di RS SidoWaras, Bangsal, Kabupaten Mojokerto. Ada anak muda yang mengenalkan diri bahwa istrinya berasal dari Sumbawa, dan memiliki nomor telepon H.Lalu Muhadli.”. Begitu gembiranya, dari kamar RS Sido Waras, Pak Max langsung mengontak sahabat lamanya lewat ponsel. Dan kontak selanjutnya berlangsung sampai hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Max menyerahkan cinderamata perahu Majapahit yang dimasukkan dalam botol dengan tulisan berupa lawas :Kudatang jango desa/Nonda kaling kubawa/Salamat gama parana/, dua buku terjemahan Pak Max masing-masing My Life in Art karya Konstantin Stanislavsky, Ledakan dan Bom- biografi Antonin Artaud dan  buku Kabupaten Mojokerto Menuju Masa Depan, yang diterima  Ibu Bupati.&lt;br /&gt;Sementara Ibu Bupati menyerahkan sebotol madu khas Sumbawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang pukul tiga sore, Pak Max dan tim pamit dan melanjutkan perjalanan kembali ke Hotel Trophy di Maluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ‘hadiah’ bagi ulang tahun Kabupaten Sumbawa Barat yang ke 3 tanggal 20 Nopember 2006 adalah perubahan status desa Maluk yang berpenduduk  tujuh ribu jiwa menjadi kecamatan.&lt;br /&gt;Dalam beberapa kesempatan, saya mendengar tentang berita korupsi, ijazah SD Bupati Taliwang yang dipertanyakan  keabsahannya, rencana Bupati menggelar  seribu spanduk untuk masuk MURI dengan tulisan yang  provokativ “Mari kita rebut tiga persen saham PT Newmnont untuk KSB”, dana lima ratus juta yang digulirkan PT Newmont Nusa Tenggara kepada Pemkab KSB untuk proyek jalan menguap tanpa realisasi kongkrit.&lt;br /&gt;Kembali saya teringat kepada sahabat email saya: Arif Hidayat. Pemuda kelahiran Alas, Sumbawa Besar tersebut adalah  redaksi Sumbawanews, dan saat ini menjadi ketua panitia Hari Anti Korupsi Sedunia 9 Desember nanti.Dalam salah satu kesempatan dari Hotel Trophy di Maluk, Rabu (8/11) saya sempat bertanya via ponsel kenapa tidak membuat liputan khusus berkaitan isu korupsi yang begitu santer di KSB.&lt;br /&gt;“Tak ada informasi dan data yang masuk,” kata Arif yang juga aktif dalam Masyarakat Transparansi Indonesia dan Tiga Pilar Kemitraan..Rasanya benar juga informasi dari  sebuah lembaga dunia  yang menyatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara terkorup di dunia. Bahkan penyair Taufiq Ismail memberi judul antologi puisinya :Malu Aku Jadi Orang Indonesia………………………………………………………………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(abdul malik, email:banyumili@telkom.net)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-116504887902511154?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/116504887902511154/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=116504887902511154' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116504887902511154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116504887902511154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/12/ada-bimbo-di-hut-kabupaten-sumbawa.html' title='Ada Bimbo di HUT Kabupaten Sumbawa Barat'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-116504875873032256</id><published>2006-12-02T00:36:00.000-08:00</published><updated>2007-11-01T23:46:53.027-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sumbawa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='newmont'/><title type='text'>Surat Dari Seberang 2 (Max Arifin)</title><content type='html'>SURAT DARI SEBERANG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngunglu ayam ling Samawa&lt;br /&gt;Samung ling sanak do tokal&lt;br /&gt;Mole tu sakompal ate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ecun,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan lalu aku diundang oleh PT Newmont Nusa Tenggara. Undangan untuk pulang kampung, atau dalam bahasa “tau Samawa” “mole jango desa”; karena sesungguhnya sudah 65 tahun aku tidak pernah melihat daerah yang sekarang disebut Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) itu. Sayup-sayup terngiang-ngiang sepotong lawas Samawa yang dibawakan oleh seoramg pemuda yang kesepian yang sedang menjaga padinya di sawah pada malam hari. Rindu pada wajah kekasih yang lama tidak bersua karena pekerjaan yang mendera badan……..kudatang jango desa, nonda kaleng kubawa, selamat gama parana.&lt;br /&gt;Di samping aku dan istriku ikut pula sdr. Abdul Malik dan Novarita teman-teman baikku yang selama ini membantu aku dalam berbagai hal dan pekerjaanku.. Aku banyak melihat dan berbicara dengan beberapa orang staf dan karyawan PT Newmont.&lt;br /&gt;Ecun,&lt;br /&gt;Waktu terasa berjalan cepat sekarang ini, karena di sana orang-orang berbicara dan berdiskusi tentang perencanaan masa depan. Waktu tidak beku atau membatu seperti terdapat dalam otak orang-orang yang berpikir tradisional. Empat puluh tahun yang lalu, kita bisa mengatakan waktu itu malah tidak ada. Apapun jenisnya, perencanaan berarti suatu antisipasi keadaan masa depan. Penegasan visi tentang masa depan pada saat ini adalah bertujuan untuk memotivasi, membimbing dan mengarahkan tindakan sekareang---suatu masa depan yang berbeda dengan masa sekarang, namun penuh dengan agen dan kontra agen, objek-objek yang perlu dihindari, objek-objek yang perlu dicakup, sarana untuk memungkinkan penghindaran, kekuatan yang saling berkaitan, manusiawi dan yang non manusiawi, lunak, bermusuhan atau netral.&lt;br /&gt;Manusia terkondisi untuk berubah dan membuat perencanaan menjadi penting dan perlu bagi diri mereka untuk memilih dan bertindak karena kebutuhan dalam medium sejarah. Namun karena masa depan itu akan berbeda dengan masa seakarang, maka manusia tidak mengetahui seberapa jauh mempercayai antisipasinya yang sekarang mengenai masa depan itu dalam rangka menyiapkan diri untuk menghadapi dan menanggulanginya.. Seperti dikatakan oleh Warren G.Bennis, dan kawan-kawan, dalam bukunya, The Planning of Change (Rinehart &amp;amp; Winston, Inc. 1985) semua perencanaan manusia adalah perencanaan perubahan dan memerlukan pertimbangan mengenai keseimbangan yang layak antara investasi energi dan sumberdaya untuk mengejar atau menghindari akibat yang dapat kita antisipasi sekarang., suatu masa depan yang kurang lebih akan menimbulkan keterkejutan, karena sistem sosial yang selama ini kita hadaapi adalah bersifat evolusioner.&lt;br /&gt;Manusia modern dikhianati oleh arah tradisi, Ecun. Mereka menghadapi sekaligus harapan dan ketakutan akan masa depan yang belum diketahui secara langsung karena kehilangan kepercayaan pada pedoman dari kebiasaan dan kebijaksanaan tradisional. Kita kadang-kadang menjadi gamang, bergerak antara harapan dan ketakutan. Kukira itulah sebenarnya yang dimaksud oleh Pak Basar, seorang staf Comdev ketika mengantar kami berkeliling ke desa-desa sampai ke Tatar. Pak Basar menyebut-nyebut tentang mentalitas dan peri laku. Kompas (30 November 2006) mengutip ceramah Prof. Michael Porter dalam sebuah seminar di Jakarta. Profesor itu bertanya, lalu kenapa Indonesia tetap stagnan? Dia jawab sendiri, “Saya pikir penyebabnya sebagian adalah masalah mentalitas dan perilaku” dan dia meminta agar pola berpikir kita diubah. Hal serupa sedikit banyak disebut-sebut pula oleh Bapak Malik Salim, Asisten Senior Manager External Relation PT Newmont dalam diskusi kecil dengan beliau di Hotel Lombok Raya, Mataram. Masyarakat sedang mengalami perubahan secara drastis dan dunia kini dibayangi oleh perubahan ke arah masyarakat informasi. Dalam waktu dekat kita akan memasuki suatu dunia yang benar-benar baru. Di dalam dunia yang baru ini kesatuan pengetahuan, sifat komunikasi manusia, tatanan masyarakat, tatanan gagasan dan gagasan yang sesungguhnya mengenai masyaraakat dan kebudayaan mengalami perubahan dan tidak akan kembali seperti semula. Dunia baru yang kita hadapi adalah dunia “jungkir-balik” nilai-nilai yang akan melahirkan kegamangan di sebagian besar anggota masyarakat; terjadinya pembubaran dan perubahan wewenang secara besar-besaran dalam keyakinan, dalam ritual dan dalam tata-tertib duniawi. Namun inilah dunia yang kita diami. Suka atau tidak suka. Pak Basar dan Pak Malik Salim tentu mengalami dan menghadapi kesulitan-kesulitan; banyak kesulitan. Kesulitan-kesulitan ini barangkali berasal dari perkembangan dalam pemahaman, dalam ketrampilan, bahkan dalam keluasaan.&lt;br /&gt;Ecun,&lt;br /&gt;Sebuah masyarakat atau individu yang “well-informed” atau tercerahkan akan mudah berubah atau beradaptasi dengan gagasan-gagasan atau ide-ide baru. Bukan dalam arti menerima begitu saja, tetapi (yang kita kehendaki) adalah terjadinya proses analisis dan internalisasi pada dirinya. Distorsi informasi---apalagi kalau disengaja atau memanipulasi informasi---akan bisa menimbulkan hal-hal yang fatal. Seperti yang terjadi di daerah-daerah dan tawuran antar kelompok. “Proses tentang informasi” adalah penting, karena dengan proses itu kita berusaha memberikan pada masyarakat kita tentang wawasan tentang apa yang sedang berlangsung di sekitar kita, di dalam diri kita dan antara diri kita dan orang lain. Selama ini barangkali saja ada yang salah. Kita haruslah berpendapat bahwa informasi diperlakukan sebagai isi dalam lingkungan yang mempunyai potensi untuk mengubah proses, strategi dan rencana sistem yang dibuat dengan sengaja (by designed). Bisa saja pemecahan masalah oleh Comdev akan menimbulkan masalah baru (yang tidak diramalkan). Mungkin kita tidak pernah dapat mengambil langkah yang akibatnya memang kita maksudkan. Mungkin pula selama penelitian Comdev sering menemukan tujuan baru yang dipertaruhkan dalam tindakan kita yang berada di luar batas tujuan kita sendiri. Dengan de mikian secara metafora---maaf pada Pak Basar--- langkah perencanaan dan tanggapan pihak yang direncanakan (rakyat Sekongkang dan Jereweh khususnya dan KSB umumnya) dapat dilihat sebagai suatu percakapan. Namun konteks perencanaan adalah konteks di mana perencanaan dan pihak yang direncanakan mungkion benar-benar berbicara satu-sama-lain (berkomunikasi atau bermiskomunikasi), sebagaimana mungkin terjadi tentang makna yang telah mereka bentuk atau sepakati, baik untuk langkah mereka sendiri maupun untuk langkah pihak lain.&lt;br /&gt;Ecun,&lt;br /&gt;,PT Newmont ini tentu mempergunakan perencanaan modern. Secara sepintas aku dapat melihat dan merasakan “aura” rasional-komprehensif yang berada di dalam konteks kesadaran objektif: suatu keadaan kesadaran yang dibersihkan dari semua penyimpangan subjektif dan semua keterlibatan atau kesalahan pribadi. Perencanaan seperti ini terasa elitis dan cenderung sentralistis yang benar-benar menutup semua kemungkinan untuk perubahan sosial kecuali yang sudah diprogramkan sebelumnya. Sejarah mengajarkan kita, bahwa perubahan penting selalu unik, tidak dapat diramalkan dan tidak dapat diulang. Kita orang-orang modern sering tidak sabaran dengan mengatakan perubahan adalah sebuah proses yang tidak ada akhirnya. Aku akan mengatakan pada manusia modern, bahwa sumber perubahan sosial kreatif itulah yang tidak dapat diperhitungkan. Atau seperti yang ditulis oleh dua orang dramawan Inggris, Richard Edmund dan Nigel Hughes yang mengunjungi jantung Kalimantan sampai ke Longpahangan: “ Usaha kami bukanlah memaksakan metode dan nilai-nilai kami, tetapi sebaliknya adalah belajar dari mereka dan mengembangkan ideologi kaya, kesenian dan kreativitas mereka sendiri yang telah dihancurkan dan dipinggirkan oleh pengaruh-pengaruh dari luar, terutama oleh bangsanya sendiri” (Rainforest Quest/Trees of Paradise,Green ress, 1991: 169). Lebih jauh dua orang dramawan ini menulis di sana: “Rakyat di sana bukan cuma contoh dari kebudayaan yang sudah tua, tetapi mereka adalah penjaga-penjaga, guardians misteri yang ada di daerah mereka, walau sebagai penjaga mereka tidak punya konsep tentang bahaya besar yang mengintai mereka, bahaya yang mengancam ‘the core of their existence’ , the mystery itself” (hal 278).&lt;br /&gt;Ecun,&lt;br /&gt;Di sinilah kayaknya ada pemahaman yang saling bertentangan tentang apa kebudayaan itu. Bagi kita orang-orang modern---aku, Pak Malik Salim, Pak Basar, Pak Kasan Mulyono, Pak Zambani, Pak Jarot, dan lain-lain---tidaklah memandang kerbudayaan---tradisi, perilaku, adat-istiadat, dan lain-lain---sebagai suatu heritage, suatu warisan yang sebagaimana dipahami oleh masyarakat setempat, masyarakat lingkar tambang atau KSB umumnya. Bagi mereka heritage adalah pedoman-hidup, pedoman dalam bertingkah-laku dan berperilaku dan bersikap serta alat-perekat anggota masyarakat. Lawas, sakeco, badede, langko, dan lain-lain harus dilestarikan. Bagi mereka kebudayaan adalah terdiri atas kebudayaan-kebudayaan yang sudah lama ada yang saling berdamai satu sama lain. Tetapi bagi kita---manusia-manusia modern yang dikhianati oleh tradisi itu---kebudayaan kita pahami sebagai fragmen-fragmen masa lalu yang saling tak terdamaikan, bukan penemuan tetapi warisan yang bermetamorposes, melalui kreativitas budi dan akal manusia. Masa lalun itu adalah sesuatu yang harus ditaklukkan dan dianeksasi dan adalah dalam diri kita---manusia-manusioa modern itu---di mana dialog-dialog besar dengan kebudayaan=kebudayaan kebesarabn masa lalu itu menjadi hidup. Dengan demikian---terutama dengan hormat pada Bapak Malik Salim---kebudayaan itu menjadi kompendium dan menyokong kebesaran Manusia (manusia dengan huruf besar M) dan membuat mereka memiliki dan banggga akan harkat mereka sebagai manusia. Lewat kebudayaan, terutama seni kita ---seni modern dan seni tradisional---kita mencoba menolak takdir kita. “All art is a revolt agaisnt man’s fate”, kata Andre Malraux dalam bukunya The Voices of Silence (Granada Publishing House, 1974: 639)&lt;br /&gt;Ecun,&lt;br /&gt;Aku dan teman-teman timku telah melihat geliat Jereweh. Gairah Sakongkang, Magnet Maluk dan Benete, Harapan Belo. Kegigihan Goa. Kiprah Beru. Optimisme Tongo dan Tatar----terima kasih lagi pada Pak Basar----. Mungkin apa yang kami lihat adalah secara fisik saja, tetapi kami berharap adalah pula geliat itu dalam bentuk mental dan peri laku.&lt;br /&gt;Terakhir aku ingin mengucapkan terima kasih pada dua orang siswa SMA Negeri Jereweh, Pipin Riyanto dan Fitri yang telah menelpon aku menanyakan masalah kreativitas dalam penulisan. Semoga kalian kelak menjadi penulis-penulis yang handal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada seluruh masyarakat lingkar tambang, kami mengucapkan”&lt;br /&gt;No soda su ku ko sia&lt;br /&gt;Ko paranaku baesi&lt;br /&gt;Ling genras ku sayang sia..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Max Arifin.&lt;br /&gt;Jl.Bola Voli Blok E 33&lt;br /&gt;Perum Griya Japan Raya,Sooko,&lt;br /&gt;Kabupaten Mojokerto 61361&lt;br /&gt;Jawa Timur&lt;br /&gt;Telp 0321-326915&lt;br /&gt;HP 085 2300 39 807&lt;br /&gt;Email: daxxenos2@yahoo.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-116504875873032256?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/116504875873032256/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=116504875873032256' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116504875873032256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116504875873032256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/12/surat-dari-seberang-2-max-arifin.html' title='Surat Dari Seberang 2 (Max Arifin)'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-116011147745756558</id><published>2006-10-05T22:04:00.000-07:00</published><updated>2007-11-01T23:50:17.401-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='max arifin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teater'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='absurd'/><title type='text'>Absurditas Dari Mojokerto (foto)</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6401/2121/1600/maxarifinberdiri.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/6401/2121/320/maxarifinberdiri.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-116011147745756558?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/116011147745756558/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=116011147745756558' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116011147745756558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116011147745756558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/10/absurditas-dari-mojokerto-foto.html' title='Absurditas Dari Mojokerto (foto)'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-116011078711310536</id><published>2006-10-05T21:57:00.000-07:00</published><updated>2007-11-01T23:52:07.216-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='max arifin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teater'/><title type='text'>Wawancara Max Arifin di Jurnal Budaya Surabaya</title><content type='html'>Apalah Arti Gedung Kesenian yang Megah dan Representatif&lt;br /&gt;“Kota seperti Surabaya, saya kira, memang memerlukan sebuah gedung kesenian yang representatif. Surabaya perlu menampilkan wajah yang berbudaya, bukan wajah sangar seperti sekarang. Namun, apalah arti sebuah gedung kesenian yang megah dan representatif bila kita tidak mampu mengisi dengan kesenian-kesenian yang bermutu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 18 Agustus lalu, Max Arifin genap berusia 70 tahun. Ulang tahunnya dirayakan kecil-kecilan di rumahnya oleh sejumlah seniman muda, baik dari dalam maupun luar kota (Mojokerto), yang selama ini memang sering mengunjunginya, di Jl.Bola Voli Blok E 33, Perum Griya Japan Raya, Sooko, Kabupaten Mojokerto. Yang sangat membanggakan, bertepatan dengan hari ulang tahunnya itu, buku terbarunya, “Antonin Artaud, Ledakan dan Bom” (terjemahan dari karya Stephen Barber, Blows and Bombs,) telah diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Tentunya ini semakin membuat hari ulang tahun Max Arifin di Bulan Agustus itu semakin spesial.&lt;br /&gt;Pada suatu kesempatan ketika Max Arifin diundang menjadi pembicara dalam forum diskusi yang digelar oleh Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), akhir Agustus lalu, tentang buku terbarunya ini sudah banyak ditanyakan oleh sejumlah seniman Surabaya yang menyapanya. Namun, buku yang bercerita tentang biografi dan konsep teater Antonin Artaud tersebut ketika itu masih belum sampai di Surabaya. Jadilah para seniman yang menanyakannya itu harus gigit jari. Adapun buku itu baru beredar di Surabaya pada bulan berikutnya. Isinya telah dibedah di DKJT pada Selasa, 19 September lalu.&lt;br /&gt;Buku Stephen Barber ini memotret Antonin Artaud sebagai sosok yang unik sekaligus sangat memilukan--sebuah buku yang luas dan otoritatif tentang sejarah hidup dan karya dari orang yang mengubah arus teater modern. Antonin Artaud adalah salah seorang dari legenda-legenda kultural besar abad dua puluh. Theatre of Cruelty-nya mengubah arah arus teater modern dan eksperimen-eksperimennya dengan gerakan Surrealis telah memberi inspirasi yang menembus Eropa dan Amerika.&lt;br /&gt;Di akhir dari sebuah rangkaian perjalanannya yang panjang--baik fisikal maupun spiritual yang ditujukan untuk menciptakan sebuah budaya yang magis dari tubuh manusia--dia ditahan dan dikurung selama sembilan tahun di berbagai asilum di Prancis, di mana dia menderita kelaparan dan menjadi “kelinci percobaan” dari lima puluh kali pengobatan lewat kejutan listrik (electroshock). Digambarkan dalam buku itu, kehidupan Artaud merupakan kegagalan yang mengerikan dan konfrontasi dan eksplorasi yang ekstrim dari luka derita dan kegembiraan.&lt;br /&gt;Sampai hari ini, Max Arifin, kira-kira sedikitnya telah menghasilkan 34 karya buku. Jumlah itu belum termasuk beberapa puisi dan cerpen dari timur tengah yang juga sempat diterjemahkannya. Memang, sebagian besar dari total karyanya itu, 26 di antaranya adalah karya terjemahan, termasuk tujuh karyanya yang belum diterbitkan. Seperti; Suara yang Lain (dari buku The Other Voice, karya Octavio Paz); Surat-surat Negro (The Fire Next Time, karya James Baldwin); Teater Politik (Political Theatre, karya David Goodman); Teater dan Kembarannya (Theatre and it’s Double, karya Antonin Artaud); Masalah-masalah Seni (The Problems of Art, karya Susanne K. Langer); Kapal Orang-orang Bodoh (Ship of Fool, dari karya Christiana Perri Rossi) dan Hidupku dalam Seni (My Life in Art, karya Konstantin Stanislavsky).&lt;br /&gt;Beberapa di antara judul-judul buku yang belum diterbitkan tersebut telah berada di tangan penerbit. Seperti; Masalah-masalah Seni yang sudah berada di penerbit Bentang, Yogyakarta; Hidupku dalam Seni yang telah ditangani oleh penerbit Pustaka Kayutangan, Malang dan Kapal Orang-orang Bodoh yang kini berada di tangan penerbit Biduk, Bandung.&lt;br /&gt;Pada karya yang disebut terakhir, bahkan telah berada di pihak penerbit sejak lima tahun yang lalu. Namun tak pernah ada kabar sampai sekarang. Celakanya Max Arifin tidak menyimpan kopi terjemahannya. Untungnya naskah dari buku aslinya, Ship of Fool, masih tersimpan rapi di rak bukunya.”Ah, sudahlah, saya tak ingin ribut dengan orang soal itu,” katanya ketika disinggung tentang nasib karyanya yang satu ini.&lt;br /&gt;Begitulah, Max Arifin sebenarnya punya seabrek pengalaman yang tidak enak semacam itu. Contoh lain, naskah Surat-surat Negero yang diterjemahkannya dari karya James Baldwin sempat dinyatakan raib ketika dibawa oleh salah seorang redaktur budaya untuk dimuat di koran harian nasional terbitan Surabaya. Pengalaman pahit seperti itu sering terjadi karena Max Arifin selalu ingin membagi isi buku tersebut kepada orang lain. Suatu keinginan yang selalu ada dibenaknya setiap kali dia akan mengawali menerjemahkan buku.&lt;br /&gt;Adapun sampai hari ini Surat-surat Negero tak pernah muncul di koran seperti yang telah dijanjikan oleh redakturnya tersebut. Hingga suatu ketika pernah Max Arifin mengirim pesan singkat (SMS) kepada Jurnal: ”Malam ini, salah satu televisi swasta menayangkan Malcolm X. Namun pikiranku melayang pada Surat Surat Negro.”&lt;br /&gt;Karir Max Arifin sebagai penerjemah buku kira-kira berawal sejak tiga puluh tahun yang lalu. Bermula dari seorang wartawan Kompas bernama Trees Nio yang datang mengunjungi Dirman Toha, sahabat Max Arifin, yang merupakan koresponden Kompas di Mataram. Saat itulah Trees Nio melihat dua naskah novel terjemahan karya Max Arifin, masing-masing Walkabout, karya James Vance Marshall dan The Sound of Waves, karya Yukio Mishima.&lt;br /&gt;Trees Nio langsung tertarik dengan dua naskah itu dan membawanya ke Jakarta. Berturut-turut kemudian masing-masing dijadikan Cerita Bersambung (Cerber) di Kompas (1976 dan 1978). ”Honor dari Kompas waktu itu sebesar delapan puluh rupiah. Sementara gaji sebagai pegawai negeri tujuh puluh lima rupiah,” kenang Max Arifin.&lt;br /&gt;“Kami langsung beli pompa air yang uangnya dikumpulkan dari sebagian honor Kompas itu. Waktu itu kira-kira harganya Rp. 125 ribu,” timpal Siti Hadidjah (70), isteri Max Arifin, yang juga pekerja seni. Sementara, Max Arifin, masih dari sebagian honornya itu, pada 28 Februari 1986, membeli mesin ketik Brother Deluxe 550 TR untuk hadiah ulang tahun isterinya, dengan tak lupa dituliskannya pesan pendek terlebih dahulu: Without Fear and Favor!&lt;br /&gt;Karya-karya naskah/ buku yang pernah ditulis Max Arifin memang kemudian banyak yang dijadikan cerber di sejumlah koran harian yang terbit di negeri ini. Selain dua karya yang telah disebut tadi, masih ada Kecantikan dan Kesedihan (terjemahan dari naskah The Beauty and Sadnes, karya Yasunari Kawabata) yang juga menjadi cerber di Kompas pada tahun 1984.&lt;br /&gt;Selain itu, masih ada lagi; Matinya Demung Sandubaya yang menjadi cerber di harian Suara Nusa (Mataram); Kemelut (naskah terjemahan dari The Blind Owl, karya Sadeq Hedayat) yang menjadi cerber di Surabaya Post; serta Seratus Tahun Kesunyian (naskah terjemahan dari One Hundred Years of Solitude, karya Gabriel Garcia Marques) yang menjadi cerber di Jawa Pos (1997).&lt;br /&gt;Kendati demikian, dengan jumlah karya yang telah dihasilkannya sebanyak itu, Max Arifin tidak mau disebut sebagai sastrawan. “Saya ini orang teater, bukan sastrawan,” ujarnya. Barangkali dia berkata begitu karena kebanyakan karyanya, baik itu yang terjemahan maupun tidak, sebagian besar adalah tentang drama/ teater.&lt;br /&gt;Terlebih, dia juga pernah mendirikan kelompok teater Gugus Depan di Mataram. Bahkan, selama tinggal di Mataram dulu, dia adalah pembina teater di beberapa SMA dan universitas. Pun di tempat kerjanya, Depdikbud Nusa Tenggara Barat (sekarang sudah pensiun, red), dia juga diserahi tugas untuk menangani bidang Kesenian seksi drama (tradisional dan modern).&lt;br /&gt;Kepada Jurnal, Max Arifin bersoloroh, jika ada yang mengira bahwa dirinya adalah seorang sastrawan, itu karena selama berkesenian dia juga suka menulis puisi dan cerpen. Percayalah, Max Arifin akan lebih antusias jika diajak ngobrol soal teater.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Bagaimana perkembangan teater di tanah air, khususnya di Surabaya dan Jawa Timur (Jatim)?&lt;br /&gt;Perkembangan teater di Indonesia timbul tenggelam. Ada masa ketika teater itu sedang marak, atau sedang digandrungi, ada juga masa ketika teater sedang sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan teater di Surabaya atau Jatim sekarang ini, termasuk pada masa yang mana?&lt;br /&gt;Seperti yang anda lihat sendiri, sejak beberapa tahun terakhir, banyak festival dan pementasan (teater) di sini (Surabaya, red). Itu artinya teater sedang berkembang pesat di sini. Tapi itu kalau kita bicara soal kuantitas loh ya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan dari mereka tidak berkualitas, ya, Pak?&lt;br /&gt;Tidak semua kelompok teater yang pernah mentas--sepanjang yang saya saksikan--tidak berkualitas. Ada beberapa yang cukup berkualitas di samping ada yang memang di bawah standar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kira-kira yang membuat penampilan kelompok-kelompok teater kita banyak yang tidak berkualitas?&lt;br /&gt;Ada banyak faktor. Tapi, sebenarnya, kualitas bisa dicapai bila kelompok-kelompok teater tersebut memahami benar tuntutan-tuntutan atau hukum-hukum yang ada dalam seni teater. Bukan cuma memahami secara teoritik, tetapi mampu mengimplementasi aspek-aspek teoritik tersebut ke dalam praktik, ke dalam realitas pentas yang bersifat visual.&lt;br /&gt;Tuntutan-tuntutan atau hukum-hukum yang ada dalam seni peran (teater) tersebut memang cukup tinggi. Saking tingginya, orang memerlukan membangun sekolah tinggi yang mengajar seni teater dan seni teater merupakan suatu disiplin tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kelompok teater yang sejak awal penampilannya tidak berkualitas dan celakanya pada penampilan selanjutnya, hingga sampai pada penampilannya yang kesekian kali atau bahkan sampai sekarang tetap saja tidak berkualitas. Bagaimana caranya meningkatkan kualitas kelompok teater yang seperti ini, atau sudah susahkah untuk memperbaiki kualitas pada kelompok teater yang seperti ini?&lt;br /&gt;Saya tidak mengatakan susah atau tidak susah, karena semuanya juga akan terpulangkan pada manusianya. Sebagaimana seni-seni yang lainnya, seni teater menuntut latihan-latihan yang terus menerus dan studi, di samping--barangkali--sedikit bakat.&lt;br /&gt;Latihan-latihan dibagi dalam dua macam: latihan-latihan persiapan dan latihan-latihan produksi. Mereka yang sudah matang dalam latihan-latihan persiapan baru bisa mengikuti latihan-latihan untuk produksi, untuk pementasan. Ada jenjang-jenjang di setiap macam atau tahap latihan tersebut. seni teater disebut juga sebagai seni vokal dan seni akting. Ada tuntutan-tuntutan yang cukup berat untuk keduanya. Sudah terlalu banyak buku yang mengupas masalah tersebut. Lalu tanpa membaca satu bukupun, apakah bisa dikatakan adanya pementasan yang berkualitas?&lt;br /&gt;Menurut saya, tak ada cara lain untuk meningkatkan kualitas selain dari belajar, studi dan latihan yang terus menerus. Seperti dikatakan oleh Stanislavsky, aktor-aktor harus menjalani latihan-latihan dan disiplin yang ketat, selalu menguji dirinya, standar-standar etika yang tinggi, mengejar selera yang baik di atas dan di luar pentas. Ia menolak aktor-aktor yang bebal, malas, yang suka mejeng, melacurkan hidupnya hanya untuk dikeploki penonton.&lt;br /&gt;Aktor harus memiliki disiplin ketat. Aktor harus selalu menguji dirinya, memiliki standar etika yang tinggi dan mengejar selera, baik di atas pentas maupun di luar pentas.Sutradara-sutradara pun harus memahami sejarah teater--di dunia dan di tanah air--paham-paham, gagasan-gagasan yang ada dalam dunia seni teater dan memahami perbedaan-perbedaannya.&lt;br /&gt;Paham-paham atau gagasan-gagasan ini mungkin saja akan menuntun dia dalam menentukan strategi dramaturgi yang akan dipakai dalam pementasannya. Sutradara dan aktor harus memahami di mana letak keindahan seni teater dan mampu mewujudkan keindahan tersebut dalam realitas pentas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut anda, apakah workshop-workshop, tentang teater khususnya, yang digelar oleh komunitas atau lembaga atau instansi pemerintah, yang umumnya paling lama cuma berlangsung satu minggu, bisa bermanfaat bagi seorang aktor/ aktris, terlebih dalam kaitannya demi meningkatkan kualitas pertunjukan mereka di atas panggung?&lt;br /&gt;Tergantung pada sistem, metode yang dipakai oleh instruktur workshop itu. Seperti workshop-workshop yang saya perhatikan selama ini, saya tidak begitu yakin akan segera meningkatkan kualitas seni pertunjukan. Walau dia mengundang Rendra atau Putu Wijaya sekalipun. Mereka cuma mempelajari bagaimana sebuah peran itu (akan) dimainkan dan bukan tentang bagaimana hal itu diciptakan secara organik.&lt;br /&gt;Seni sejati harus mengerjakan bagaimana cara membangkitkan dalam diri seorang aktor apa yang disebut “Superconscious Creative Nature” untuk menjadi “The Superconscious Organic Creation”. Saya mengusulkan sistem workshop yang berjenjang dan berkelanjutan: elementer, intermediate dan advance dengan kurikulum yang berjenjang pula. Dengan begitu akan ada seleksi alam di sana. Pada jenjang advance, tahun ketiga, saya yakin akan tinggal beberapa orang saja dan itu adalah yang benar-benar dan sungguh-sungguh tekun dan disiplin atau mau maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini ramai disoal tentang perlunya gedung kesenian di Surabaya, sampai beberapa waktu yang lalu pernah dijadikan bahan diskusi dalam forum yang digelar oleh Kompas (Jatim). Banyak yang berpendapat, kota sebesar Surabaya sudah saatnya (perlu) punya gedung kesenian yang representatif. Menanggapi tuntutan itu, Wakil Walikota, Arif Affandi, menjanjikan akan membangun gedung tersebut di Kompleks Balai Pemuda pada 2008 nanti, yaitu menunggu kontrak Gedung Mitra 21 di kompleks tersebut habis. Gedung bioskop inilah yang akan direnovasi untuk gedung kesenian. Menurut anda, apakah memang perlu dibangun gedung kesenian (yang representatif) di kota Surabaya?&lt;br /&gt;Kota seperti Surabaya saya kira memang memerlukan sebuah gedung kesenian yang representatife. Surabaya perlu menampilkan wajah yang berbudaya, bukan wajah yang sangar seperti sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ada gedung kesenian (yang representatif) itu dibangun, dengan seniman atau kelompok kesenian di kota ini yang kebanyakan kualitasnya masih dibawah standar, lalu selanjutnya apa?&lt;br /&gt;Memang, apalah arti sebuah gedung kesenian yang megah dan representative bila kita tidak mampu mengisi dengan kesenian-kesenian yang bermutu. Oleh sebab itu, di samping akan dibangunnya gedung kesenian itu, grup-grup/ sanggar-sanggar harus meningkatkan mutu dan kualitasnya untuk bisa tampil di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti, tentang siapa saja (seniman/ kelompok kesenian yang seperti apa) yang berhak main di gedung yang representatif itu, harus disaring terlebih dahlu. Hanya seniman atau kelompok kesenian yang sudah terbukti kualitasnya saja yang berhak main di gedung itu, seperti itukah nantinya? Lalu, siapa (orang) yang berhak menyaringnya?&lt;br /&gt;Untuk bisa main di gedung itu memang perlu selektif dalam arti tidak asal-asalan. Ada ukuran atau patokan. Memberikan kesempatan pada kelompok yang (mau) maju agar kreatifitasnya meningkat. Patokan atau ukuran itu dibuat oleh badan pengelola itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya gedung kesenian itu dikelola oleh siapa (misalnya: pemerintah, swasta, seniman, dewan kesenian, atau tak satupun dari mereka)?&lt;br /&gt;Dalam badan pengelola nanti harus ada tiga unsur itu (pemerintah, swasta dan seniman). Badan ini harus independen dalam membuat dan melaksanakan program kerjanya. Tapi harus dicatat: dia yang mewakili pemerintah bukanlah orang-orang yang gampang diatur (lagi) oleh atasannya. Swasta pun bukanlah kepanjangan tangan untuk mengurus para rekanan. Serta, seniman, bukanlah kepanjangan tangan sebuah partai yang lalu bergagahgagahan bahwa dia dekat dengan gubernur, bupati atau walikota karena satu partai. Orang-orang seperti itu cuma akan jadi broker kesenian. Celaka, bukan? Untuk itu perlu digariskan kualifikasi-kualifikasi yang diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut anda, apakah pemerintah seharusnya turut bertanggungjawab/ ikut andil dalam membentuk kualitas seniman?&lt;br /&gt;Pemerintah juga berkepentingan bila kesenian di daerahnya berkualitas. Sebab persyaratan sebuah kota berbudaya sangat bergantung pada karya-karya kreatif dan berkualitas para senimannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, haruskah seniman bergantung pada pemerintah untuk berkesenian atau mengembangkan kesenian di kotanya?&lt;br /&gt;Seniman tidak harus bergantung pada pemerintah dalam mengembangkan keseniannya. Namun tidak dapat dipungkiri, ada seniman yang bergantung pada (sumbangan) pemerintah dan ada yang tidak. Tergantung sejauh mana sikap seniman itu menjaga independensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruskah kita/ seniman menuntut pemerintah untuk memperhatikan kesenian, atau keberadaan senimannya?&lt;br /&gt;Kita tidak menuntut, tapi memang kewajiban pemerintah untuk memperlakukan kesenian atau keberadaan senimannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan seniman, biasanya kelompok teater, di Surabaya khususnya, masih bergantung pada pemerintah untuk urusan membiayai ongkos produksinya. Haruskah begitu, atau, kalau tidak, alternatifnya seperti apa?&lt;br /&gt;Selain pemerintah, masih ada masyarakat dan pihak swasta yang peduli pada perkembangan kesenian. Tapi seniman perlu memperbaiki citranya dalam mengelola bantuan (baik dari pemerintah maupun swasta). Ada seniman atau badan/ kelompok yang kurang sehat dalam mengelola bantuan ini. Lalu kita harus bagaimana terhadap seniman/kelompok yang seperti itu? Indonesia adalah negara terkorup nomor tiga di dunia, bukan? Ya, mau gimana lagi…&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Dalam suatu kesempatan di Museum Mpu Tantular, Surabaya, saat ditemui seusai berbicara dalam suatu forum diskusi yang digelar oleh DKJT akhir Agustus lalu, kepada Jurnal, Max Arifin sempat melontarkan gagasan tentang seniman teater yang professional. Dalam artian: 24 jam seorang seniman mengabdikan hidupnya untuk teater, mencari makan dari teater. “Seniman ludruk bisa (professional), kenapa seniman teater (modern) tidak?,” ungkapnya.&lt;br /&gt;Diakuinya, seniman teater modern memang sulit untuk berlaku seperti seniman ludruk. Sebab seniman teater (modern) terikat pada banyak hal, seperti hukum-hukum yang melingkupi seni teater tersebut, semacam menghafal naskah, latihan-latihan blocking, grouping dan lain-lain yang berbeda-beda sesuai dengan (tuntutan) naskah yang akan dipentaskan. (Untuk keterangan lebih terperinci, lihat buku Jamaes L.Peacock, Ritus Modernisasi, hal.58 dst,).&lt;br /&gt;Sehingga dengan begitu, dalam sekali berproduksi saja, dalam kaitannya untuk memenuhi naskah yang akan dipentaskan itu, sebuah kelompok teater sedikitnya butuh waktu enam bulan, bahkan ada yang sampai satu tahun, untuk kemudian dipentaskan.&lt;br /&gt;Berbeda dengan seniman ludruk yang memang nonkonsptual sehingga tanpa berlatih terlebih dahulu, langsung naik ke atas panggung pun jadi. “Seni ludruk dari dulu tetap begitu-begitu saja. Tak ada "keinginan" untuk meningkatkannya. Yang ada adalah pakem-pakem dan ugeran-ugeran. Tak ada pertimbangan nilai pada kualitas bentuk-bentuk kesenian tersebut yang mempunyai pola dramatik tertentu yang dapat diduga sebelumnya. Tak ada naskah, yang ada cuma catatan-catatan (outline),” terang Max. Namun begitu, bukan berarti seniman teater modern tidak bisa professional.&lt;br /&gt;“Profesioanalisme dalam arti yang ketat membutuhkan kualifikasi, pemahaman teoritik yang mendalam, seperangkat etika profesi, sertifikasi sebagai pengakuan akan kemampuannya. Juga dibutuhkan ketekunan dan dedikasi. Dalam pengertian tersebut, seniman teater (modern) dimasukkan ke dalam seniman yang professional,” terangnya. “Sementara itu, dalam arti yang longgar (sehari-hari), orang yang bisa mencukupi hidupnya dengan pekerjaan yang ditekuni disebut sebagai orang-orang profesional. Ludruk dapat dimasukkan ke sana,” ujarnya menambahkan.&lt;br /&gt;Max Arifin lahir di Sumbawabesar, Nusa Tenggara Barat (NTB), 18 Agustus 1936. Masa kecilnya, dari SD hingga SMP, dihabiskan di kota kecil itu. Dia sempat pindah ke Yogjakarta dan menyelesaikan pendidikan SMA-nya di sana. Dia pun sempat mengenyam pendidikan di jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Gadjah Mada. Tapi tak lama kemudian dia kembali lagi ke NTB dan melanjutkan pendidikannya di jurusan Bahasa dan Sastra Inggris IKIP Mataram.&lt;br /&gt;Lalu dia bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Depdikbud Provinsi NTB, Mataram (Lombok). Di masa pensiunnya, dia kini tinggal di Sooko, sebuah kecamatan yang terletak di kota Mojokorto, Jatim. Praktis Max Arifin lebih banyak menghabiskan hidupnya di kota-kota kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut anda, bagi seniman muda di daerah, tanpa harus datang ke kota besar, seperti Surabaya atau bahkan Jakarta, misalnya, bisakah karyanya menasional?&lt;br /&gt;Yang penting, bagi seni modern adalah bagaimana meningkatkan mutu dan bobot karya, terlepas di manapun dia berdomisili, di pusat atau daerah, di tempat terpencil sekalipun. Mutu dan bobot akan memunculkan seorang seniman untuk dikenal secara nasional. Tak ada kesulitan bagi seniman yang tinggal di daerah. Sekali lagi, yang penting adalah mutu dan bobot karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(dimuat dalam Jurnal Budaya Surabaya, Tahun I, No.3 Oktober 2006)&lt;br /&gt;Wawancara oleh:&lt;br /&gt;Abdul Malik (Mojokerto) dan Hanif Nasrullah (Surabaya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontak :&lt;br /&gt;1.Bapak Max Arifin, Jl.Bola Voli Blok E 33, Perum Griya Japan raya, Sooko, kabupaten Mojokerto 61361 Jawa Timur, telp 0321- 326915 , HP 085 2300 39 807, email: daxxenos2@yahoo.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Abdul Malik (Mojokerto), Hp 081 80 32 30 472, email: banyumili@telkom.net, blog: http://majapahitan2.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Hanif Nasrullah (Surabaya), Hp 081 7480 2453, email: revolusioner@hotmail.com, blog; http://hanifnasrullah.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB:&lt;br /&gt;Jurnal Budaya Surabaya terbit tiap bulan, dibagi secara cuma-cuma. Untuk luar Surabaya, silakan mengganti biaya kirim.Kontak: Farid Syamlan, Telp 031- 5454120, Hp 0817391883.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-116011078711310536?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/116011078711310536/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=116011078711310536' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116011078711310536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116011078711310536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/10/wawancara-max-arifin-di-jurnal-budaya.html' title='Wawancara Max Arifin di Jurnal Budaya Surabaya'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-116011064279660907</id><published>2006-10-05T21:54:00.000-07:00</published><updated>2007-11-01T23:53:00.488-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teater'/><title type='text'>Masalah dan Posisi Teater di Sekolah</title><content type='html'>MASALAH DAN POSISI SENI TEATER DI SEKOLAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Max Arifin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nani Yuliana, pelajar SMA 6 Surabaya (Kompas, 15/9-2004) mengeluh. Fauzi Salim, pembina teater di SMA 21 Surabaya mengeluh. Dan tentu terdapat banyak Yuliana dan Fauzi-Fauzi yang lain yang juga mengeluh. Bukan cuma di Surabaya, tetapi di banyak kota dan tempat di seluruh Indonesia: betapa pelajaran (ekstra kurikuler) seni teater di sekolah masih belepotan dengan masalah.&lt;br /&gt;Seorang guru atau pembina kesenian yang akan mengajar seni teater di sekolah akan menghadapi dua macam kondisi dan kondisi-kondisi ini perlu dibenahi lebih dulu.&lt;br /&gt;Pertama: Kondisi obyektif. Apakah di sekolah tersebut terdapat suasana yang kondusif, yang mampu menghidupkan suasana berkesenian yang bisa menimbulkan kebanggaan berkesenian. Juga kita pertanyakan apakah terdapat persepsi yang padu di antara para guru/kepala sekolah tentang arti dan fungsi kesenian di sekolah bagi para siswa. Selain itu apakah di sekolah tersebut cukup tersedia fasilitas untuk berkesenian.&lt;br /&gt;Bila hal-hal itu secara minim dapat dicapai maka dapat dikatakan “masyarakat” sekolah akan mampu menggairahkan kehidupan berkesenian. Dan ini juga berarti, sekolah mampu menghargai hasil cipta  para “seniman” di sekolahnya. Sekolah menciptakan suasana yang merangsang pertumbuhan seni dan gairah mencipta. Kita juga tidak bisa memungkiri, bahwa dewasa ini penetrasi radio dan terutama Tv telah membuat para pelajar menjadi manusia-manusia konsumptif dan pasif, takada gairah untuk aktif berkesenian.&lt;br /&gt;Kedua, Kondisi subyektif. Apakah pembina kesenian (saya tidak tahu istilah yang dipakai di sekolah-sekolah dewasa ini) memiliki wawasan yang cukup luas tentang bagaimana sebenarnya mengembangkan tujuan kurikulum pendidikan kesenian dewasa ini.&lt;br /&gt;Dalam buku-buku teks memang tercantum tujuan persyaratan bagi semua pekerja (seni) teater, antara lain: 1), Visi yang baik dalam masalah-masalah kebudayaan, seni, sastra , drama/teater. 2). (Diharapkan) mereka memiliki ketrampilan teknis yang memadai dalam cabang-cabang kesenian, namun dalam bidang seni teater mereka harus memiliki ketrampilan teknis yang cukup.&lt;br /&gt;Saya memang menekankan pertimbangan pentingnya pengetahuan teori, bahkan mutlak diperlukan, karena: untuk membentuk visi yang baik; untuk memberikan dasar kepada penguasaan ketrampilan teater; dan merangsang orisinalitas dan kreativitas, di samping bacaan yang luas berupa karya-karya sastra pada umumnya dan karya-karya drama pada khususnya. Juga pengetahuan yang luas tentang hidup dan manusia pada umumnya.  Kalau kita simpulkan, maka persyaratan umum seniman teater yang akan menjadi pembina teater di sekolah-sekolah bisa ditinjau dari segi kultural, artistik, literer dan teatral. Barangkali hal-hal itu terlalu ideal, tetapi kita perlu mendapatkan gambaran yang cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA  tidak memiliki informasi yang baru tentang tujuan pendidikan kesenian di sekolah-sekolah. Namun demikian, saya kira, sepanjang yang berkenaan dengan dunia kesenian, tujuan yang tersirat dari pelajaran kesenian adalah: pertama, agar siswa mampu berapresiasi terhadap lingkungan dan terhadap karya seni. Di sini mereka diharapkan  menjadi apresiator yang baik, yaitu kemampuan untuk bisa menghargai, menghayati dan menikmati kesenian  Kedua, Agar dapat memanfaatkan pengalamannya untuk berkomunikasi secara kreatif melalui kegiatan berkarya seni. Mereka diharapkan menjadi kreator atau seniman kreatif.&lt;br /&gt;Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi:&lt;br /&gt;Pertama: Kemungkinan sekolah dapat melaksanakan kedua tujuan tersebut---tersedianya pembina kesenian yang berkualitas;&lt;br /&gt;Kedua: Kalau point pertama itu tak tercapai, maka tujuan yang tersirat dapat dipecah menjadi: a). Sepanjang yang berhubungan dengan pembentukan apresiasi adalah tugas guru kesenian di sekolah dengan memberikan sentuhan-sentuhan akademik, yaitu yang bersifat latar belakang teoretik; b). Sepanjang yang berkenaan dengan usaha “pembentukan” kreator kita mempercayakan pada sanggar-sanggar dengan pelajaran ekstra kurikuler tersebut. Di sana mereka akan berkenalan dengan sentuhan-sentuhan emosional lebih jauh berupa eksperimentasi, pengolahan dan latihan-lathan serta ceramah-ceramah yang bersifat teknis kesenian. Dengan sendirinya seniman (luar) yang akan memimpin sanggar tersebut haruslah sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang kita sebutkan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM dunia teater terdapat apa yang disebut etika teater yang harus dipraktikkan oleh orang-orang teater. Di sana juga tersirat tujuan seni teater, antara lain: dedikasi dan kecintaan pada seni teater; rendah hati; mementingkan kerja kolektif yaitu sifat kolegial, saling menghargai, berdisiplin, mendahulukan kepentingan bersama; kesetiaan pada penulis, kepada sesama orang teater dan kepada penonton; bertanggung jawab dalam arti, kalau telah diberi peran maka ia harus menunaikan peran tersebut dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Selain itu para pelajar SLTP/SMA (sekarang!) sudah saatnya menyimak pengalaman-pengalaman dan kebenaran lewat karya-karya sastrawi, termasuk dan terutama lewat seni teater. Mereka juga akan berjumpa dengan nilai-nilai sastrawi yang ada di dalamnya dan yang terpenting kebenaran sastrawi itu. Kebenaran sastrawi biasanya jauh lebih meyakinkan ketimbang hasil riset ilmiah. Dikatakan, kebenaran ilmiah selalu bersifat relatif, subyektif dan sementara. Oleh sebab itu pekerja teater harus selalu mempertanyakan setiap kebenaran. (Bandingkan novel Kremil karya Suparto Brata dan Dolly hasil riset/skripsi Tjahjo Purnomo. Settingnya sama, yaitu dunia pelacuran. Tetapi Kremil jauh lebih meyakinkan ketimbang Dolly yang terasa kering dan kaku, tak punya nuansa human interest.&lt;br /&gt;Teater telah menjadi sebuah ilmu, kata Putu Wijaya pada pengantar buku Menyentuh Teater. Sebagai ilmu ia dipelajari, diajarkan, dianalisa, sementara teater itu sendiri terus berkembang, bertumbuh, serta berubah dengan segala bentuk  pengekspresian  dan konsep-konsepnya sehingga ilmu teater juga terus mengucur.&lt;br /&gt;Nah, Nani Yuliana dan Fauzi Salim berhentilah mengeluh dan bersedih kalau di sekolah kalian seni teater itu masih belepotan dengan seribu satu masalah. Memang masih banyak masalah yang harus kita benahi. Oke?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                         Japan Raya, September 2004.&lt;br /&gt;                                                           Max Arifin, pengamat teater tinggal&lt;br /&gt;                                                                       Di Mojokerto.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-116011064279660907?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/116011064279660907/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=116011064279660907' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116011064279660907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116011064279660907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/10/masalah-dan-posisi-teater-di-sekolah.html' title='Masalah dan Posisi Teater di Sekolah'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-116011048220981537</id><published>2006-10-05T21:53:00.000-07:00</published><updated>2007-11-01T23:53:46.075-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi: Wajah Ibu</title><content type='html'>WAJAH IBU.&lt;br /&gt;                                  Max Arifin.&lt;br /&gt;                                      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah ibuku di Aceh berkelebat di layar kaca&lt;br /&gt;meledakkan seribu duka yang kau usung&lt;br /&gt;bersama sejarah negerimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah ibuku menyeruak di tengah&lt;br /&gt;wajah derita yang sulit kau terjemahkan&lt;br /&gt;yang mengalir sampai ke ujung-ujung&lt;br /&gt;yang tak pernah tahu arah&lt;br /&gt;berhadapan dengan sejarah yang membisu&lt;br /&gt;sampai air mata kami&lt;br /&gt;berubah jadi biru tinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu itu mengetuk-menggedor dan&lt;br /&gt;si pongang menyeringai dari tengah laut&lt;br /&gt;memupus lautanmu tenang dan teduh yang menyimpan&lt;br /&gt;rindu, air mata dan mutiara dan mengelus kaki-kaki bocah di pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota-kotaku menghumbalang ke langit kelabu&lt;br /&gt;Dan tak sempat mendengar serapah sang ibu&lt;br /&gt;ketika tangis si bayi dalam buaian mencari tetek ibunya&lt;br /&gt;ditelan bahana gelombang amarah ratu kidul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah ibuku di Aceh berkelebat di layar kaca&lt;br /&gt;di tengah gerombolan wajah tanpa nama&lt;br /&gt;yang ikut mengusung kutukan sejarah negerinya&lt;br /&gt;dan menghadapi kematian tanpa akhir,&lt;br /&gt;kereta-kereta terbakar, senjata api, teriakan di lorong-lorong&lt;br /&gt;bintang-bintang yang marah dengan wajah teror&lt;br /&gt;yang menggeliat di balik balutan kepala compang-camping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku pernah bersurat: kini bukan waktunya berkelana&lt;br /&gt;ke seberang, ada tugas untukmu.&lt;br /&gt;Dan aku diberi topi baja, senjata AK&lt;br /&gt;di garis depan yang jauh aku berdiri.&lt;br /&gt;Jangan berpaling, bergeraklah ke arah tembok bisu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah ibuku di Aceh yang berkelebat di layar kaca&lt;br /&gt;berubah menjadi silhuet yang memudar.&lt;br /&gt;Tuhanku, kenapa Kau menunduk rendah&lt;br /&gt;hanya untuk menghancurkan kami?&lt;br /&gt;Tatapan mataMu yang licik tidak menghendaki kesaksian apapun&lt;br /&gt;untuk makhlukMu yang lemah, juga dalam doa yang khusuk yang&lt;br /&gt;setiap saat kami panjatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu, sebuah ceritera baru dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                Casa di Lansia, akhir 2004.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-116011048220981537?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/116011048220981537/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=116011048220981537' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116011048220981537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116011048220981537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/10/puisi-wajah-ibu.html' title='Puisi: Wajah Ibu'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-116011038661262641</id><published>2006-10-05T21:50:00.000-07:00</published><updated>2007-11-01T23:54:57.916-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='samawa'/><title type='text'>Surat Dari Seberang...</title><content type='html'>SURAT DARI SEBERANG:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ecun……&lt;br /&gt;Sudah lama aku ingin menulis surat ini. Tapi entah, baru sekarang aku melaksanakannya. Aku tahu persis apa yang mendorong hatiku. Mungkin karena kerinduan yang telah menumpuk, membengkak dan tak tertahan. Mungkin karena dorongan hati dari dalam atau kegemasan melihat faktor-faktor yang berada di luar.&lt;br /&gt;    Waktu itu sudah lama sekali.&lt;br /&gt;     Pertama kali aku angkat kaki dari Tana Samawa –sudah kabur, seputar tahun 1954—ke Yogyakarta. Kenyataan-kenyataan kecil sudah mengabur. Meninggalkan Tana Samawa pada waktu itu merupakan perantauan dalam arti sesungguhnya. Jarak dan waktu benar-benar kita hayati: bagaimana seorang anak muda—yang dijuluki Teruna Ngining oleh pelukis Abdullah Sidik [almarhum] pada senja hari berdiri di atas dek kapal KPM Waikelo, merasakan terpaan angin senja melihat ke belakang. Makin lama tana samawa makin menghilang, dan air mata tak terasa mengalir perlahan. Terlalu banyak yang harus kutinggalkan dan hatiku seberat tugu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ecun…….&lt;br /&gt;Kini jarak dan waktu tak terasa, tak terhayati, tak ada waktu untuk ngelamun, hiruk –pikuk membuyarkan semua kenangan, pandangan sekitar mengaburkan wajah-wajah yang di Tana Samawa. Waktu merupakan garis lurus dan kepastian yang dituju sudah jelas dan semua energi dihimpun untuk membelanya.&lt;br /&gt;    Aku tidak tahu pasti, apakah kebo karong Paman Dawid yang selalu menjadi kebanggaan itu masih ada keturunannya. Kau masih ingat bagaimana kebo-kebo itu memenangkan karapan kerbau di kecamatan dulu. Bagaimana Paman Dawid ngumang di depan dadara di atas tribun bambu memuji kerbaunya dan menunjuk pada dadara yang jadi kembang di desa? Aku masih ingat betul peristiwa itu, kau tahu apa isi lawas Nde Dawid waktu itu? Ia bilang begini:&lt;br /&gt;Kerbau ini milikku&lt;br /&gt;kupelihara dengan hati bersih&lt;br /&gt;tinggi yang telah ia capai&lt;br /&gt;tapi apa arti itu semua&lt;br /&gt;bila kau masih memalingkan wajah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawasnya disambung lagi begini&lt;br /&gt;Kau jauh lebih berarti&lt;br /&gt;walau cahayamu seperti kerlip&lt;br /&gt;bintang di kejauhan&lt;br /&gt;hatiku yang merana tak bosan&lt;br /&gt;bertanya pada apa saja&lt;br /&gt;    Sebelum ia berpaling dari tribun bambu itu, Nde Dawid sempat melontarkan lagi lawas yang sudah kita kenal bersama,di seluruh Tana Samawa:&lt;br /&gt;Lamin sia dunung notang&lt;br /&gt;Sowe santek bonga bintang&lt;br /&gt;Pang bulan ketemu mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemahan bebasnya barangkali begini:&lt;br /&gt;Kalau anda duluan merindu.,&lt;br /&gt;Sibaklah atap, tataplah bintang&lt;br /&gt;Di wajah bulan kita berpandangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan dadara di atas tribun bambu itu cekikikan. Tetapi peristiwa menyedihkan terjadi. Sementara aku menyaksikan peristiwa yang menggetarkan hatiku itu, adegan yang mempesona, adegan yang benar-benar teatral, alamiah, wajar: tiba-tiba temanku, si Alwi yang berdiri di sampingku terjatuh, terkulai ke tanah. Katanya ia disambar oleh bura’. Ia dilarikan ke rumahnya—kebetulan bapaknya seorang sanro. Aku tidak tahu kabarnya, sebab besoknya aku sudah berdiri di atas dek kapal Waikelo.&lt;br /&gt;    Aku merindukan semua itu. Dan inilah sebenarnya yang membuat aku bersedih ketika mendengar bahwa kesenian Tana Samawa sudah hampir punah, kalau tidak dikatakan memang sudah punah.&lt;br /&gt;    Lawas dan entah apa lagi namanya—langko, seketa,bagesa,badede dengan kosok kancingnya—bukan cuma ekspresi perasaan seorang Paman dawid, tetapi ekspresi sesungguhnya Tau Samawa secara keseluruhan. Kita—generasi sekarang—sudah tidak peka, tumpul dan tidak mampu menyimak ekspresi Tau Samawa tersebut. Kita kini dihirukpikukkan oleh kontras antara politik dan kedamaian. Apakah kau, Ecun, pernah mencoba untuk sedikit peduli pada luka-luka sosial di sekitarmu dan betapa pedih memikirkan kelanjutan dari sesuatu yang menihilkan selain dari pertengkaran, agresi, teror dan ancaman-ancaman lainnya. Keasyikan dalam bermain politik—terakhir ribut-ribut ingin membuat pulau Sumbawa menjadi sebuah propinsi—akan memencilkan kesenian menjadi sesuatu yang hampa.&lt;br /&gt;    Kita tidak lagi memiliki semacam pengalaman estetika, yaitu kemampuan untuk bereaksi terhadap apa yang disebut “permukaan-permukaan estetika”. Aku melihat Tana Samawa dari kejauhan sudah compang camping. Ia goyah dan semua orang sudah tunduk pada hiruk-pikuk. Kita kehilangan kesunyian, tidak mampu untuk berdiri sendiri dalam arti spiritual dan tiba pada suatu kehidupan kreativitas intelektual. Aku percaya, bahwa kemampuan kita untuk melakukan kontemplasi, perenungan juga telah dihancurkan.&lt;br /&gt;    Ada jarak yang begitu jauh antara nurani dengan kehadiran kita. Nde Dawid-Nde Dawid dan Papen Dio-Papen Dio sudah tiada. Wajah politik itu begitu menjadi personal, telanjang dan kasar. Kita dijajah oleh ketenangan yang kita ciptakan sendiri dan kita tidak memiliki ketenangan suatu mekanisme yang beroperasi dari dalam untuk stimuli-stimuli di kejauhan—katakanlah keluhan Nde Pedil di Emang atau Papen Tenri di Aipaya sana.&lt;br /&gt;    Kita-kita tampak seperti karikatur yang tidak punya nurani. Sejauh mana jiwa—orang Inggris menyebutnya soul—memasuki daerah publik [public realm] itu? Apa yang mendorongnya? Hannah Arendt dalam bukunya The Human Condition—kubaca tahun lalu, Ecun menulis, bahwa yang mendorong jiwa kita memasuki daerah publik antara lain karena adanaya realtitas ancaman terhadap peradaban dan terhadap eksistensi kita. Kedua, kewajiban kita untuk berjuang dan bertahan. Ketiga, adanaya pengaruh diskusi-diskusi publik di koran-koran, TV, buku-buku ditempat-tempat ceramah. Dan keempat, keinginan kita yang paling dalam untuk mengirimkan jiwa dan semangat kita ke dalam masyarakat.&lt;br /&gt;    Kita tidak tahu apakah politikus-politikus itu –yang diisukan bermain politik uang yang kotor, yang menghilangkan kepribadiannya, yang membekukan nuraninya, yang tidak tahu malu itu—memahami hal itu sebagai pemahaman politik yang lebih tinggi. Kalau memang ya,-maka tak akan ada politik uang, dan lain-lain itu—maka tak ada lagi yang kita keluhkan. “Dengan kata-kata dan perbuatan kita menyelinapkan kedirian kita ke dalam dunia manusiawi” kata Arendt, “dan penyelinapan ini adalah seperti kelahiran kedua kita”. Manusia merindukan keabadian. Untuk merealisasikannya, kita sekali lagi—dan sekali lagi—harus menegaskan identitas kita lewat kata-kata dan action, mengajarkan kepada orang-orang bagaimana melahirkan yang besar dan berkilauan.&lt;br /&gt;    Politik telah mengotori wajah kita. Aku  lalu ingat ucapan John Kennedy—waktu dilantik jadi Presiden—kalau politik  mengotori wajah kita, maka bersihkan dengan puisi. Dengan kata lain: bersihkan dengan lawas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ecun……..&lt;br /&gt;Aku merindukan ini: politikus-politikus yang melempar wajah kita dengan lumpur itu duduk bersama—tanpa ada yang walk out—dan memanggil jago-jago lawas dari Ano Rawi dan Ano Siep dan membawakan lawas yang mampu membuat kita saling berpandangan dalam waktu yang lama. Kita saling menyimak hati kita masing-masing lewat kesenian. Dan aku pastikan, gema suara Nde Dawid atau Papen Pio akan terdengar:&lt;br /&gt;Lamen nonda ila, melakopamendi; lamen nonda pamendi, melako ila.&lt;br /&gt;    Memang kewajiban kita untuk memperbaiki Sumbawa. Tusabalong sama lewa. Keindahan fisik material Tana Samawa dan keindahan spiritual anak negerinya. Aku lalu ingat Dewan Kesenian Sumbawa itu dan mengharapkan bisa melaksanakannya. Atau Dewan itu sendiri sudah terpercik lumpur politik ke wajahnya atau ikut melempar? Dan melupakan fungsinya?&lt;br /&gt;    Aku takut Ecun, atavisme yang disebut-sebut oleh Saul Bellow [seorang pemenang hadiah Nobel] pada akhir bukunya To Jerussalem and Back [1977:232] memang terus masih mengikuti kita. Ia menulis:&lt;br /&gt;Di zaman purba di tembok-tembok kota yang ditaklukkan di Timur Tengah kadang-kadang digantung kulit-kulit orang yang ditaklukkan. Kebiasaan itu sudah hilang. Tetapi keinginan untuk membunuh untuk tujuan-tujuan politik itu---adalah masih tetap seperti dulu.&lt;br /&gt;    Anak cucu Adam yang bermartabat tentu akan mengingat hal itu dan menampiknya. Sungguh. Ecun.&lt;br /&gt;    Sekian dulu, ecun, salam rinduku pada semua keluarga kita: Iyun, Hafni, La dan Hannah beserta suami-istri mereka. Dan juga pada Gani. Aku selalu merindukan kalian semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam ,&lt;br /&gt;Max Arifin.&lt;br /&gt;Jl.Bola Volley Blok E 33,Perm Japan Raya, Sooko,&lt;br /&gt;Kabupaten Mojokerto 61361&lt;br /&gt;Jawa timur&lt;br /&gt;Telp 0321- 326915&lt;br /&gt;Hp 085 2300 39807&lt;br /&gt;Email: daxxenos2@yahoo.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Max Arifin ,sejak di Mataram dikenal sebagai dramawan, penerjemah, esais dan wartawan. Setelah pensiun sebagai pegawai Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud NTB, pria kelahiran Alas, Sumbawa ini hijarah ke Jawa Timur. Tinggal dirumahnya yang tenang dan sejuk di  Mojokerto bersama isteri tercinta: Siti Hadidjah.&lt;br /&gt;Dua buku terjemahannya Taruhan Mewujudkan Tulisan, Wawancara dengan Penulis Pria dan Wanita Dunia, baru diterbitkan penerbit Jalasutra, Yogyakarta.&lt;br /&gt;Sementara My Life in Art [Konstantin Stanislavsky] dan The Other Voice [Octavio Paz] dalam proses penerbitan oleh Pustaka Kayutangan, Malang.&lt;br /&gt;Novel Seratus Tahun Kesunyian [Gabriel Garcia Marquez] segera cetak ulang oleh Bentang Pustaka, Yogyakarta.&lt;br /&gt;Novel An Echo of Heaven [Kenzaburo Oe] segera terbit oleh Bentang Pustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**tulisan ini pernah dimuat dalam majalah Rungan Samawa No.09-tahun 1 Maret 2001&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-116011038661262641?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/116011038661262641/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=116011038661262641' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116011038661262641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116011038661262641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/10/surat-dari-seberang.html' title='Surat Dari Seberang...'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-116011023834063345</id><published>2006-10-05T21:45:00.000-07:00</published><updated>2007-11-01T23:56:15.473-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='preside'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='soeharto'/><title type='text'>Cerpen: Malam Terakhir Seorang Presiden</title><content type='html'>CERPEN:&lt;br /&gt;MALAM TERAKHIR SEORANG PRESIDEN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh  MAX ARIFIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lelaki tua dalam pakaian tidur melangkah menuju jendela. Di ruang keluarga itu ia melayangkan pandangannya ke arah jam yang menempel di tembok. Pukul 24.00. lalu ia meneruskan langkahnya ke jendela. Agak lama ia tertegun di sana, tetapi akhirnya ia membuka jendela itu. Wajahnya menengadah ingin menghitung bintang-bintang di langit sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tuhanku, katanya, kenapa aku bisa terjebak dalam akhir seperti ini. Selama ini aku selalu meminta petunjuk padaMu. Tetapi Kau tidak menunjukkan jalan yang benar yang kau ridoi itu. Apa yang salah pada diriku ? Lima puluh tahun yang lalu aku juga berada dalam malam hari seperti ini dan aku yakin benar jalan itu. Kau tunjukkan padaku. Bergemuruh sambutan terhadap diriku. Aku adalah  jenderal yang keluar dengan kemenangan dari sebuah peperangan yang besar. Peperangan yang besar ? Sebenarnya bukan suatu peperangan yang besar, tetapi “the real war” yang sebenarnya---ah, aku meminjam nama buku karangan Richard Nixon, buku yang sudah kubaca beberapa kali, tetapi ternyata terjadi kekurangpahaman dalam menarik kesimpulan. Nixon menulis, bahwa sejarah kegagalan dalam peperangan dapat disimpulkan dalam dua kata: terlalu terlambat. Terlambat dalam memahami tujuan yang mematikan dari musuh yang potensial; terlalu terlambat dalam menyadari bahaya yang mematikan; terlalu terlambat dalam persiapan; terlalu terlambat dalam menyatukan semua kekuatan yang memungkinkan untuk bertahan dan terlalu terlambat dalam mencari teman yang benar.&lt;br /&gt;Padahal aku seorang jendral. Dan sebagai jendral aku  tidak boleh melupakan hal-hal itu. Itu adalah prinsip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ia berbalik, memandang ke segenap sudut kamar itu. Buku-buku yang teratur rapi berjejer dalam rak-rak buku yang penuh ukiran Jepara. Lalu ia mondar-mandir di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Apa yang salah pada diriku ? Tentu wajahku tampak seperti dalam cermin pecah. Tetapi tentu tidak akan tampak seperti jendral-diktator tua dalam buku karya Gabriel Garcia Marquez. Aku membaca buku itu dengan harapan dapat melakukan hal-hal yang sebaliknya yang dilakukan diktator tua itu, walau aku mempunyai bakat luar biasa untuk berkomando dengan naluri politikus yang tidak pernah melesat dan meleset dari perhitungan dan mempunyai kemampuan untuk bertepo seliro, yaitu kemampuan untuk  mencintai dan dicintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tentu ada yang salah dalam diriku. Kemanusiaanku dan aku pribadi ternyata terlalu terpisah dan keduanya selalu melakukan tawar-menawar. Dalam keadaan seperti itu ternyata pikiranku sering menjadi lumpuh. Buaya adalah spesimen binatang paling primitif dibandingkan dengan manusia. Tetapi ketika manusia melangkah dalam keadaan buta dan telanjang ke dalam sungai, maka dapat dipastikan buaya itu yang akan selamat. Salah satu pelajaran sejarah yang harus dipelajari--- walaupun tidak menyenangkan adalah, bahwa peradaban itu tidak datang dengan sendirinya. Ini yang mungkin kulupakan. Sifat permanen sebuah peradaban tidak dapat diduga sama sekali. Akan selalu terdapat bidang-bidang gelap menanti kita di setiap sudut. Langkah-langkah harus diatur dengan teliti agar kita tidak terjebak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ia mendekati rak buku dan mencomot buku The Real War karangan Richard Nixon. Cepat-cepat ia membalik beberapa halaman lalu berhenti pada halaman 271.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ya, halaman 271 ini sudah sepuluh kali kubaca. Di sana ada “ten rules” yang harus kuperhatikan. Seharusnya rules ini kugantung dengan indahnya di kamar kerja istana kepresidenan. Rule delapan berbunyi: Harap selalu berhati-hati dalam  membedakan antara teman-teman yang selalu menyodorkan hak-hak azasi dan musuh-musuh yang selalu menolak semua masalah yang berkenaan dengan hak-hak asazi manusia. Dan rule sepuluh menulis: jangan kehilangan kebajikan. Pada masalah-masalah yang tertentu kebajikan mampu menggerakkan sebuah gunung. Kebajikan tanpa kekuatan adalah tidak berguna, tetapi kekuatan tanpa kebajikan adalah mandul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ia menarik napas dalam-dalam dan pelan-pelan menutup buku itu dan meletakkan kembali di rak buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bagaimana seharusnya aku bersikap terhadap sebuah buku ? Buku-buku ini kini begitu menakutkan, seakan-akan mencemoh dan mengejek diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lalu pandangannya tertuju pada lukisan besar istrinya yang telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Ia maju beberapa langkah, mendekat ke lukisan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kau tidak bisa merasakan kesunyian dan kesepian ini. Juga kesedihanku pada malam ini. Selama ini kau adalah kekuatanku. Aku selalu mengajak kau melanglang buana. Bagaimana kita berpose di tembok besar Cina. Ah, semua terbayang berkelebat di dalam pikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Anak-anak tak ada di dekatku. Selama ini kaulah yang menuntun mereka menjadi besar, lalu menjadi bagian dari masalah-masalah yang melilit diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tiba-tiba jam di tembok itu berdentang tiga kali. Ia agak terkejut juga tetapi dengan segera membenahi sikapnya. Ia merasa malu pada keterkejutannya tadi, padahal seorang prajurit sejati tidak boleh kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Besok pagi kekuatan dan kekuasaan yang ada dalam kedua tanganku ini akan kuserahkan pada orang lain sesuatu yang tak terpikirkan ketika aku melangkah tiga puluh tahun yang lalu kekuatan dan kekuasaan kuperoleh pada waktu itu adalah karena aku memahami benar aspirasi masyarakatku, aspirasi bangsaku. Apa yang salah pada diriku selama ini? Apakah aku cuma mempermainkan benda abstrak yang bernama aspirasi itu? Dan menafsirkan sesuai dengan kehendakku? Bagaimana dengan orang-orang yang mengelilingi aku selama ini? Orang-orang yang mendukung tanpa reserve terhadap penafsiran itu? Kalau aku mau jujur, aku Cuma melaksanakan semua desain yang dibuat oleh mereka. Kemana mereka malam ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tanpa sengaja matanya menatap dua buku yang ada di rak sebelah kanan. Yang pertama berjudul The Great Cover Up karangan dua orang wartawan The Washington Post, hadiah dari GM, seorang pemimpin redaksi sebuah majalah terkenal waktu itu. [Tapi beberapa tahun yang lalu dibbreidel]. Ada satu bab yang mengerikan di sana, yaitu bab delapan: The Road to Impeachment. Ia membolak-balik halaman buku itu dan ketika tiba pada bab tersebut ia melempar buku itu sekuat tenaganya dan mengenai lukisan besar istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    GM, GM, ia menggumam, takut pada suaranya sendiri, dulu aku mengagumi kau. Tetapi kenapa kita harus berseberangan dan memerintahkan agar majalahmu ditutup saja. Padahal kau benar ketika kau menulis tentang pembelian kapal bekas ex Jerman Timur itu. Di mana kau, GM ? Persahabatan sejati sebenarnya tidak boleh terhalang oleh naluri kekuasaan yang besar. Aku buta terhadap nilai-nilai yang ada dalam sebuah persahabatan sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Yang paling mengerikan adalah buku yang satu itu. Karangan seorang wartawan luar negeri yang bertugas di sini selama beberapa tahun, A Nation in Waiting. Hampir setiap halaman menulis tentang dia. Jam berdentang lima kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Inilah musuh utamaku selama ini: wartawan; padahal mereka menulis hati nurani bangsanya. Tetapi kenapa aku tidak bisa memahami mereka. Mereka muncul dalam sosok-sosok gelap sebagai musuh terselubung yang akan menikam dari belakang. Kuakui betapa gagalnya departemen yang katanya akan “membina” mereka. Apa yang salah dalam kebijaksanaan “pers bebas dan bertanggung jawab” itu, suatu kebijaksanaan yang telah mengubur banyak koran dan majalah selama ini. Dulu aku pernah membaca---ya, dalam buku Freedom of  Information karangan Herbert Brucker--- bahwa kebebasan untuk mengeluarkan pendapat itu sebenarnya kegunaannya bukan bagi golongan minoritas yang ingin berbicara, tetapi bagi golongan mayoritas yang tidak mau mendengar. Dan aku selama ini cuma mau mendengar pada golongan mayoritas yang didesain dengan penuh kelicikan. Aku tahu itu tetapi naluriah kekuasaan yang ada dalam diri seorang manusia membuat dia buta. Aku tahu itu. Aku tahu itu. Ternyata pembantu-pembantuku tidak berani memberikan informasi yang sebenarnya padaku. Seperti yang ada dalam ceritera wayang yang sering kusaksikan waktu aku masih kecil dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    -Prabu       : Aku bilang itu adalah bulan.&lt;br /&gt;    -Durno       : Aku tahu, memang itu bulan.&lt;br /&gt;    -Prabu       : Bukan; kau telah berbohong padaku. Itu adalah matahari.&lt;br /&gt;    -Durno       : Semoga Gusti Allah memberkahinya; memang itu adalah matahari yang        &lt;br /&gt;                          diberkahi.&lt;br /&gt;                          Itu bukanlah matahari bila Prabu berkata bukan.&lt;br /&gt;                          Bahkan bulan itu akan berubah sesuai dengan yang ada dalam benak                                 &lt;br /&gt;                           Prabu.Apapun nama yang Prabu kehendaki maka itulah namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah watak orang-orang yang berada di sekelilingku selama ini, watak yang menyumbangkan sahamnya dalam percepatan kebobrokan negara ini. Watak manusia-manusia yang tidak akan mampu mengantarkan bangsa ini menuju abad dua puluh satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tiba-tiba terdengar jam di tembok itu berdentang tujuh kali. Dari kamar sebelah seorang cucunya menyetel televisi dan terdengar teriakan-teriakan mahasiswa yang berkumpul di gedung MPR/DPR, meneriakkan kata-kata Reformasi, Reformasi ! Ia tertegun sejenak dan memasang telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Itu adalah generasi baru bangsa ini. Generasi yang menyongsong abad baru; menggeliat-geliat dalam membentangkan sayap-sayapnya. Sebenarnya aku membutuhkan generasi seperti itu. Tetapi terlalu terlambat dalam memperhitungkan mereka. Dua jam lagi kekuasaan yang ada dalam tanganku ini, yang kugenggan kuat-kuat selama ini akan kuserahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ketika ia berbalik untuk menuju kamar sebelah, ia menatap buku A Nation in Waiting tergeletak di atas meja. Ia menyambar buku itu dan mengusap-usap judulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Buku ini akan merupakan pelengkap sejarah hidupku. Merupakan muka yang satunya dari muka berjudul A Smiling General.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ia tersenyum. Ternyata sisa sejarah selebihnya masih juga menyediakan senyuman. Tetapi mungkin juga senyum merupakan salah satu dari banyak topeng yang kita kenakan setiap hari. Entahlah.-***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(dimuat di harian jawa pos minggu 9 juni 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-116011023834063345?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/116011023834063345/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=116011023834063345' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116011023834063345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116011023834063345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/10/cerpen-malam-terakhir-seorang-presiden.html' title='Cerpen: Malam Terakhir Seorang Presiden'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-116010979229533899</id><published>2006-10-05T21:36:00.000-07:00</published><updated>2007-11-01T23:58:20.491-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mojokerto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='max arifin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tempo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teater'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='absurd'/><title type='text'>Max Arifin, Absurditas Dari Mojokerto</title><content type='html'>ABSURDITAS DARI MOJOKERTO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku teater kontemporer terbilang langka di dunia penerbitan kita. Tapi, tiga tahun terakhir, mengalir deras terjemahan-terjemahan berbobot dari tangan seorang pensiunan yang tinggal di Mojokerto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEPASANG merpati tua-----demikian mereka menyebut dirinya---tinggal di Perumahan Griya Japan Raya, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Mereka pekerja seni: Max Arifin, 70 tahun, dan istrinya, Siti Hadidjah, 70 tahun. Pasangan ini tinggal di rumah tipe 36. Di halaman depan yang tak terlalu luas, terdapat sebuah gazebo. Di sanalah anak-anak muda Mojokerto, bahkan Malang dan Surabaya yang bergelut di bidang seni sering mampir dan berdiskusi soal teater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Max, pensiunan pegawai negeri sipil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Nusa Tenggara Barat di Mataram, Lombok, dikenal memiliki minat luas terhadap teater. Dewan Kesenian jakarta akhir Agustus lalu menerbitkan buku terjemahan Max tentang biografi dan pemikiran “absurd” Antonin Artaud, seorang peletak dasar konsepsi teater kontemporer. Buku karya Stephen Barber, Blows and Bombs, tersebut diterjemahkan menjadi Artaud: Ledakan dan Bom. Bukan hanya Artaud. Sebelumnya, Max telah menerjemahkan karya penting Peter Brook, sutradara opera kontemporer berjudul Shifting Point. Juga “kitab suci” para teaterwan eksperimental, Toward Poor Theater karya Jerzy Grotowsi.&lt;br /&gt;    Di sebuah ruang 4 x 7 meter yang juga merupakan ruang makan, Max sehari-hari mengetik. Di situ ia dikurung dua rak buku-buku filsafat dan sastra. Sekilas Tempo melihat judul-judul koleksinya: Political Theatre karya David Goodman, The Ship of Fool  karya Chritiana Perr Rossi, An Echo of Heaven karya Kenzaburo Oe, The Blind Owl karya Sadeq Hedayat, buku-buku Nurcholish Madjid dan seri lengkap Catatan Pinggir Goenawan Mohammad. “Hampir semua buku ada, kecuali buku-buku teknik,” katanya.&lt;br /&gt;    Tahun 1990-an, duna terjemahan sastra bangkit di Yogya. Max termasuk seorang “pelopor”-nya. Penerbit Bentang banyak mempublikasikan terjemahan-terjemahannya. Diantaranya Seratus Tahun Kesunyian (One Hundred Years of Solitude) oleh Gabriel Garcia Marquez. Karya ini pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Jawa Pos tahun 1997. Selanjutnya, Pemberontak (The Rebel) karya Albert Camus.&lt;br /&gt;    Mulanya ia banyak menerjemahkan novel untuk cerita bersambung di koran. Tahun 1976 Max menerjemahkan  karya James van Marshall berjudul Walkabout (Pengembaraan) dan dimuat sebagai cerita bersambung di Kompas. Tahun 1983, ia menerjemahkan The Beauty and Sadness karya Yasunari Kawabata yang dikasih judul Kecantikan dan Kesedihan dan juga dimuat sebagai cerita bersambung di harian Kompas.&lt;br /&gt;    Semua ini berawal tahun 1976. Saat itu ia mengalihbasakan The Sound of Waves karya Yukio Mishima menjadi Nyanyian Laut dan dipublikasikan oleh penerbit Matahari, Yogyakarta. Tahun 1980 ia menerbitkan karya Albert Camus berjudul The Stranger, yang ia alihbahasakan menjadi Orang Aneh. Buku ini diterbitkan oleh Nusa Indah, Flores. Tahun 1978, Max menerjemahkan Thousand Cranes karya Yasunari Kawabata, yang diterbitkan Nusa Indah  Flores berjudul Seribu Burung Bangau.&lt;br /&gt;    Agaknya Yogya dan Sumbawa merupakan sumber inspirasi. Terlahir bernama Mochamad Arifin, ia menghabiskan masa SD hingga SMP di Sumbawa Besar. Saat SMA, ia hijrah ke Yogyakarta bersekolah di SMA Piri, Baciro. Max sempat mengenyam pendidikan di Jurusan Hubungan Internasional , Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik, Universitas Gadjah Mada. Tidak sampai tamat, ia kembali ke Mataram.&lt;br /&gt;    Di sana, ia melanjutkan ke Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Mataram.Lulus, ia bekerja di Departemen pendidikan dan kebudayaan Nusa Tenggara barat dan menangani seksi drama dan sastra. Di Mataram, ia membina kelompok-kelompok drama SMA dan kampus. Ia pernah menjadi redaktur budaya harian Suara Nusa (sekarang Lombok Post) dan menjadi koresponden majalah Tempo untuk Lombok tahun 1975-1979.&lt;br /&gt;    Tak hanya menerjemahkan. Max juga menulis buku. Bukunya Teater:Sebuah Pengantar diterbitkan oleh Nusa Indah Flores tahun 1990. Ia menulis naskah drama Putri Mandalika, yang pernah dipentaskan secara kolosal di Pantai Seger, Lombok Selatan, 1988. ia menulis naskah Matinya Demung Sandubaya, yang dibawa kontingen Nusa Tenggara Barat pada Festival Teater di Solo dan kemudian dimuat sebagai cerita bersambung di harian Suara Nusa. Tahun 1990, naskah drama remajanya berjudul Badai Sepanjang Malam diterbitkan oleh Gramedia Jakarta.&lt;br /&gt;    Di hari tuanya, Max tetap “gila’ buku. Tapi semangatnya tetap semangat seorang pendidik. Ia baru saja menghibahkan 250 judul buku ke Dewan Kesenian Mojokerto. “Biar semakin banyak orang yang bisa menikmati buku,” katanya. Telah 26 buku ia terjemahkan. Kini ia menanti terjemahannya atas buku lama teaterwan Rusia, Konstantin Stanislavsky: My Life in Art (Hidupku dalam Seni) yang akan diterbitkan Pustaka Kayutangan Malang.&lt;br /&gt;    Mengapa Stanislavsky masih penting baginya? Sebab, menurut Max, di dalam buku itu ada segudang pelajaran untuk para pekerja seni kita. Stanislavsky mengharapkan aktornya menjadi seorang humanis. Stanislavsky menolak aktor yang melacurkan hidupnya hanya untuk dikeploki penonton. “Aktor harus memiliki disiplin ketat. Aktor harus selalu menguji dirinya, memiliki standar etika yang tinggi, dan mengejar selera, baik di atas pentas maupun di luar pentas”, kata Max menirukan Stanislavsky.&lt;br /&gt;(Sunudyantoro, Seno Joko Suyono)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari Majalah TEMPO, edisi 11-17 September 2006, halaman 62-63.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ralat:&lt;br /&gt;-Ia baru menghibahkan 250 judul buku ke Dewan Kesenian Mojokerto, semestinya  ke Balai Pustaka NOL Mojokerto.&lt;br /&gt;-……The Sound of Waves karya Yukio Mishima menjadi Nyanyian Laut dan dipublikasikan oleh penerbit Matahari, Yogyakarta semestinya penerbit Mahatari, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamat rumah:&lt;br /&gt;MAX ARIFIN,&lt;br /&gt;Jl.Bola Volley Blok E 33,&lt;br /&gt;Perum Griya Japan Raya, Sooko,&lt;br /&gt;Kabupaten Mojokerto 61361&lt;br /&gt;Jawa Timur&lt;br /&gt;Telp 0321- 326915&lt;br /&gt;Hp 085 2300 39 807  dan 0888 32 86 967.&lt;br /&gt;Email: daxxenos2@yahoo.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-116010979229533899?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/116010979229533899/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=116010979229533899' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116010979229533899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/116010979229533899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/10/max-arifin-absurditas-dari-mojokerto.html' title='Max Arifin, Absurditas Dari Mojokerto'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-114984613144185337</id><published>2006-06-09T02:38:00.000-07:00</published><updated>2006-06-09T02:42:17.056-07:00</updated><title type='text'>Esai: Ivek [Max Arifin]</title><content type='html'>I V E K .          &lt;br /&gt;                                    Oleh: max arifin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IVEK membunuh orang tanpa berpikir dua kali. Yang dibunuh adalah seseorang yang kebetulan berdiri di sampingnya, bernama Moshe, seorang Yahudi. Di depan polisi ia tidak menyangkal perbuatannya dan dengan enteng menjawab: “Dan bagaimana tentang mereka-mereka yang membunuh nabi Isa?”&lt;br /&gt;“Tetapi itu peristiwa yang telah terjadi dua ribu tahun yang lalu”, keluh polisi yang memeriksanya. “Ya”, katanya lagi, “tapi baru kemarin aku mendengarnya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(I).&lt;br /&gt;Peristiwa di atas dilukiskan oleh seorang penulis Bosnia terkenal, Dzevad Karahasan dalam tulisannya yang berjudul Literature is the Defence of History yang termuat dalam majalah tiga bulanan ART &amp; THOUGHT No, 76/2003 yang juga terbit serempak dalam bahasa Arab, Fikrun wa Fann.&lt;br /&gt;Lalu, premis logis dan garis pemikiran yang bagaimana dapat diterapkan pada peri laku Ivek? Kita bisa saja mengatakan perbuatannya sebagai sesuatu yang ahistorical: Ivek tidak memiliki sense tentang masa lalu dan tak ada jarak dari peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada masa lalu. Baginya, masa lalu itu, apapun kejadian itu dan kapanpun terjadinya memiliki semacam kekinian-yang-potensial dan pantas menjadi sesuatu topik (yang dibicarakan). Lagi, baginya, bentuk eksistensi itu adalah “sekarang dan di sini”.&lt;br /&gt;Ada juga yang meninjaunya sebagai suatu tipe kolektivisme. Bagi Ivek, identitas pribadinya terwujudkan tanpa kecuali dalam identitas kolektif dan secara lengkap teridentifikasi dengan hal itu: antara “kami” dan “mereka”. Premis logis yang ketiga yang dapat dikemukakan pada Ivek adalah sikap oposisi, atau lebih tepat lagi, konflik di mana “Aku”-nya mencakup hubungan dengan identitas yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(II).&lt;br /&gt;Kalau kita mau merenung sejenak, itulah lapisan-lapisan dari banyak Ivek di tanah air, yang mengendap selama Indonesia meredeka dengan gejolak-gejolak yang berkesinambungan sampai sekarang. Kadang-kadang membuat kita berkesimpulan, bertapa tercabik-cabiknya bangsa ini. Di sana mungkin saja terjadi proses reduksi identitas manusiawi dan Ivek-Ivek yang banyak itu mereduksi hubungan antara identitas-identitas individual menjadi perorangan-perorangan yang memendam permusuhan. Dan di sana akan tampil bendera kebersamaan yang eksklusif. Mungikin pada saat itulah pemahaman mereka tentang kemanusiaan itu terlupakan dan diganti dengan pengertian “orang banyak”. Kemanusiaan, humankind, adalah suatu notion, suatu ide, gagasan atau pikiran, suatu abstraksi, sementara “orang banyak” adalah suatu jumlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(III).&lt;br /&gt;Kita bisa pula berbicara dari aspek budaya dalam menghadapi hal-hal seperti itu. Kebudayaan adalah suatu campuiran dari yangt bersifat universal dan yang bersifat spesisik, yang umum dan yang konkrit. Yang pertama terbuka untuk semua orang dan dihubungkan dengan kebudayaan-kebudayaan yang lain;  sementara yang kedua, memisahkannya dari kebudayaan yang lain dan membuatnya menjadi semacam lingkungan spiritual dari suatu kelompok khusus orang-orang.&lt;br /&gt;Inti dasar alam semesta ini adalah sama bagi semua kebudayaan dan ini  menyebabkan ruang-kebudayaan itu sebenarnya saling melingkupi. Kita lalu bisa bilang, bahwa adalah sesauatu  yang mustahil terjadinya tabrakan-tabrakan antar budaya, karena bila terjadi tabrakan maka tiap kebudayaan akan berjuang menentang setiap bagian dirinya yang menyebabkan tabrakan itu. (Segi inilah yang menjadi pertimbangan diplomasi Yusuf Kala di Poso dan Ambon).&lt;br /&gt;Kalau konflik-konflik (perang) itu dikaitkan dengan kebudayaan, kalau terdapat keinginan untuk menghubungkannya dengan kebudayaan dengan resiko apapun, maka hal itu hanya bisa terjadi dengan versi-versi persiapan yang bersifat politis (dari kebudayaan-kebudayaan) yang dengan gampangan “diterapkan” pada unsur-unsur yang bersifat individual dari kebudayaan-oebudayaan itu, lalu dihubungkan dengan kebudayaan secara keseluruhan, maka jelas itu bukan kebudayaan tetapi suatu sistem ideologis. Sistem-sistem ideologis seperti itu disebut oleh Dzevad Karahasan sebagai “politically instrumentalised cultures”---kebudayaan-kebudayaan yang diperalat untuk (kepentingan-kepentingan) politik. Kebudayaan-kebudayaan seperti itu---yang dipersiapkan dan direduksi menjadi karikatrur-karikatur ideologias tentu saja bisa saling bertabrakan. Itulah gambaran yang terjadi di beberapa daerah tanah air kita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(IV).&lt;br /&gt;Itulah sebabnya kita harus berhati-hati ketika kita membaca buku Samuel P.Huntington yang berjudul The Clash of Civilization yang kesohor itu. Soalnya, bagaimana mungkin seorang Samuel Huntington yang mempelajari kebudayaan-kebudayaan dapat menulis sebuah buku dengan begitu menyederhanakan hakekat pokok kebudayaan dan melakukannya dengan karikatur-karikatur seperti itu. Kesimpulan Huntington adalah menerapkan bedah yang sama terhadap kebudayaan-kebudayaan, seperti Ivek menerapkannya pada dirinya sendiri dan pada Moshe: mereduksi menjadi (makhluk-makhluk) politik, yaitu karikatur-karikatur yang bersifat mekanis dari diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;Banyak Ivek-Ivek dan Moshe-Moshe di tanah air tercinta ini, di samping banyak pula orang-orang macam Samuel Huntington itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                Japan Raya, Juni 2004.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-114984613144185337?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/114984613144185337/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=114984613144185337' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114984613144185337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114984613144185337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/06/esai-ivek-max-arifin.html' title='Esai: Ivek [Max Arifin]'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-114984474754121795</id><published>2006-06-09T02:16:00.000-07:00</published><updated>2007-11-01T23:59:19.981-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='max arifin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teater'/><title type='text'>Max Arifin: Kritik Teater,Kontroversi Cerita Lama</title><content type='html'>KRITIK TEATER,&lt;br /&gt;Kontroversi cerita lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Max Arifin**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One of a critic’s main jobs&lt;br /&gt;is to prick balloons.&lt;br /&gt;          Eric Bentley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (1).&lt;br /&gt;    Menulis kritik teater, kata Eric Bentley (1958: 235) adalah lebih buruk ketimbang jalan di atas telur;  rasanya seperti kita jalan di atas tubuh-tubuh manusia yang hidup dan menyebabkan tubuh-tubuh itu berdarah-darah. Dan barangkali agak berlebihan bila ia  menambahkan, bahwa ia merasa kritik teater itu  merupakan seni membuat musuh dan gagal mempengaruhi orang. Namun orang ini  terus juga menulis kritik-kritik teaternya sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan yang ia miliki tentang kritik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Umpamakan tak ada kritik teater yang serius;  maka pujian-pujian dari  apa yang “sok disebut kritikus” itu juga tidak akan diterima dengan serius. Bila semua lakon dan semua pementasan dipuji, sebuah kritik teater yang baik tidaklah akan berarti apa-apa. Seniman yang dikritik belajar memfokuskan diri  pada kritik-kritik yang menyalahkan dia dan melupakan yang lain;  sebagian besar mereka bersikap seperti itu. Mereka yang tak tahan (terhadap kritik) biasanya bukanlah mereka yang lapar akan sedikit pengakuan, tetapi mereka yang telah kenyang dengan pujian yang berlimpahan. Kebudayaan kita sudah terlalu banyak menjual setiap produk Reputasi-reputasi tidaklah selalu benar-benar tinggi, mereka malah terlalu banyak dipompa, sesuatu yang sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Namun demikian, kita akan serempak berseru: kritik teater sangat diperlukan. Maju-tidaknya kehidupan herteater tergantung pada kritik-kritik teater yang berbobot. Kita seakan-akan merindukan kritik teater yang berbohot, kritik teater yang mencerminkan kecerdasan dan intelektualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (II),&lt;br /&gt;    Ada kontroversi seputar masalah kritik sastra, termasuk kritik teater;  persaingan antara sastrawan kreatif dan para kritikus dan ini adalah ceritera lama.&lt;br /&gt;    Pertama, kita masih ingat metode kritik Ganzheit  (Arief Budiman dan Gunawan Mohamad) yang mengingatkan kita pada ucapan Jean-Paul Sartre: “Karya sastra tidak bisa direduksi menjadi sebuah pemikiran” dan kritik akademik yang berpegang pada analisa, yang diwakili para sarjana sastra UI Rawamangun, yang mengingatkan kita pada The New School of Criticism. Dan debat  ini  telah dipecahkan melalui teori lingkaran, di mana diandaikan bahagian dan keseluruhan akan selalu mengandaikan secara terus-menerus dalam suatu lingkaran yang memutar.&lt;br /&gt;Kedua, ada pertentangan antara otonomi pengarang dan otonomi semantic, atau antara textual meaning dan authorial meaning.&lt;br /&gt;Tugas teori dan metode adalah membantu kita memahami sifat-sifat objek sedekat mungkin dan bukan malah melakukan distorsi dengan menjadikan objek kajiannya hanya sebagai ilustrasi untuk suatu teori. (Ignas Kleden, 2004: 193). Kritik dinilai berdasarkan keberhasilannya atau kegagalannya dan bukan berdasarkan pendekatan yang digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, antara pendapat yang mengatakan, bahwa semua lakon itu adalah baik dan pendapat yang mengatakan ada lakon yang baik dan ada yang tidak baik (dan menelurkan kriteria tentang lakon yang baik). Naskah-naskah yang dibuat sendiri dipandang berbeda dengan naskah-naskah terjemahan dari luar negeri. Naskah-naskah buatan sendiri cenderung dipandang “kurang” memenuhi kriteria lakon yang baik. Seperti Peter Brook, umpamanya (1989: 46) memberikan kriteria umum tentang lakon yang baik dan yang tidak baik. Lalu ia menyimpulkan, masalah utama teater dewasa ini adalah: how can we make plays dense in experiences?! George Lukacs rnenyebutnya sebagai “dilema intelektual kesusastraan”:&lt;br /&gt;sejauh mana sebuah lakon itu mampu melukiskan keadaan suatu masyarakat sambil mengusulkan suatu dunia baru, suatu possible wor/d suatu proposed world. Sekalipun belum ada dalam kenyataan, sanggup mengundang dan meyakinkan penonton tentang perlunya dunia tersebut; suatu masa depan yang hakiki, masa depan sebagai suatu “struktur konseptual” suatu penganganan dramatik. Brook lagi: jika suatu lakon itu mengkonfirmasikan pada kita sesuatu yang sudah kita yakini atau percaya, maka lakon itu tak ada gunanya. Kecuali, tentu saja lakon itu mengkonfirmasikan the real belief, di mana teater dapat membantu kita untuk melihat dan memahami dengan Iebih baik,&lt;br /&gt;(III)&lt;br /&gt;Ada tiga persoalan yang mendasar dalam usaha kita membuat kritik teater yang baik pertama, penganalisaan lakon lewat suatu studi terhadap naskah tersebut. Juga studi tentang latar belakang pengarangnya studi tentang fakta-fakta yang dominan pada periode tersebut---agama atau hal-hal yang bersifat psikologis---dan sejauh mana naskah itu (bisa) dieksekusi ke dalam realitas pentas. Kedua, kemungkinan-kemungkinan teatral dari naskah tersebut yang meliputi kebutuhan visual, kebutuhan verbal, kebutuhan karakteristik dan kontak antar karakter, kebutuhan struktural serta kebutuhan auditif---kontras, jedah yang baik dan ilustrasi musik. Ketiga, menunjukkan kriteria yang digunakan dalam penilaian.&lt;br /&gt;Menurut Max Lerner pengarang mempunyai dua macam filsafat: kredo artistic yang sadar lewat medium drama dan visinya tentang kehidupan serta nilai yang terletak di bawah sadarnya---pandangan hidupnya berupa pengendapan fakta-fakta yang datang dari luar.&lt;br /&gt;Sernentara tujuan dan kritik teater, Oscar G.Brockett (1964: 19) menyebut tiga tujuan: expository, appreciation dan evaluative. Mungkin saja dalam sebuah kritik teater ketiga tujuan tersebut terdapat bersama-sama.&lt;br /&gt;Kritik teater expository antara lain mempelajari pengarangnya, kapan naskah itu ditulis, sumber-sumber dan ide-ide yang diekspresikan dalam naskah.&lt;br /&gt;Kritik teater yang appreciative biasanya ditulis oleh kritikus teater yang telah memutuskan, bahwa naskah tersebut adalah baik. Motif utamanya adalah agar orang lain, masyarakat penonton juga ikut merasakan kekuatan naskah tersebut. Bisa juga kritikus tersebut menguraikan responnya sendiri kemudian membangkitkan perasaan yang sama pada pembaca penonton. Atau bisa juga ia memperlihatkan kesungguhan penulisnya dalarn struktur naskah, karakterisasi, penciptaan mood, dan lain- lain.&lt;br /&gt;Kritik teater yang evaluative bisa menggunakan (kritik) expository, appreciative dan bahkan bisa menghukumnya. Tujuan utamanya adalah menilai efektivitas dari naskah tersebut.&lt;br /&gt;Dengan demikian kita mendapat bayangan kira-kira bagaimana seorang kritikus teater yang “baik” itu: (1). Ia harus sensitive terhadap perasaan dan ide-idenya; (2). Ia harus mengenal benar teater dari segala periode dan semua tipe/gaya/aliran, terutama perkembangan teater di Indonesia sehingga tampak tahap-tahap hubungan dialektik antara teater setempat dan pengaruh-pengaruh dari luar terutama yang merangsang bangkitnya kesadaran kecendikiawanan perteateran (Bakdi Soemanto, 2001: 120); (3). Ia harus mau mengeksplore naskah lakon sampai ia memahaminya secara tuntas; (4). Ia harus awas, hati-hati terhadap prasangka pribadi dan nilai-nilainya; (5). Ia harus pandai berbicara dan jelas dalam mengeluarkan penilaiannya dan dasar-dasarnya; (6). Ia harus mau mengubah pendapatnya bila ada pengalaman dan bukti-bukti baru.&lt;br /&gt;Peter Brook (1990: 37) menekankan, bahwa ia, kritikus teater itu mempunyai suatu citra (image) tentang bagaimana seharusnya sebuah teater itu berada dalam komunitasnya. Akan jauh lebih baik bila ia menjadi orang dalam (insider). Ia menceburkan diri ke dalam hidup kita,bertemu dengan para aktor, berbicara dan berdiskusi, menyaksikan dan (kalau perlu) campur tangan. Memang terdapat sedikit masalah: bagaimana mungkin seorang kritikus berbicara pada seseorang yang tadinya dikecam dalam surat kabar. Bagaimanapun juga hubungan itu tetap dijaga dan diperbaiki karena keduanya saling membutuhkan. Kritikus yang tidak lagi menyukai teater adalah “a deadly critic”; kritikus yang mencintai teater tetapi tidak dengan tegas dan jelas apa yang dimaksudkan dalam kritiknya, juga adalah “a deadly critic”. Kritikus yang baik adalah kritikus yang dengan jelas memformulasikan untuk dirinya sendiri (lebih dulu) bagaimana seharusnya sebuah teater dan cukup berani melemparkan formula tersebut ke dalam “kancah yang beresiko” setiap waktu, saat ia berpartisipasi dalam peristiwa teater. Memang berat baginya untuk mempertahankan suatu entusiasme bila cuma ada sedikit lakon yang baik: suatu pilihan yang tidak menyenangkan antara karya-karya besar konvensional dan karya-karya modern yang kurang baik.&lt;br /&gt;Brook menulis di sana: “We are now in another area of the problem, also considered to be central: the dilemma of the deadly writer”. Apakah pernyataan ini berlaku juga bagi kita di Indonesia? Ada kecenderungan lakon-lakon itu cumalah pengulangan atau penulisan dalam bentuk baru. Drama lalu menjadi kantong pakaian-pakaian rombeng, keisengan dan ide- ide yang kemarin.&lt;br /&gt;Menurut Eric Bentley, kemunduran ini disebabkan oleh dua hal: (1), penulisan naskah lakon cuma dipandang sebagai suatu craft, ketukangan. Dramaturgi diturunkan dan the fine arts menjadi the useflul arts dan juga tidak berguna:, (2). Naskah ditulis khusus untuk penonton tertentu yang ada dalam pikirannya dan tidak berpikir ada penonton yang lain untuk naskah yang baik. Alasan utamanya adalah untuk menarik perhatian dan menyenangkan penonton. Dia melihat dramaturgi itu sebagai persoalan bagaimana menepatkan lakon itu pada penontonnya; yang benar adalah penonton itu diminta/dihimbau to adjust dirinya pada lakon tersebut.&lt;br /&gt;(IV).&lt;br /&gt;“Is there another language just as exacting for the author as a language of words?” tanya Brook lagi ketika ia berbicara tentang The Holy Theatre sebagai suatu penghormatan bagi Artaud. (hal.55). Apakah ada bahasa untuk actions, untuk suara, “a language of word-as-part-of movement”, “of word-as-lie, word-as-parody, word-as-rubbish, word-as-contradiction, word-shock or word cry”?&lt;br /&gt;Teater yang mencoba memberikan arti yang lebih dalam lagi tentang gestur, umpamanya; gestur sebagai suatu statement, ekspresi, komunikasi dan suatu manifestasi pribadi tentang kesepian, yang disebut Artaud sebagai “a signal through the flames” sekaligus sebagai tempat berbagi pengalaman begitu kontak itu terjadi.&lt;br /&gt;Perlahan-lahan kita menuju ke “wordless language” yang lain: kita mengambil sebuah peristiwa, sepotong pengalaman dan membuat gerak-gerak dengan tubuh yang mengubahnya menjadi bentuk-bentuk di mana kita dapat saling berbagi. Kita mendorong para aktor itu untuk melihat diri mereka bukan hanya sebagai improvisers, menuntun diri mereka ke dalam inner impulses mereka, tetapi sebagai seniman bertanggung jawab mencari dan menyeleksi di antara bentuk-bentuk tersebut sehingga sebuah gestur itu atau sebuah teriakan menjadi sebuah objek yang ia temukan dan bahkan dibentuk-ulang. Kita menolak bahasa topeng tradisional dan dandanan-dandanan sebagai sesuatu yang tidak cocok lagi. Kita bereksperimen dengan keheningan kita ingin menemukan hubungan antara keheningan dengan durasi. Kita bereksperimen dengan ritual dalam arti pola-pola yang berulang-ulang, melihat apakah hal itu mungkin untuk menghadirkan lebih banyak arti lagi dan lebih cepat ketimbang lewat suatu pembongkaran peristiwa secara logik. Tujuannya, seperti dikatakan oleh Brook, adalah bagaimana yang tidak tampak itu menjadi tampak lewat kehadiran para aktor, terlepas buruk atau baik atau sukses atau gagal.&lt;br /&gt;Seperti dikatakan sendiri oleh Artaud (Stephen Barber, 1993: 44) teaternya tidak mempercayai lagi bahasa, karena teks itu cumalah pengulangan-pengulangan yang nyinyir. Di bagian lain Artaud menulis begini (hal. 145)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;the theatre&lt;br /&gt;is the condition&lt;br /&gt;the place&lt;br /&gt;the point&lt;br /&gt;where the human anatomy can be seized&lt;br /&gt;and used to heal and direct life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya bagi kita atau bagi (calon) kritikus teater: rasanya kita belum mempunyai rumusan atau kriteria yang baku dalam menilai pementasan-pementasan yang mengambil gaya Artaudian. Apakah hal itu perlu atau tidak perlu dirumuskan seperti yang terjadi pada teater-teater yang mengambil gaya Brechtian atau Chekhovian. Kriteria tersebut juga diperlukan oleh para penonton agar mereka mengetahui bagaimana kita menikmati pergelaran-pergelaran Artaudian tersebut.&lt;br /&gt;(V).&lt;br /&gt;Perlukah para kritikus mempunyai sebuah organisasi ? Saya tidak bisa menjawab secara tegas. Di lnggris ada Guild of Drama Adjudicators atas restu dan British Drama League. Pada awal pembentukannya organisasi ini beranggotakan empat puluh enam orang, orang-orang yang mempunyai pengalaman yang baik dalam festival-festival drama. Sekarang anggotanya sebanyak dua ratus lima puluh orang dengan cabang-cabangnya di New Zealand, Kanada, Australia dan Amenika Serikat. Organisasi ini membuat standar penilaian terhadap pementasan-pementasan. Syarat-syarat keanggotaannya cukup ketat. Anggota-anggotanya adalah orang-orang professional, berpengalaman sebagai aktor, sutradara, stage manager atau produsir. (Derek Bowskill, 1973: 328).&lt;br /&gt;Di Inggris juga ada British Theatre Association, The National Association of Drama Advisers ada pula National Drama Conference, National Federation of Women’s Institutes, The National Operatic and Dramatic Association. Mereka mempunyai program kerja yang luas:&lt;br /&gt;pelatihan-pelatihan, effective speech courses, pelayanan perpustakaan, informasi, penerbitan bulletin, pelatihan menjadi kritikus, penulisan naskah, ceramah-ceramah, konsultasi, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Apakah tidak mungkin kita memikirkan organisasi-organisasi seperti di lnggris itu ? Saya mendukung gagasan untuk membentuk Federasi Teater Indonesia.&lt;br /&gt;Di samping itu perlu dipertimbangkan agar PT-PT Seni dan sanggar-sanggar mampu memunculkan kritikus-kritikus teater yang handal seperti dirisaukan oleh Bakdi Soemanto dalam bukunya Jagat Teater (2001: 321). Ia juga mengkritik sutradara beberapa sanggar yang bertindak sebagai pemilik dari company itu yang tidak memungkinkan munculnya kritikus-kritikus teater dari sana.&lt;br /&gt;(VI).&lt;br /&gt;Sesungguhnya teater itu berada dalam situasi antara kekuatan-kekuatan yang sedang bertanding yang memberinya hidup; teater itu sendiri adalah pemberi hidup. Kita ingat akan The Great Initiatory Wheel-nya Richard Schechner (1994: 318) yang terbentuk bila kerja kelompok itu sukses. Personal (yang mempertanyakan siapa aku sekarang) sebagai suatu realisasi diri menuju ke Group (munculnya kreativitas kolektif)... .menuju ke social (solidaritas)... .menuju ke Political (kesadaran)... menuju ke Metaphysical (manusia dapat mengubah dirinya)... menuju kembali ke Personal dan seterusnya dalam sebuah lingkaran yang makin menaik&lt;br /&gt;Ya, bagaimana lagi?&lt;br /&gt;That’s all. Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Casa di Lansia, 20 Juni 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Disampaikan pada Symposium Kritik Seni Dewan Kesenian Jakarta&lt;br /&gt;tanggal 23-24 Juni 2005 di Jakarta&lt;br /&gt;* *Max Arifin, pengamat teater tinggal di Mojokerto, Jl. Bola Volley Blok E-33, Perum Griya Japan Raya, Sooko, Kabupaten Mojokerto. (0321) 326915. Email : daxxenos2@yahoo.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-114984474754121795?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/114984474754121795/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=114984474754121795' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114984474754121795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114984474754121795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/06/max-arifin-kritik-teaterkontroversi.html' title='Max Arifin: Kritik Teater,Kontroversi Cerita Lama'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-114984456854262482</id><published>2006-06-09T02:12:00.000-07:00</published><updated>2007-11-02T00:00:31.791-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ludruk'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya budaya'/><title type='text'>Jadwal Pentas Ludruk Karya Budaya-Juni 2006</title><content type='html'>JADWAL PENTAS LUDRUK KARYA BUDAYA&lt;br /&gt;BULAN JUNI 2006:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Kamis,1 Juni : Taluhnongko, Jetis, Mojokerto&lt;br /&gt;2.Jumat,2 Juni   : Banjarsari, Jetis, Mojokerto&lt;br /&gt;3.Sabtu,3 Juni    : Lakarsantri RW 03 Surabaya&lt;br /&gt;4.Minggu,4 Juni : Bangkingan RW 02 Surabaya&lt;br /&gt;5.Senin, 5 Juni   : Sadar,Mojoanyar,Mojokerto&lt;br /&gt;6.Selasa,6 Juni: Trawas&lt;br /&gt;7.Rabu, 7 Juni: Bibis Timur,Krian, Sidoarjo&lt;br /&gt;8.Sabtu, 10 Juni: Melati, Balongbendo, Sidoarjo&lt;br /&gt;9.Minggu, 11 juni: Laban kulon, Menganti, gresik&lt;br /&gt;10.Senin, 12 Juni : Pucung Balongpanggang Gresik&lt;br /&gt;11.selasa, 13 juni : warugung, karangpilang,surabaya&lt;br /&gt;12.rabu,14 juni: Balongwono, Trowulan, Mojokerto&lt;br /&gt;13.kamis, 15 juni: pandan,Kemlagi,Mojokerto&lt;br /&gt;14.Sabtu,17 juni : Made RW 03,Surabaya&lt;br /&gt;15.Minggu, 18 juni: Damarsih, Mojoanyar,mojokerto&lt;br /&gt;16.selasa,20 juni: Tulangan,Sidoarjo.&lt;br /&gt;17.Rabu,21 Juni: Blimbing, Kesamben,Jombang&lt;br /&gt;18.Kamis,22 Juni: Batankrajan,gedeg,Mojokerto&lt;br /&gt;19.Jumat, 23 Juni: Sumber nongko, Ngusikan, jombang&lt;br /&gt;20.Sabtu,24 juni: Sukodono, Canggu, Mojokerto&lt;br /&gt;21.Minggu, 25 Juni: Cagak agung, Cerme, gresik&lt;br /&gt;22.Senin, 26 Juni: Brayu, dawar,Mojokerto&lt;br /&gt;23.Selasa, 27 juni: lakarsantri RW 04, surabaya&lt;br /&gt;24.Rabu,28 juni: Bali, sukodadi, Lamongan&lt;br /&gt;25.Kamis, 29 juni: sumber gedhe,wringin anom,gresik&lt;br /&gt;26.Jumat, 30 juni; kb Candi,Beji,Pasuruan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap ,silakan kontak:&lt;br /&gt;Bapak Drs. Eko Edy Susanto,Msi [Cak Edy Karya],&lt;br /&gt;Pimpinan Ludruk Karya Budaya,&lt;br /&gt;Dusun Sukodono RT 02 RW 1, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto 61300, Jawa Timur&lt;br /&gt;Telp 0321- 362847&lt;br /&gt;Hp 081 231 89347.&lt;br /&gt;Email: cakedikarya@yahoo.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-114984456854262482?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/114984456854262482/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=114984456854262482' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114984456854262482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114984456854262482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/06/jadwal-pentas-ludruk-karya-budaya-juni.html' title='Jadwal Pentas Ludruk Karya Budaya-Juni 2006'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-114984431323227360</id><published>2006-06-09T02:07:00.000-07:00</published><updated>2006-06-09T02:11:53.806-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6401/2121/1600/penulis%20pria.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/6401/2121/320/penulis%20pria.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-114984431323227360?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/114984431323227360/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=114984431323227360' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114984431323227360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114984431323227360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/06/blog-post.html' title=''/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-114983988952348120</id><published>2006-06-09T00:54:00.000-07:00</published><updated>2006-06-09T00:58:13.296-07:00</updated><title type='text'>Lomba Penulisan Naskah Teater Perempuan</title><content type='html'>LOMBA PENULISAN NASKAH TEATER PEREMPUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justice for the Poor Program, The World Bank, bekerjasama dengan &lt;br /&gt;PEKKA (Organisasi Perempuan untuk Pemberdayaan Perempuan Kepala &lt;br /&gt;Keluarga) mengundang para pegiat seni dan masyarakat umum untuk &lt;br /&gt;mengirimkan naskah skenario teater perempuan yang akan digunakan &lt;br /&gt;untuk meningkatkan pemahaman hak-hak hukum perempuan di desa-desa &lt;br /&gt;Indonesia. Tema skenario memunculkan berbagai persoalan hukum &lt;br /&gt;perempuan, antara lain: nikah bawah tangan, kawin kontrak, &lt;br /&gt;perceraian yang dilakukan secara sewenang-wenang, diskriminasi hak &lt;br /&gt;waris, kekerasan dalam rumah tangga, diskriminasi upah, atau kondisi &lt;br /&gt;lain yang memprihatinkan berkenaan dengan akses perempuan terhadap &lt;br /&gt;keadilan.&lt;br /&gt;Persyaratan naskah antara lain: (1) Bentuk penulisan naskah adalah &lt;br /&gt;yang lazim bagi skenario teater; (2) Setting teater diharapkan lebih &lt;br /&gt;netral dalam arti dapat disesuaikan dengan berbagai latar belakang &lt;br /&gt;budaya. Sangat diharapkan skenario tidak terlalu menggambarkan atau &lt;br /&gt;mencerminkan suatu budaya atau tradisi tertentu, namun lebih &lt;br /&gt;mencerminkan nilai-nilai atau budaya nasional; (3) Naskah dapat &lt;br /&gt;dipentaskan sebagai teater penyadaran untuk masyarakat (teater &lt;br /&gt;keliling/rakyat), dapat dipadukan dengan musik namun tidak &lt;br /&gt;memerlukan peralatan yang memberatkan masyarakat, serta bisa &lt;br /&gt;dilakukan oleh kelompok masyarakat manapun dengan murah meriah; (4) &lt;br /&gt;Durasi skenario adalah 25-30 menit; (5) Hak publikasi naskah &lt;br /&gt;skenario dengan segala bentuk modifikasi serta hak peredaran dari 10 &lt;br /&gt;naskah terbaik ada pada Justice for The Poor. Informasi lengkap bisa &lt;br /&gt;dilihat di www.justiceforthepoor.or.id atau mohon lihat TOR &lt;br /&gt;terlampir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses seleksi:&lt;br /&gt;14 juli 2006: Penerimaan terakhir naskah teater&lt;br /&gt;1 Agustus 2006: Pengumuman peringkat 10 naskah utama&lt;br /&gt;17 Agustus 2006: Pementasan 3 naskah terbaik, sekaligus seleksi dan &lt;br /&gt;pengumuman juara I, II dan III.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total hadiah adalah Rp 30,5 juta. Pertanyaan lebih lanjut mengenai &lt;br /&gt;gagasan serta teknis lomba akan dilayani paling lambat sampai 30 &lt;br /&gt;Juni 2006. Naskah dikirim ke: Panitia Skenario "Teater Perempuan? &lt;br /&gt;email: dnovirianti@wboj.or.id atau pfarouk@wboj.or.id, atau melalui &lt;br /&gt;pos: Justice for the Poor Program, The World Bank, Jl. Cik Ditiro &lt;br /&gt;68A Menteng Jakarta, Tlp. (021) 3107158 Fax (021) 3924640.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-114983988952348120?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/114983988952348120/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=114983988952348120' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114983988952348120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114983988952348120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/06/lomba-penulisan-naskah-teater.html' title='Lomba Penulisan Naskah Teater Perempuan'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-114724221284944011</id><published>2006-05-09T23:19:00.000-07:00</published><updated>2007-11-02T00:07:27.970-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='max arifin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teater'/><title type='text'>wawancara dengan Max Arifin:teater realis,kuno..</title><content type='html'>WAWANCARA DENGAN MAX ARIFIN:&lt;br /&gt;BELAJAR TEATER REALIS MASIH DIANGGAP KUNO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini teater gaya realis kembali dimunculkan. Menurut Max Arifin, generasi baru teater sedang kehilangan referensi. Dia sering menyebut teater sebagai study. Sebab itu ia menduga, dengan kembalinya teater gaya realis, ada usaha untuk mengembalikan pada tradisi berpikir.&lt;br /&gt;Dalam tahun ini tiga festival teater realis digelar. Pekan Seni Mahasiswa tangkai teater pada bulan Agustus 2004 lalu, para peserta diharapkan menggarap teater bergaya realis. Begitu juga pada bulan September, Festival Teater Remaja [FTR] Jatim yang diselenggarakan Taman Budaya Jatim[TBJT], memberikan naskah-naskah ke peserta, banyak condong ke realis. Sementara dalam bulan ini, Dewan Kesenian Jakarta [DKJ], menggelar Panggung Realis Teater Indonesia.&lt;br /&gt;    ‘Kembalinya’ teater gaya realis ini banyak yang mempertanyakan. Komunitas teater di Jember misalnya, pernah memprotes atas pilihan gaya teater realis yang disodorkan panitia kepada kelompok teater kampus. Mereka menganggap, teater realis bisa menjadi ‘alat’ pembunuhan teater. Bahkan dengan keras mereka menanyakan, apakah teater harus saling membunuh?&lt;br /&gt;    Begitu juga saat digelar FTR di TBJT, ada yang memprotes, hadirnya teater realis bisa menjadi kendala perkembangan teater di Surabaya, terutama soal pemahaman terhadap bentuk teater. Bahkan, ada yang melontarkan statemen , ada usaha memaksakan politik credo, dengan mengusung dramaturgi sebagai alat pembenaran teater.&lt;br /&gt;    Di samping peredabatan itu, sebenarnya sejauh mana para aktivis teater kita paham tentang teater realis? Dalam pertemuan technical meeting dengan peserta pekan seni mahasiswa di Jember, bisa disimpulkan, rata-rata peeserta kurang banyak referensi tentang teater realis. Menurut Max Arifin, generasi muda teater Indonesia telah kehilangan referensinya untuk membuat sebuah peristiwa teater.&lt;br /&gt;“Jadi ada benarnya kalau sekarang kembali pada gagasan realisme, agar mereka tahu proses sebuah teater yang baik,” kata Max Arifin.&lt;br /&gt;    Max Arifin adalah salah satu tokoh perteateran di Indonesia yang sangat intens mengamati, menulis kritik, menerjemahkan buku, menjadi pembicara, juri, kurator teater, bahkan menulis buku teater, sudah dilakoninya sejak tahun 70-an. Di tempat tinggalnya, Griya Japan Raya, Jl.Bola Volley Blok E33, Sooko, Mojokerto, kepada wartawan harian SuaraIndonesia, R.Giryadi, Max Arifin menguraikan sejauh mana teater realis berkembang di Indonesia yang mendapatkan referensinya dari perkembangan teater realis di Barat? Berikut petikan wawancaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kapan teater realis berkembang di Indonesia?&lt;br /&gt;Teater realis di barat berkembang pada akhir abad 19. Di Indonesia sendiri mengenal teater realis setelah masa perang berakhir bahkan mulai dipelajari secara baik setelah berdiri perguruan tinggi teater seperti ATNI[ Akademi Teater Nasional Indonesia], Asdrafi [Akademi Seni Drama dan Film], dan perguruan tinggi yang lain. Kemudian beberapa kelompok teater ada yang sangat serius mendalami teater realis, seperti teater Populer nya Teguh Karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di barat sendiri teater realisnya seperti apa?&lt;br /&gt;Jadi teater realis itu muncul ketika dunia teater barat memasuki abad modern. Tokoh teater realis mencoba membuang apa yang disebut the theatre of histrionics dalam bidang acting dan ekses yang terlalu dibuat-buat. Seperti well-made play ala Victorian.&lt;br /&gt;    Salah satu tokoh gerakan ini adalah Henrik Ibsen yang karya-karyanya terus menjadi inspirasi bagi pemikir sesudahnya, seperti Bernard Shaw [Inggris], George Jean Nathan [AS].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi paham ini didasari oleh apa?&lt;br /&gt;Paham modernisme awal abad 19 adalah awal kebudayaan berpikir yang dipengaruhi oleh berkembangbiaknya budaya buku. Dengan berpikir kesadaran diaktifkan, pernyataan dan wacana dapat dikaji ulang secara kritis, rinci dan meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya teater sebagai ilmu pengetahuan?&lt;br /&gt;Semangat ilmu pengetahuan memang benar-benar mengubah gaya teater romantisme yang berkembang dalam abad sebelumnya. Dalam hal ini, penulis lakon harus menjadi pengamat yang subyektif. Mereka menciptakan apa yang disebut the illusion of reality di atas pentas. Bingkai proscenium of reality diubah menjadi semacam  pictute window. Lewat jendela itu kita bisa melihat peristiwa yang kini, di sini dan sekarang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Max Arifin atau nama lengkapnya Mohammad Arifin, lahir di Sumbawa Besar tahun 1936. Ketika di Mataram Lombok, dia mengajar teknik penyutradaraan pada Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram. Selain itu dia juga sibuk menjadi pegawai di Dikbud NTB bekerja pada seksi sastra dan drama [modern dan tradisional].&lt;br /&gt;    Sejak tahun 1970-an sering mengikuti pertemuan-pertemuan teater. Pada tahun 1977 ikut menyusun materi keterampilan seni teater di Ambarawa. Tahun 1978, mengikuti seminar teater di Bandung. Selain sibuk mengikuti pertemuan teater Max Arifin juga menerjemahkan buku-buku tentang teater, novel dan cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sekarang gagasan teater realis kembali ditawarkan, di tengah perkembangan teater modern Indonesia. Bahkan lembaga seperti Dewan Kesenian Jakarta menggelar Panggung Realis Teater Indonesia.&lt;br /&gt;Menurut Anda, mengapa gagasan teater realis dimunculkan kembali?&lt;br /&gt;Dugaan saya, ini usaha mengembalikan pada proses teater yang baik. Dengan begitu, para generasi muda kita yang getol dengan teater tidak kehilangan referensinya ketika memahami teater. Dugaan saya yang lain, barangkali ini juga usaha mengembalikan wacana berpikir dalam proses berteater. Karena saya melihat perkembangan teater kita carut-marut, seperti tanpa arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah pada tahun 60-an teater kita sudah berkembang dengan baik?&lt;br /&gt;Itulah, saat ini menurut dugaan saya, barangkali kita butuh wacana teater realis yang Indonesia. Bukan adopsi dari barat. Kalaupun ada gaya realis Rendra misalnya, itu kan hanya mengambil sebagian barat dan sebaian timur dalam hal ini Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia sendiri apakah ada teater realis?&lt;br /&gt;Di Jepang seperti dalam bukunya David Goodman, diterangkan bahwa ada tiga teater realis gaya Jepang. Dalam buku itu disebutkan shejitsu merupakan refkeksi aktual, shashin merupakan refleksi kebenaran, dan shasei merupakan refkeksi kehidupan. Ini kan menunjukkan ciri-ciri teater realis. Pertanyaannya apakah Indonesia punya ciri-ciri seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu yang dimaksud realis dalam kontek kebudayaan Indonesia sendiri seperti apa?&lt;br /&gt;Ini sulit sekali menilai. Study Club Teater Bandung [STB] pimpinan Alm.Suyatna Anirun misalnya masih sebatas mengadaptasi naskah barat ke gaya sunda. Begitu juga Bengkel Teater Rendra, juga masih sebatas mengadaptasi, mengaktualisasikan tema-tema barat ke Indonesia. Ini sah. Tetapi yang benar-benar digali dari persoalan sendiri masih kurang. Bahkan ironisnya, bila kita belajar teater realis masih dianggap kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri teater realis sendiri apa?&lt;br /&gt;Yang digambarkan dalam lakon-lakon bukanlah pahlawan-pahlawan dan bajingan-bajingan yang eksotik, tetapi masalah-masalah biasa.&lt;br /&gt;    Bukan mimpi-mimpi dan fantasi-fantasi, tetapi studi ilmiah kehidupan yang aktual. Didasarkan pada observasi yang hati-hati terhadap orang-orang biasa dan tempat-tempat yang riil.&lt;br /&gt;    Ciri-ciri pemanggungannyasendiri dibagi atas wilayah-wilayah yang mempunyai nilai sendiri-sendiri di setiap wilayahnya. Seperti pentas dibagi ke dalam sembilan wilayah. Dengan pembagian wilayah ini diharapkan para aktor akan segera menganalisis arena permainan mereka.&lt;br /&gt;    Naskah lakon realis haruslah complete an self-contained ,sebuah alur cerita yang padu, rangkaian peristiwa yang disusun atas dasar sebab akibat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menerjemahkan naskah-naskah drama barat, Max Arifin juga pernah menulis drama sejak tahun 1988. Naskah drama yang pernah ditulis berjudul Putri Mandalika, Matinya Demung Sandubaya, Badai Sepanjang Malam, Balada Sahdi-Sahdia, Tumbal Kemerdekaan.&lt;br /&gt;Selain menerjemahkan naskah drama, Max juga banyak menerjemahkan buku-buku teater yang ditulis oleh Jerzy Grotowski, Bertolth Brecht, Peter Brook, David Goodman,Constantin Stanislavsky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi dikatakan mempelajari teater realis dianggap kuno. Apakah ini disebabkan oleh kesalahan dalam memahami teater realis?&lt;br /&gt;Realisme telah memberikan inspirasi yang tak akan pernah mati-mati. Karya-karya Bertolt Brech disebut sebagai puncak dari realisme. Teater memang berada di antara semua faktor yang saling melawan dan semua itu memberinya kehidupan dan teater sendiri adalah a life giver. Eksistensi teater adalah rawan, suatu perjuangan yang terus berputar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sebenarnya semangat teater realis adalah semangat berpikir. Dan berpikir suatu yang bukan kuno?&lt;br /&gt;Benar.Realisme mencoba merangsang bangkitnya kesadaran kecendekiawanan perteateran dan itulah sebabnya teater realis disebut the theatre of intelligent. Ini argumen mendasar teater modern baik it kaum naturalis, realis, maupun teatrikalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Max Arifin sering mengatakan bahwa teater adalah study. Dalam buku Jagad Teater [Bakdi Sumanto:2001], diterangkan semangat realisme yang sebenarnya merangsang seniman untuk kritis terhadap diri sendiri.&lt;br /&gt;Sayang, sikap kritis untuk mengembangkan teaternya sendiri tidak diberi banyak kesempatan untuk tumbuh. Sementara ktitik teater benar-benar macet.&lt;br /&gt;Barangkali, ketika semuanya macet, disinilah peranan realisme dibutuhkan dan kita kembali pada hal yang sangat mendasar bagi manusia: Berpikir !&lt;br /&gt;[wawancara ini dimuat di harian SuaraIndonesia,Minggu, 28 November 2004].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamat kontak Bapak Max Arifin:&lt;br /&gt;Jl.Bola Volley Blok E 33,Perum Griya Japan Raya, Sooko, Kabupaten Mojokerto 61361&lt;br /&gt;Jawa timur. Telp 0321- 326915. Hp 085 2300 39 807. email: daxxenos2@yahoo.com.&lt;br /&gt;Sebagian karya terjemahan, dapat diakses melalui blog: banyumili. Link:http://majapahitan2.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-114724221284944011?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/114724221284944011/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=114724221284944011' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114724221284944011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114724221284944011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/05/wawancara-dengan-max-arifinteater.html' title='wawancara dengan Max Arifin:teater realis,kuno..'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-114664377236168583</id><published>2006-05-03T01:03:00.000-07:00</published><updated>2006-05-03T01:09:32.456-07:00</updated><title type='text'>Actor's Studio Teater Garasi</title><content type='html'>Halo teman-teman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam budaya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama ini, kami hendak mengabarkan bahwa Actor's Studio Teater Garasi sudah mulai membuka pendaftaran peserta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Actor's Studio adalah program belajar keaktoran yang diselenggarakan oleh Teater Garasi: Laboratorium penciptaan Teater yang terbuka bagi aktor pemula atau siapa saja yang ingin mengenal atau mempelajari keaktoran secara lebih jauh dan mendalam. Selama 6 bulan dalam Actor's Studio peserta akan diajak mengenal dunia teater, terutama keaktoran, melalui serangkaian workshop, kelas-kelas teori dan latihan dasar dengan fasilitator serta pengajar yang berkompeten di bidangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan ini terbuka untuk 15 actor (10 dari Yogya dan 5 dari luar yogya) yang lolos seleksi. Bagi peserta dari luar kota Yogya,  Teater Garasi hanya akan menanggung biaya pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersedia mengikuti secara utuh masa pendidikan Actor's Studio (6 bulan) &lt;br /&gt;Mengisi formulir yang terlampir &lt;br /&gt;Melampirkan CV &lt;br /&gt;Melampirkan foto seluruh badan (ukuran postcard)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon mengirim kembali semua persyaratan tersebut di atas ke : garasi@teatergarasi.org &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mencantumkan subjek : Pendaftaran Peserta Actor's Studio&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batas akhir pengembalian formulir adalah 1 Juni 2006 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau masih ada pertanyaan, silakan menghubungi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galuh Asti (0817-410-5154)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunawan Maryanto (0274) 740 6087&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok, kami tunggu ya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- &lt;br /&gt;Teater Garasi&lt;br /&gt;Jl. Bugisan Selatan No. 36A&lt;br /&gt;Tegal Kenongo Yogyakarta 55181&lt;br /&gt;Phone/Fax. +62 274 415844 &lt;br /&gt;E-mail: garasi@teatergarasi.org&lt;br /&gt;www.teatergarasi.org&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-114664377236168583?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/114664377236168583/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=114664377236168583' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114664377236168583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114664377236168583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/05/actors-studio-teater-garasi.html' title='Actor&apos;s Studio Teater Garasi'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-114664335140748017</id><published>2006-05-03T00:57:00.000-07:00</published><updated>2007-11-02T00:03:02.932-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='max arifin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teater'/><title type='text'></title><content type='html'>NASKAH  DRAMA BALADA SAHDI- SAHDIA&lt;br /&gt;[DRAMA SATU BABAK]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OLEH : MAX ARIFIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN:&lt;br /&gt;Naskah ini “lahir” setelah mengalami pengendapan dan perenungan yang cukup lama. Pematangannya makin dipercepat antara lain oleh:&lt;br /&gt;1.Keterkejutan atas tenggelamnya kapal Darma Mulia pada tanggal 20 Mei 1989 [Hari Kebangkitan Nasional !] yang menewaskan lebih dari 35 orang, tertera dalam banyak guntingan koran dan majalah.&lt;br /&gt;2.Penjelajahan intensif ke desa-desa di kawasan Lombok Selatan;&lt;br /&gt;3.Membaca buku langit suci karangan Peter l.Berger, terutama konsepnya tentang anomik dan alienasi.&lt;br /&gt;4.Kekaguman terhadap semangat yang terpendam dalam catatan-catatan pinggir Goenawan Mohammad di Majalah TEMPO yang merupakan geliatan-geliatan seorang intelektual sejati.&lt;br /&gt;Mungkin di sana ada satu dua kalimat dan frase-frase yang kami kutip agar semangat itu tetap utuh milik Goenawan Mohammad.&lt;br /&gt;Uacapan maaf dan terima kasih saya ucapkan.&lt;br /&gt;5.Kegemasan pada jawaban para pejabat di Propinsi, Kabupaten, Kecamatan dan desa-desa yang mengatakan: “Ah, itu kan cuma soal-soal mikro!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pementasan naskah ini, harap menghubungi penulisnya:&lt;br /&gt;MAX ARIFIN,&lt;br /&gt;Jl.Bola Volley Blok E 33,&lt;br /&gt;Perum Griya Japan raya, Sooko,&lt;br /&gt;Kabupaten Mojokerto 61361&lt;br /&gt;Jawa Timur&lt;br /&gt;Telp 0321- 326915&lt;br /&gt;Hp 085 2300 39 807&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaku utama:&lt;br /&gt;1.Sahdi        : 30 tahun&lt;br /&gt;2.Sahdia      : 25 tahun&lt;br /&gt;3.Dan lain-lain sesuai kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu: Malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat:&lt;br /&gt;Masing-masing berada dalam sebuah ruangan- - -dibatasi- oleh cahaya- - -.&lt;br /&gt;Suasana desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya adalah gelap dan sunyi.&lt;br /&gt;Kemudian di kejauhan sekali-sekali terdengar gonggongan anjing. Lalu, lewat tengah malam terdengar sayup-sayup sampai gema suara anak-anak menyanyikan lagu suku bangsanya, lagu Kadal Nonga.&lt;br /&gt;Lagu makin lama makin keras, bersamaan dengan lewatnya empat-lima keluarga yang berjalan perlahan dalam bayangan, melintasi tengah pentas [dari kanan ke kiri] menantang cahaya awal menjelang subuh.&lt;br /&gt;Para lelaki berjalan di depan membawa peralatan untuk menangkap ikan; wanita dan anak-anak mengikuti di belakang membawa bakul dan bekal makanan.&lt;br /&gt;Perjalanan makin menjauh menuju ke Selatan.&lt;br /&gt;Suara-suara menghilang dan seberkas cahaya pagi menerpa wajah seorang dukun/belian tua duduk di batu karang.&lt;br /&gt;Belian mengucapkan kata-kata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jalan mengikuti jejak-jejak ke pantai&lt;br /&gt;memare made nenek moyangku&lt;br /&gt;dan suara-suara, tawa dan nyanyi&lt;br /&gt;Datang mendorong memberi semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memare made di teluk Ekas&lt;br /&gt;tidak jauh dari gubuk tinggalku&lt;br /&gt;gubuk pindahan dari tempat ke tempat&lt;br /&gt;dan tinggal selama sanggup bertahan&lt;br /&gt;Seperti nenek moyang yang rindu keakanan.&lt;br /&gt;Kini kami berada di sana&lt;br /&gt;yang dulu muda&lt;br /&gt;kini tua dan tinggal tak karuan&lt;br /&gt;dan kerinduanku cumalah gema&lt;br /&gt;mimpi yang silih berganti&lt;br /&gt;datang menjelang sepanjang jejak&lt;br /&gt;di mana api unggun sering menyala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian datang Amaq Sahdi&lt;br /&gt;dalam usia dua puluh dua tahun&lt;br /&gt;mengawini si Saenah&lt;br /&gt;kebanggaan menyelimuti desa&lt;br /&gt;sesepuh-sesepuh kami yang dulu itu&lt;br /&gt;yang terdampar di Gunung piring&lt;br /&gt;dan sebagian di Batunampar&lt;br /&gt;semuanya tergulung dalam cakepan&lt;br /&gt;lontar yang membisu&lt;br /&gt;dan sebagian terjebak jadi nunas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kami yang ada di sana&lt;br /&gt;yang dulu muda&lt;br /&gt;sekarang tua dan hidup tak karuan&lt;br /&gt;dan kerinduanku cumalah gema&lt;br /&gt;dalam mimpi yang silih berganti&lt;br /&gt;datang menjelang di sepanjang jejak ini&lt;br /&gt;di mana api unggun sering menyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pentas menjadi gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN SATU:&lt;br /&gt;Ketika pentas masih gelap, terdengar lagi sayup-sayup lagu Kadal Nonga dibawakan oleh suara wanita, lambat dan memelas.&lt;br /&gt;Pada saat itu cahaya membias di kedua ruang yang ada di pentas----Sahdi sedang duduk di amben, tempat tidurnya [ di kiri] dan Sahdia di kanan [juga duduk di amben/balai-balai].&lt;br /&gt;Keduanya saling membelakangi. Kemudian mereka bangun, berdiri, saling berhadapan, memandang ke depan, ke kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;01.SAHDIA:&lt;br /&gt;Ingin kukabarkan padamu, tapi aku tidak tahu  di mana kau.&lt;br /&gt;Sekarang aku sendirian di desa.&lt;br /&gt;Inaq meninggal tiga bulan yang lalu.&lt;br /&gt;Amaq berangkat dengan rombongan sebulan yang lalu. Katanya mau ke Sulawesi selatan. Atau ke Irian jaya.&lt;br /&gt;Aku tidak tahu tepatnya.&lt;br /&gt;[PAUSE].&lt;br /&gt;Aku ingin menceriterakan semuanya padamu. Aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan. Aku sudah lelah. Memikirkan kau. Memikirkan kelanjutan hidup di sini.&lt;br /&gt;[PAUSE]&lt;br /&gt;Masih ada sisa tanah tiga are lagi, tanah kebun dekat pantai sana. Sedang tanah sawah yang 1 ½ are tidak cukup untuk makan setahun.&lt;br /&gt;Aku tidak tahu apa yang kucari.&lt;br /&gt;[PAUSE]&lt;br /&gt;Kau di mana, Sahdi.&lt;br /&gt;Suratmu tidak memberikan alamat. Aku heran kenapa. Apakah itu berarti bahwa aku tidak boleh bersurat ?&lt;br /&gt;[Perlahan dia menuju ke amben lagi dan duduk. Merenung, menarik napas dalam-dalam].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;02.SAHDI:&lt;br /&gt;Betapa tidak tenteramnya aku di sini, Sahdia.&lt;br /&gt;Sahdia.[Pada saat itu Sahdia mengangat muka dan “mendengarkan”]. Kalau kau ingin mengetahui keadaanku yang sebenarnya, bacalah lagi suratku yang kukirim belum lama ini. Tentu sudah sampai.&lt;br /&gt;[SAHDIA bergegas mengambil besek di kepala tempat tidurnya. Di sana ada surat Sahdi. Diambil, dikeluarkan dari amplopnya lalu dibaca. Yang terdengar adalah suara SAHDI di seberang].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rinduku adalah rindu pada makna&lt;br /&gt;yang memberikan warna pada teluk dan tanjung&lt;br /&gt;agar kita tidak berada di desa yang sepi&lt;br /&gt;dan menjadi asing padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelakaqku adalah mimpi gelisah bangun pagi&lt;br /&gt;dan melihat patokan terpacak di halaman rumah&lt;br /&gt;kelanjutan perih dari zaman ke zaman&lt;br /&gt;dan menemukan diriku di tengah padang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegelisahanku adalah kegelisahan yang berlanjut&lt;br /&gt;tatkala di negeri seberang dera melilit&lt;br /&gt;bersama ketakutan melihat matahari&lt;br /&gt;dan wajahpun tambah buram pada halimun&lt;br /&gt;di tengah padang gembala desa tak bernama&lt;br /&gt;seperti catatan inaq tergores di tiang tengah rumah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita adalah anak-anak tercerabut dari surga lama&lt;br /&gt;dalam ceritera nina bobo nenek sehabis isya&lt;br /&gt;dan tak tahu ke rumah mana akan pulang lalu&lt;br /&gt;mengembara seperti Guru Dane dan Amaq Sumikir”.&lt;br /&gt;03.SAHDIA:&lt;br /&gt;[Setelah selesai “membaca” surat Sahdi, cahaya lampu berubah:&lt;br /&gt;biru/kuning bersamaan dengan Sahdia maju, berhadapan dengan Sahdi].&lt;br /&gt;Dulu kau bermimpi ingin menemukan suatu negeri impian dan meninggalkan daerah nyata tempat kau berjuang yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Aku tidak tahu apakah yang kau tulis itu suatu mimpi atau ceritera tentang dirimu sendiri.&lt;br /&gt;Dan kalau kau menampakkan dirimu sekarang, kau tentu tak peduli karena suatu tujuan akhir itu tidak di sini tetapi di suatu tempat lain. Dan tak ada jalan untuk menghadapi nasib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;04.SAHDI:&lt;br /&gt;kata-katamu makin menyiksa aku, di sini. Kau bicara soal nasib lagi. Nasib tidak menyelesaikan persoalan seseorang karena dia adalah persoalan itu sendiri. Ia bukan akhir tetapi sebuah perjalanan yang berlanjut terus. Tidak menaik terus dan tidak menurun terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;05.SAHDIA:&lt;br /&gt;kalau itu suatu perjalanan, kenapa panjang sekali jalan yang harus ditempuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;06.SAHDI:&lt;br /&gt;Memang demikian. Panjang.&lt;br /&gt;Nasib merupakan sungai yang tak terbendungkan alirannya untuk menuju ke laut. Hal itu tidak tergantung pada kita. Satu-satunya hal yang tergantung pada kita adalah bagaimana mengatur alirannya, berjuang melawan alirannya dan tidak membiarkan diri kita terbawa arus seperti pohon tercabut dari akarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;07.SAHDIA:&lt;br /&gt;Di sinilah nasib itu. Bukan di sana.&lt;br /&gt;Di sinilah perjuangan itu, bukan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;08.SAHDI:&lt;br /&gt;Itulah soalnya.&lt;br /&gt;Kadang-kadang perjalanan hidup ini merupakan ceritera dan dongeng karena di luar pengaturan kita. Di luar kesadaran kita. Kita tidak mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;09.SAHDIA:&lt;br /&gt;Aku kira tidak, ia adalah kenyataan yang pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.SAHDI:&lt;br /&gt;Tergantung bagaimana memahaminya.&lt;br /&gt;11.SAHDIA:&lt;br /&gt;Itulah yang membuat adanya pengertian salah pada pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.SAHDI:&lt;br /&gt;Kalau begitu kita semua bersalah. Aku telah melakukan sesuatu atau banyak hal yang salah.&lt;br /&gt;[PAUSE].&lt;br /&gt;Tetapi kau harus mempercayai manusia pada akhirnya, Sahdia. Kepercayaan inilah yang telah hilang selama ini. Di desa kita. Aku pikir sebenarnya semua orang perduli tentang kebenaran, kemerdekaan, keadilan. Atau hati nurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.SAHDIA:&lt;br /&gt;Tetapi semuanya berada di dunia yang berada. Banyak di antara kita yang tidak mampu melakukan penyeimbangan dengan dirinya atau dengan lingkungannya. Yang terbentang di sana adalah dunia bopeng dan tak ada keberanian untuk menyentuhnya. Ini membuat kita kesepian, terlupakan, tidak penting, tanpa hak.&lt;br /&gt;Dulu kita berjuang antara tanah, ladang dan laut dan tidak pernah tahu siapa yang menang. Karena kita memahaminya sebagai kehidupan yang kita terima begitu saja. Kehidupan yang dijalani sejak nenek moyang kita dulu. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk berani. Kita lalu cuma berbisik tentang ketakutan seakan-akan tak ada kemungkinan lain. Tak ada warisan tentang keberanian karena benda samar itu diletakkan di tempat terendah dalam susunan kebajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.SAHDI:&lt;br /&gt;Keberanian itu tentu saja ada, Sahdia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.SAHDIA:&lt;br /&gt;Mungkin tetapi ia kadang-kadang lahir lewat watak yang tidak cocok, lalu menjadi sesuatu yang menggelikan.&lt;br /&gt;[LAMPU kembali pada warna awal. Dan keduanya masih terpaku. Pada saat itu suara ketukan di pintu. SAHDIA terkejut sedikit dan berpaling untuk membuka pintu. SAHDI kembali ke ambennya dan memandang ke arah “ruangan” SAHDIA].&lt;br /&gt;Oh, kau. Silkahkan masuk.&lt;br /&gt;[Seseorang wanita masuk]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.WANITA:&lt;br /&gt;Bagaimana ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.SAHDIA:&lt;br /&gt;Baik-baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.WANITA:&lt;br /&gt;Ada kabar dari Sahdi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.SAHDIA:&lt;br /&gt;Ada.Tetapi dia tidak menulis banyak.&lt;br /&gt;Pokoknya kita tidak tahu bagimana kabar pastinya tentang dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.WANITA:&lt;br /&gt;Kita doakan saja.&lt;br /&gt;[PAUSE}.&lt;br /&gt;Begini, Sahdia.&lt;br /&gt;Aku mau terus-terang padamu. Orang itu minta biaya lagi pada kita untuk mengurus surat-surat tanahmu supaya kau bisa tetap memilikinya. Dan aku masih lelah, baru tadi maghrib aku tiba dari kota kecamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21.SAHDIA:&lt;br /&gt;Apa yang tempo hari masih kurang ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22.WANITA:&lt;br /&gt;Katanya sih begitu.&lt;br /&gt;Masih kurang. Ada beberapa orang lagi yang harus dibayar sebab bukan cuma dia. Urusan ini terus berlanjut ke atas, katanya.&lt;br /&gt;Maklumlah. Sedang aku sendiri tidak tahu duduk persoalan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23.SAHDIA:&lt;br /&gt;Berapa lagi dia minta ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24.WANITA:&lt;br /&gt;Tidak banyak.Lima puluh ribu rupiah.&lt;br /&gt;[Sahdia agak terkejut mendengar jumlah itu].&lt;br /&gt;Kalau memang kau tidak punya uang sekarang, orang itu mau membayarnya lebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25.SAHDIA:&lt;br /&gt;Berarti saya berutang padanya.&lt;br /&gt;Tempo hari juga begitu.&lt;br /&gt;Dan itu berarti hutangku padanya sudah hampir dua ratus ribu rupiah.&lt;br /&gt;Bagaimana aku harus bayar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26.WANITA:&lt;br /&gt;Dia bilang tidak usah dirisaukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27.SAHDIA:&lt;br /&gt;Maksudnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28.WANITA:&lt;br /&gt;Dia orang baik, kau tenag-tenag saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29.SAHDIA:&lt;br /&gt;Tidak, apa maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30.WANITA:&lt;br /&gt;Kapan kau punya uang , ya bayarlah. Pokoknya kau tidak akan ditagih secara paksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31.SAHDIA:&lt;br /&gt;Aku percaya padamu, tetapi aku tidak punya uang sebanyak itu. Sertifikat tanahku kan sudah ada padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32.WANITA:&lt;br /&gt;Jadi kau tak mau bayar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33.SAHDIA:&lt;br /&gt;Ya.&lt;br /&gt;[Wanita itu keluar tanpa pamit].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Kemudian, pada saat itu pintu diketuk orang pada ruangan Sahdi. Sahdi terkejut dan Sahdia berpaling memandang pada Sahdi. Sahdi tertegun sejenak sebelum membuka pintu].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;34.SAHDI:&lt;br /&gt;Oh, kau, mari masuk.&lt;br /&gt;[Seorang lelaki masuk].&lt;br /&gt;Apa kabar ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35.LELAKI:&lt;br /&gt;Gawat ! Betul-betul gawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36.SAHDI:&lt;br /&gt;Maksudmu ? Apanya yang gawat ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;37.LELAKI:&lt;br /&gt;Aku didatangi lagi oleh orang itu. Ia minta uang lagi sebanyak lima puluh ringgit. Masih ada yang harus dibayar supaya surat-suratmu bisa keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;38.SAHDI:&lt;br /&gt;Apa yang tempo hari  belum cukup ?&lt;br /&gt;39.LELAKI:&lt;br /&gt;Begitulah. Buktinya ia minta lagi. Kalau surat-suratmu keluar berarti kau bisa kerja pada siang hari. Tidak seperti sekarang, kau bekerja pada malam hari dan sembunyi-sembunyi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40.SAHDI:&lt;br /&gt;Ya. Aku menderita sekali rasanya.&lt;br /&gt;Aku ingin melihat matahari.&lt;br /&gt;Ya, salahku juga. Kenapa aku percaya pada orang-orang yang membawa kita kemari. Setelah dua puluh hari dua puluh malam tersekap di bawah lunas kapal kecil yang melelahkan sekali. Aku mabuk sejadi-jadinya, terkuras semua isi perutku. Belum lagi bau mabuk dan muntah teman-teman lain berserakan tak karuan, memercik teman-teman di sebelahnya.&lt;br /&gt;[PAUSE]&lt;br /&gt;Sampai sekarang aku tidak tahu siapa yang disebut BAPAK waktu itu yang selalu disebut-sebut oleh calo-calo pencari kerja gelap itu. Aku tidak pernah melihatnya.&lt;br /&gt;Kau tahu, dua hari-dua malam sebelum naik ke kapal kecil itu kami ditampung dulu di sebuah kebun kelapa, tiga kilometer jauhnya dari pantai. Puluhan orang waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;41.LELAKI:&lt;br /&gt;Itu resiko, namanya. Untuk mencapai apa yang kau inginkan kita harus berkorban. Uang, benda dan untung juga tidak nyawamu sebab kau selamat tiba di sini.&lt;br /&gt;[PAUSE]&lt;br /&gt;Kau menyesal ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;41.SAHDI:&lt;br /&gt;Aku tidak bisa menjawabnya dengan tepat. Malah aku bingung. Barangkali. Soalnya makin menjadi jelas, banyak kesewenangan yang pandai menemukan alasan yang beradab. Punya dalih kadang-kadang filsafat, kadang-kadang ideologi. Rasa malu sudah tersimpan jauh-jauh di kolong yang kelam.&lt;br /&gt;[PAUSE]&lt;br /&gt;Pernah aku merenung sambil mengingat-ingat nyamannya berjemur di pantaiku yang indah di negeriku, yang katanya sekarang ini rakyat tak boleh lewat lagi, berapa besar nilai yang kuperjuangkan itu?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;44.SAHDI:&lt;br /&gt;Harkat kemanusiaan sekedar untuk mendapatkan hidup yang nyaman dan layak tanpa berlebihan. Mungkin sedikit ketenangan. Tapi dari hari ke hari semuanya itu merupakan sesuatu yang makin sulit didapat. Dan aku ternyata terombang-ambingkan di antara semuanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;45.LELAKI:&lt;br /&gt;Kenapa kau makin tenggelam dalam lamunan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;46.SAHDI:&lt;br /&gt;Justru di sana sisa-sisa kekuatanku untuk bertahan dalam hidup ini. Kalau hal-hal itu habis, maka habis juga hidupku dan adalah lebih baik kalau menemukan kematian saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;47.LELAKI:&lt;br /&gt;Begitu konyol ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;48.SAHDI:&lt;br /&gt;Bukan.Tetapi sebagai ujung dari suatu pemikiran yang macet dan ketidak perdulian dunia pada manusia.&lt;br /&gt;Ada masyarakat sebagai perwujudan nilai-nilai terbaik yang berada dalam pikiran dan hati nenek moyang kita dulu, kini mengalami perubahan dengan cepat. Ada kebingungan karena masyarakat sendiri kini tak punya tempat untuk ikut mewujudkan nilai-nilai mereka sendiri dan sulitnya mencerna nilai-nilai yang berlaku yang bukan dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;49.LELAKI:&lt;br /&gt;Bukankah itu berarti bahwa kebutuhan kita berlainan yang menyebabkan kita berlainan dalam melihat semuanya itu ?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;50.SAHDI:&lt;br /&gt;Barangkali juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;51.LELAKI:&lt;br /&gt;Dewasa ini kita barangkali cuma bisa bicara pada tataran permukaan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;52.SAHDI:&lt;br /&gt;Dan tataran itu agak rawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;53.LELAKI:&lt;br /&gt;Oleh sebab itu pemikiran kita dangkal-dangkal saja.&lt;br /&gt;Kebutuhanmu kini jelas dan untuk mewujudkan kebutuhanmu itu diperlukan syarat-syarat tertentu.&lt;br /&gt;Itu saja yang ingin kusampaikan padamu dan sekarang sepenuhnya tergantung bagaimana kau mampu mengatasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;54.SAHDI:&lt;br /&gt;Bukan soal itu yang lebih penting. Pahami dulu apa yang kukatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;55.LELAKI:&lt;br /&gt;Yang kukatakan padamu adalah jauh lebih nyata sekarang ini, Sahdi.&lt;br /&gt;Kenapa kita masih repot dengan perasaan moral dan hati nurani segala.&lt;br /&gt;Aku tahu, kau datang tidak dengan perasaan benci barangkali, dan bukan juga untuk mengagumi dirimu tetapi untuk berhasil.&lt;br /&gt;Ya, untuk berhasil.&lt;br /&gt;Dan jangan lupa, di balik yang sebelahnya lagi banyak orang yang mampu mengucapkan kata benci dengan bagus sekali dan dengan bagus pula menjadi sosok yang mencemohkan kemanusiaan.&lt;br /&gt;Dan itulah dunia sekarang ini.&lt;br /&gt;Kau pernah bilang, di desamu di sana kau didatangi oleh orang yang selama ini kau kenal bekas guru agama yang sering berkhotbah dengan air mata bercucuran dan muka yang sedih. Atau yang selama ini kau kenal sebagai orang yang membina kesenian sebagai perasaan paling halus yang dimiliki manusia, nembang di sampingmu dan dalam waktu yang bersamaan memasang jerat bagimu.&lt;br /&gt;Atau orang yang menyandang tustel dengan catatan di tangannya yang kau kenal sebagai wartawan yang pura-pura mau membelamu tetapi pada dasarnya mengorek rahasia kelemahanmu dan jengkal demi jengkal tanahmu melayang dan keuntungan terbesar jatuh pada mereka.&lt;br /&gt;[PAUSE. Suasana begitu hening dan mereka menunduk].&lt;br /&gt;Itulah kehidupan yang barangkali justru tidak kita pahami. Tetapi itu nyata seperti kau melihat tapak tanganmu sendiri.&lt;br /&gt;Manusia tidak hanya hidup dengan keadilan sekarang ini.&lt;br /&gt;Untuk membunuh saja, ide saja tidak cukup; juga keberanian. Dibutuhkan pula nurani tetapi inilah titik lemah manusia yang paling pokok, pertentangan dengan nuraninya itu. Dan pembunuhan makin berlarut, malah barangkali dibatalkan.&lt;br /&gt;[PAUSE].&lt;br /&gt;Hidup penuh dengan kompromi, Sahdi. Juga dengan kebendaan. Dan yang paling sulit adalah kompromi dengan dirimu sendiri. Memang berat. Dan itulah hidup. Dan itulah perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;56.SAHDI:&lt;br /&gt;Kau telah bicara panjang dan terima kasih kuucapkan padamu. Kau kembalilah dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;57.LELAKI:&lt;br /&gt;Maksudmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;58.SAHDI:&lt;br /&gt;Aku tidak menjual atau menawarkan apa yang kuhadapi ini pada siapapun. Kalian boleh saja mengemukakan alasan-alasan pembenaran, tetapi tidak menyadari terjadinya apa yang disebut kejahatan yang bersifat pribadi sekali yang hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan. Kalian tidak mengolah sebuah kebenaran, tetapi kalian menerimanya sebagai barang jadi.&lt;br /&gt;Tak ada uang lagi padaku. Semuanya sudah ludes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;59.LELAKI:&lt;br /&gt;Kalau begitu tak ada jaminan akan berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;60.SAHDI:&lt;br /&gt;Apa boleh buat. Aku ingin tahu sampai di mana daya tahanku terhadap semuanya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;61.LELAKI:&lt;br /&gt;Mungkin situasinya malah bertambah runyam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;62.SAHDI:&lt;br /&gt;Kukatakan, apa boleh buat. Aku pasrah sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[LELAKI  itu keluar dan setelah pintu ditutup, Sahdi kembali ke ambennya dan duduk di sana. Termenung. Suasana sepi sekali. Segala sesuatnya diam. LAMPU di ruangan Sahdi silih berganti perlahan berwarna biru, kemudian hijau, lalu kuning dan kembali lagi pada warna semula.&lt;br /&gt;Tapi kemudian padam perlahan-lahan].---------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN DUA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dalam kegelapan , lagu Kadal Nonga menggema perlahan, lambat dan memelas dibawakan oleh suara wanita. Ketika lampu menyala perlahan warna kuning temaram tampak dukun tua/belian duduk di batu karang di tepi pantai].------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;63. DUKUN TUA: [mengucapkan lelakaq].&lt;br /&gt;Keluarga-keluarga itu telah pergi;&lt;br /&gt;Daerah perbatasan tak lama lagi&lt;br /&gt;akan dihancurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah kita punya ubi di sini&lt;br /&gt;Lalu berganti menjadi batu.&lt;br /&gt;Tahanlah kebencian&lt;br /&gt;dan deritailah kematianmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga-keluarga itu telah pergi&lt;br /&gt;Memare-made ke laut selatan&lt;br /&gt;yang dulu menjanjikan keabadian,&lt;br /&gt;kini tombak-tombak telah berantakan&lt;br /&gt;dan meninggalkan manusia tak punya nyali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami adalah pengembara yang lelah&lt;br /&gt;menghadapi gelap seperti nurani penghianat&lt;br /&gt;dan bayangan gelap musim kemarau itu tiba&lt;br /&gt;seperti gurita yang tak bernama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Kemudian lampu perlahan padam tetapi nyanyian&lt;br /&gt;Kadal Nonga itu masih nyaring terdengar. Dan ketika lampu mulai membias terang dan membagi lagi pentas itu menjadi dua ruangan, tampak di sana Sahdia dan sahdi duduk di ambennya masing-masing. Termenung dan menunduk].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;64. SAHDIA:&lt;br /&gt;[menyapa perlahan] Sahdi…………..&lt;br /&gt;[Sahdi mengangkat muka sedikit].&lt;br /&gt;Kau ingat, hari ini hari Sabtu. Tadi sore aku melakukan ziarah-makam di makam kayangan tempat leluhur-leluhur kita beristirahat. Aku menangis di sana. Seperti biasa, aku minta supaya kita selamat semua. Dan hari Rabu lalu aku dan tetangga ke makam Wali Nyato. Kau tentu masih ingat sejarah Wali Nyato.&lt;br /&gt;[PAUSE]&lt;br /&gt;Dan sehabis panen yang lalu aku juga ikut upacara ngengapung dengan semua penduduk desa. Upacara ini dipimpin oleh belian Kurdap. Kami semua berenang di laut agar kami selamat.&lt;br /&gt;Sudah tiga tahun upacara ini tidak dilakukan dan belian Kurdap mengingatkan semua penduduk desa. Ada kesadaran penduduk desa untuk melaksanakannya walau di sana wajah-wajah penuh kemuraman. Ada yang tak terkatakan, yang mengikat mereka. Ketika aku pulang, kami masih merenung sebentar  dan menyaksikan matahari yang mulai tenggelam ke laut sebelah barat. Laut seperti terbakar. Merah menyala. Mendebarkan. Mungkin mengerikan ! Tapi ada kesedihan juga. Air mata tak kurasa mengalir. Kami tak tahu apakah tahun-tahun mendatang kami masih berhak menyaksikan keindahan itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;65.SAHDI:&lt;br /&gt;Aku memahamimu, Sahdia.&lt;br /&gt;Aku memahamimu. Sungguh.&lt;br /&gt;Banyak harapan seperti akan pupus begitu saja.&lt;br /&gt;Tetapi kutekankan padamu, harapan-harapan , bagaimanapun harus  mempunyai cadangan. Ini juga berarti bahwa kita harus pandai berendah hati. Ya, kutekankan, siap dengan pilihan yang tidak amat bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;66.SAHDIA:&lt;br /&gt;Aku melihat dan menyaksikan betapa sulitnya kita mendapat ketulusan.&lt;br /&gt;67. SAHDI:&lt;br /&gt;Tentu, Sahdia. Itu merupakan akibat langsung dari hal-hal sebelumnya. Aku masih memahami keadaan batin masyarakatku pada umumnya. Dari kecil kita dilatih dengan kekuatan batin untuk menahan diri, sesuatu yang cocok untuk kita dan kita akan celaka bila kita marah. Ketulusan sulit diharapkan dari mereka yang berada di luar masyarakat seperti itu. Selain memang mereka mempergunakan hal itu sebagai kelemahan kita, ketulusan juga memang sudah melenyap karena hati dan pikiran kita tidak  merdeka. Tidak memungkinkan adanya hal-hal lain. Rumput di halaman harus dicukur sama, batu bata harus diatur sama pula. [PAUSE].&lt;br /&gt;Kau paham? Ada ketakutan, yaitu ketakutan akan rusaknya jaringan pembagian kemiskinan yang ada, takut kehilangan teman tempat berbagi kemiskinan. Itu adalah pola-pola yang diwariskan secara turun-temurun dan kini terbentuklah apa yang disebut kepribadian kemiskinan, bagimana kita saling menyelamatkan dalam kemiskinan. Identitas kita sebagai  suatu suku bangsa begitu lemahnya, penuh dengan sikap-sikap curiga. Dan tentu saja semuanya itu adalah hal-hal yang tidak baik, Sahdia, tetapi betapa beratnya menghadapi semuanya itu. Kita seperti porak-poranda !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;68. SAHDIA:&lt;br /&gt;Aku tidak paham, Sahdi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;69.SAHDI:&lt;br /&gt;Kutekankan lagi, di luar sana seperti terdapat mendung berkepanjangan. Mungkin juga ketidakpedulian. Mungkin diperlukan saat-saat di mana kita tidak mudah untuk berbicara tetapi kau ketahui, Sahdia, tidak gampang untuk diam. Aku tidak tahu tepatnya, bagaimana kata-kata harus diberi harga sekarang ini. Aku juga tidak tahu apakah sebuah isyarat akan sampai. Dan mungkin cuma berupa slogan-slogan yang terpampang di sepanjang jalan besar di kotamu. Berkibar dikibas angin, memanggil siapa saja yang lewat. Tetapi yang terbaca cumalah potongan-potongan kalimat yang bernada lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Begitu Sahdi mengucapkan kalimat terakhir itu ketukan keras terdengar di ruangan Sahdia. Keduanya terperanjat dan saling memandang berbarengan dengan ketukan keras sekali lagi terdengar].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;70.SAHDIA:&lt;br /&gt;Ya! [Kemudian maju ke pintu dan membukanya. Seorang lelaki dengan beringasan masuk. Sahdia mundur dua-tiga langkah. Ketakutan. Walau ia tahu siapa orang itu].&lt;br /&gt;71.LELAKI:&lt;br /&gt;Kau menipu aku.&lt;br /&gt;Kau menipu aku!&lt;br /&gt;Tau? Pipil yang kau berikan padaku untuk kuurus itu adalah pipil palsu. Tau akibatnya? Aku dituduh menipu dan untuk itu aku berurusan lebih lanjut dengan polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;72.SAHDIA:&lt;br /&gt;Itu tidak mungkin. Yang kuserahkan itu adalah pipil yang selama ini menjadi milik amaq. Tidak mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;73.LELAKI:&lt;br /&gt;Aku tidak perduli itu.Tetapi sekarang aku yang kena getahnya. Tapi kau tidak akan lolos. Sewaktu-waktu kau bisa diusir di samping berapa biaya yang kubutuhkan untuk berurusan dengan yang berwajib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;74.SAHDIA:&lt;br /&gt;Kalau begitu kembalikan pipil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;75.LELAKI:&lt;br /&gt;Pipil itu sudah ditahan yang berwajib untuk proses lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;76.SAHDIA:&lt;br /&gt;Lalu di mana bantuanmu yang kau janjikan padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;77.LELAKI:&lt;br /&gt;Jangankan bantuan, aku sekarang dalam kesusahan gara-gara pipil palsu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;78.SAHDIA:&lt;br /&gt;Ya Tuhan! [Ia panik dan menutup mukanya lalu terisak-isak. Menangis].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;79.LELAKI:&lt;br /&gt;Camkan itu, Sahdia !&lt;br /&gt;[Ia keluar dengan membanting pintu. Sahdia terkejut mengangkat muka. Ia terpaku, tertegun tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun. Sahdi di ruang sebelah tertegun sejak semula].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;80.SAHDI:&lt;br /&gt;Gusti Allah.&lt;br /&gt;Betapa menderita batinku dalam penjara kedirian yang asing.&lt;br /&gt;[PAUSE].&lt;br /&gt;Langkah pertama adalah pendakian&lt;br /&gt;tapi di mana harus kutemukan&lt;br /&gt;penyangga yang tak goyah&lt;br /&gt;di bawah lengkung langit ini ?&lt;br /&gt;Orang-orang tak punya makna lagi tempat&lt;br /&gt;bertanya&lt;br /&gt;dan mereka melihatku tanpa bermuka*).&lt;br /&gt;[Kemudian ia termenung, menerawang jauh ke depan].&lt;br /&gt;Sahdi,&lt;br /&gt;kuheningkan alam untuk sukmaku&lt;br /&gt;yang dirantai kebodohan&lt;br /&gt;yang turun temurun.&lt;br /&gt;[PAUSE].,&lt;br /&gt;Sahdi,&lt;br /&gt;[Tapi pada saat itu pintu diketuk orang lagi.&lt;br /&gt;Lagi-lagi Sahdia terkejut, nafasnya turun naik, menutup mata, menangis].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;81.LELAKI:&lt;br /&gt;[OSV] Aku, Sahdia. Bukakan pintu. Aku memang terpaksa datang malam-malam begini.&lt;br /&gt;[Rupanya Sahdia mengenal suara itu, ia bangkit dan cepat menuju ke pintu. Dibuka].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;82.SAHDIA:&lt;br /&gt;Oh, mamiq, silahkan.&lt;br /&gt;[Seorang lelaki dengan tustel bergelantungan di lehernya, tape kecil di tangannya berdempetan dengan notes/catatan kecil, memakai jaket. Ia memandang ke sebuah kursi reot, lalu duduk. Mereka berhadapan].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;83.LELAKI:&lt;br /&gt;Aku mau tulis semua kisah sedihmu, Sahdia. Wartawanlah satu-satunya yang mampu menyampaikan suara orang-orang lemah, suaranya tidak terdengar, orang-orang yang menderita, orang-orang yang tersudut. Kamilah orang-orang yang ditakdirkan untuk itu. Kau tahu, yang disebut interaksi positif itu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;84.SAHDIA:&lt;br /&gt;Saya tidak paham, miq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*).Kutipan dari JATISUARA, karangan Drs.Lalu Agus Faturrahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;85.LELAKI:&lt;br /&gt;Tak apalah. Itu artinya, cuma kami, pemerintah dan masyarakat. Tapi yang mampu mencuatkan persoalan kalian cuma kami, kami wartawan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;86.SAHDIA:&lt;br /&gt;Saya sih tidak tahu betul tentang kalian. Sudah tiga kali ini kau kemari dan selalu bilang akan membantu aku. Apa yang kau minta sudah kuserahkan padamu. Tinggal satu benda paling berharga yang belum kuserahkan padamu. Kehormatanku. Apa yang kau perjuangkan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;87.LELAKI:&lt;br /&gt;Harga tanah yang pantas.&lt;br /&gt;Tapi kau harus ingat. Ada batas-batasnya. Wartawan itu menulis. Karena di negara kita ini ada yang disebut sistim pers yang bebas dan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;88.SAHDIA:&lt;br /&gt;Saya sih tidak mengerti, miq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;89.LELAKI:&lt;br /&gt;Tidak apa.&lt;br /&gt;Dan, dan, ya, ada lagi yang disebut Kode Etik Jurnalistik. Sulit kujelaskan padamu, Sahdia.&lt;br /&gt;Di sampin aku membela kalian, aku juga harus memuji para pejabat. Mereka-mereka itu senang dipuji. Sebutkan saja namanya di koran, maka alangkah senangnya mereka, apalagi tentang keberhasilan mereka. Kau harus tahu itu.&lt;br /&gt;Dan setiap pujian di koran itu berarti amplop, paling sedikit Rp 150.000,00 isinya. Padahal, kalau aku mau jujur padamu saja, para pejabat itu saling menyalahkan, menjelek-jelekkan satu sama lain. Tapi itu hanya padaku saja diucapkan. Ini namanya off the record. Aku menggenggam rahasia-rahasia mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;90.SAHDIA:&lt;br /&gt;Saya sih tidak paham hal-hal itu, miq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;91.LELAKI:&lt;br /&gt;Tak apalah. Pokoknya kau dengar apa yang kuucapkan.&lt;br /&gt;Dan tahulah, pejabat itu paling senang kalau dikatakan bahwa mereka itu membela rakyatnya, seperti bunyi salah satu spanduk di kota. Mereka berjuang untuk rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;92.SAHDIA:&lt;br /&gt;Lalu bagaimana pipil dan sertifikat yang kuserahkan pada mamiq untuk diperjuangkan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;93.LELAKI:&lt;br /&gt;Oh, itu. Tidak usah khawatir. Berada di tanganku berada berada di tangan yang aman dan semuanya sudah kuserahkan pada seorang petugas dan abdi negara ini. Yang tiap senin mengucapkan sumpahnya, yang disebut Sapta Prasetya Korpri. Ia akan melayani kita-kita ini. Aku tak boleh menyebut namanya padamu. Ini namanya merahasiakan sumber berita. Wartawan itu bekerja sedikit rahasia juga. Tidak boleh semuanya terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;94.SAHDIA:&lt;br /&gt;Saya sih tidak paham, miq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;95.LELAKI:&lt;br /&gt;Tak apa.&lt;br /&gt;Tapi, Sahdia, aku membeli sebuah kendaraan roda empat pada seorang dealer di kota. Toyota Taft nama atau merk kendaraan itu. Dengan jaminan sertifikat darimu itu sebelum kuserahkan pada abdi negara itu. Tidak enak rasanya jadi wartawan cuma jalan kaki ke sana kemari. Termasuk datang ke desam ini. Ada yang disebut gengsi itu. Dengan demikian pejabat-pejabat jadi percaya dan yakin padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;96.SAHDIA:&lt;br /&gt;Kenapa begitu, miq?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;97.LELAKI:&lt;br /&gt;Apa kau tidak percaya padaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;98.SAHDIA:&lt;br /&gt;Bukan begitu, miq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;99.LELAKI:&lt;br /&gt;Aku turunan bangsawan, Sahdia.&lt;br /&gt;Tak mungkin menipu kalian. Jelek-jelek aku juga sudah naik haji walau bukan dengan uangku sendiri. Adakan yang namanya haji jatah, begitu.&lt;br /&gt;Aku bisa menelusuri silsilahku. Aku adalah salah seorang turunan dari raja, entah Pejanggik atau Langko, aku lupa. Dan sebelumnya adalah asal Pamatan, kerajaan tertua di bumi Lombok ini.&lt;br /&gt;Kau masih tidak percaya?&lt;br /&gt;Aku adalah bagian dari kau. Nenek moyangmu adalah rakyat di ketiga kerajaan itu.&lt;br /&gt;[PAUSE]&lt;br /&gt;Maka tenanglah.&lt;br /&gt;Jangan katakan pada siapapun bahwa aku mengenal kau. Ini cara kerja wartawan. Paham?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;100.SAHDIA:&lt;br /&gt;Paham, miq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;101. LELAKI:&lt;br /&gt;Nah, kalau begitu bagus. Aku pergi dulu. Aku akan datang secepatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Lelaki itu keluar setelah mencoba mendengar kalau-kalau ada orang di luar. Memang agak lama di sana, sementara Sahdia hanya memandang dengan kosong pada wartawan itu. Setelah berbalik sebentar, lalu keluar].-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Kemudian Sahdia berbalik, memandang ke ruangan II/Sahdi. Mereka berpandangan]. LAMPU BLUR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;01.SAHDI:&lt;br /&gt;Aku tidak tahu pasti apakah itu sesuatu yang timbul karena persentuhan kebaikan. Sebuah harapan yang kuno sekali. Kau bisa menyadari, Sahdia, bahwa dewasa ini optimisme itu harus dibikin sendiri. Suasana sekitar tidak memungkinkan hal itu. Di hadapan kita menunggu banyak ketidakpastian. Bagaikan lautan Hindia yang kelam, yang luas tak bertepi. Pada saat-saat mata kita jalangkan terus menunggu waktu menyerbu ke lau untuk menangkap nyale.*) .&lt;br /&gt;[PAUSE]&lt;br /&gt;Aku rindu upacara bau Nyale, Sahdia.&lt;br /&gt;Di sana aku bisa mengeluarkan isi hatiku lewat lelakaq **). Lelakaqlah satu-satunya seni kita yang kusenangi karena ia mampu mengatasi kemasabodohan yang mematikan orang-orang Lombok yang timbul tatkala kita Cuma merayap dari satu kebiasaan ke kebiasaan yang mematikan. Seni melawan kebiasaan yang mematikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;02.SAHDIA:&lt;br /&gt;Aku memahami, Sahdi.&lt;br /&gt;Kemerdekaan mengakibatkan kesepain bagimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*). Nyale= semacam cacing laut yang warna-warni.&lt;br /&gt;**). Lelakaq = pantun dalam bahasa Lombok/Sasak.&lt;br /&gt;Kau pergi karena ingin merdeka  dan bebas dari belitan kemiskinan di desa kita. Pembicaraan-pembicaraan tentang hal itu sudah begitu ramai; hampir setiap orang bicara soal yang sama dan semuanya mengeluarkan suara-suara yang gaduh. Wartawan-wartawan menulis dan bicara yang sama dan sama sekali tidak menciptakan suatu rasa kebersamaan dan kedekatan dengan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;03.SAHDI:&lt;br /&gt;Memang begitu, Sahdia.&lt;br /&gt;Mereka tahu persis bagaimana harus menulis dan bicara. Makna-makna  tidak boleh tepat, harus kabur karena di sanalah mereka berlindung.&lt;br /&gt;[PAUSE].&lt;br /&gt;Berlindung dalam kekaburan makna itu.&lt;br /&gt;Padahal kita sangat mengharapkan kata-kata  yang ditulis mereka akan merupakan bagian dari suatu pencarian dan perjalanan batin. Yah, katakan bagian dari seluruh sejarah kepribadian mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;04.SAHDIA:&lt;br /&gt;Sudahlah, Sahdi. Aku tambah bingung. Yang kutahu hanyalah bahwa harapan memang tidak boleh dikuburkan begitu saja seperti katamu. Sebab masih ada orang-orang yang bersih. Kita punya hak untuk berharap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;05.SAHDI:&lt;br /&gt;Memang, walaupun kemiskinan kita bagi mereka bukan soal pokok. Tak ada yang bisa membatasi mereka kini, sehingga dunia dan manusia yang kita kenal itu menjadi tidak berharga sama sekali. Ini mengerikan sekali dan inilah sebenarnya titik perlawanan manusia.&lt;br /&gt;Yang paling hakiki miliki kita telah direnggut, yaitu tujuan hidup itu sendiri. Dan hal ini membuat kita menderita.&lt;br /&gt;Kita memang sulit menerima bahwa di sana ada dusta dan dusta itu begitu memberikan sifat penting pada orang dan berbagai hal. Kebenaran tidak akan membuat orang seperti itu, ya, sedikit saja kebenaran tentu akan  membuat mereka malu dan betapa munafiknya kita selama ini.&lt;br /&gt;Atau tak usahlah kita bicara soal kebenaran karena akan membuat kita bingung. Tetapi letakkanlah hati pada setiap perbuatan dan tindakan kita.&lt;br /&gt;[PADA SAAT ITU PINTU TERDENGAR DIGEDOR DENGAN KERAS.SAHDIA SEKETIKA TERKESIAP SEBENTAR DAN MEMANDANG NANAR KE ARAH PINTU. TERDENGAR LAGI SUARA KETUKAN DENGAN KERAS. SAHDI MUNDUR TETAPI TERDENGAR SERUAN DARI LUAR]. LAMPU !&lt;br /&gt;06.LELAKI:&lt;br /&gt;Bukakan pintu.&lt;br /&gt;Kami datang menjemput kau. Kau pendatang haram !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;07.SAHDI:&lt;br /&gt;[Maju ke pintu dan membukanya. Tiga orang masuk. Ternyata askar berpakaian preman].&lt;br /&gt;Apa saya harus ditangkap ? Apa masih kurang yang saya bayar pada kalian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;08.LELAKI:&lt;br /&gt;Tutup mulutmu !&lt;br /&gt;Di negeri kami soal itu tidak berlaku. Kalau di negeri kau bolehlah. Di sini lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;09.SAHDI:&lt;br /&gt;Tetapi………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.LELAKI:&lt;br /&gt;Nanti di sana saudara boleh berucap panjang-panjang. Tidak terhadap diri kami.&lt;br /&gt;[SAHDI dibawa. Sebelum keluar ia berbalik dan memandang pada Sahdia. Agaka lama mereka berpandangan. Lalu dia dibawa juga].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.SAHDIA:&lt;br /&gt;Sahdi, Sahdi……….&lt;br /&gt;[Sahdi hilang dibawa. Pada saat itu pintunya digedor orang. Dua orang masuk. Sahdia berpaling menghadapi mereka].&lt;br /&gt;Ada apa ?&lt;br /&gt;[Kedua orang itu masih berdiri di sana memandang tajam padanya].&lt;br /&gt;Katakan apa yang kalian kehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.LELAKI:&lt;br /&gt;[Mengeluarkan selembar kertas dan mencoba membacanya].&lt;br /&gt;Ini ada perintah dari atasan kami, supaya kau dengar.&lt;br /&gt;“Karena ternyata pipil dan keterangan-keterangan lainnya tentang pemilikan tanah atas nama Amaq sahdi adalah palsu, maka mulai hari ini, 22 Desember 1991, tanah-tanah yang menjadi miliknya disita oleh negara”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Lelaki itu berhenti sebentar lalu melanjutkan].&lt;br /&gt;“Kepada pemegang hak tanah sekarang, yaitu yang bernama Sahdia, akan diberikan pesangon yang besarnya akan ditentukan kemudian setelah mendengar berbagai pihak. Dan sehari sesudah surat ini keluar yang bersangkutan harus meninggalkan rumahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Orang itu berhenti membaca surat tersebut dan memang sudah selesai/tamat. Ketiganya saling berpandangan, kemudian sahdia menutup mukanya. Terisak, menangis. Tetapi kemudian ia mengangkat mukanya dan masih dalam suara tangisnya ia berkata]:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.SAHDIA:&lt;br /&gt;lalu kemana aku harus pergi.&lt;br /&gt;Kemana aku harus pergi.&lt;br /&gt;[PAUSE].&lt;br /&gt;Kemana aku harus pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.LELAKI:&lt;br /&gt;Kau kan punya saudara atau keluarga di desa seberang sana. Kau boleh tinggal di sana sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.SAHDIA:&lt;br /&gt;Kemudian aku harus pergi kemana?&lt;br /&gt;[Dalam isakan tangis yang deras.] Kemana aku harus pergi?&lt;br /&gt;Tanah ini begutu kucintai, kubenah dengan penuh kasih sayangku. Aku mencintai tanah ini ! Aku mencintai tanah ini. Kenapa aku harus berpisah dengan tanah ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.LELAKI:&lt;br /&gt;Bersiaplah Sahdia. Tak ada waktu lagi.&lt;br /&gt;[Sahdia mengemas barang-barangnya terutama pakaiannya; dibuntel dengan kain panjang kumal. Ia berdiri dan akan menuju ke pintu. Ia berhenti sejenak dan memandang kesegenap penjuru kamar tersebut untuk terakhir kalinya. Kemudian ia berbalik dan keluar diikuti oleh dua orang lelaki tersebut].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAMPU SEKITAR MEREDUP KEMUDIAN SOROT LAMPU TERTUJU PADA WAJAH SEORANG DUKUN TUA, MAKIN LAMA MAKIN TERANG.-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN TIGA:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu menyoroti wajah dukun tua yang duduk di atas batu karang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.DUKUN:&lt;br /&gt;Keluarga-keluarga itu telah pergi;&lt;br /&gt;Daerah perbatasan tak lama lagi&lt;br /&gt;akan dihancurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah kita punya ubi di sini&lt;br /&gt;lalu berganti menjadi batu.&lt;br /&gt;Tahanlah kebencian&lt;br /&gt;dan deritailah kematianmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga-keluarga itu telah pergi&lt;br /&gt;melengkapi derita anak manusia&lt;br /&gt;yang pernah dijalin dengan mimpi indah&lt;br /&gt;tapi hancur bertebaran di tanahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami adalah pengembara yang lelah&lt;br /&gt;menghadapi gelap seperti nurani penghianat&lt;br /&gt;dan bayangan gelap musim kemarau itu tiba&lt;br /&gt;seperti gurita yang tak berwarna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAMPU kemudian padam pelan-pelan.&lt;br /&gt;Gelap total.&lt;br /&gt;Masih tersisa lagu Kadal Nonga sedikit, lagu suku bangsanya.&lt;br /&gt;Kemudian lagu itu habis.&lt;br /&gt;Sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataram, 22 Desember 1991&lt;br /&gt;Semoga harapan tak pernah  padam di tanah ini.&lt;br /&gt;Merdeka !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB:&lt;br /&gt;Sebuah naskah sandiwara dengan naskah yang berlatar Lombok Selatan, akan dimainkan tanggal 3 Maret 1992 di Taman Budaya Mataram. Sandiwara tersebut karya Max Arifin berjudul Balada Sahdi Sahdia, disutradarai oleh Umarul Faruk. Pada kesempatan sama bakal digelar cerita pendek Pagar karangan Hamsad rangkuti dengan sutradara Azhar Zaini. Selain itu akn tampil pula beberapa penyair setempat membacakan sajak.Kegiatan ini berlangsung atas kerjasama Forum Komunikasi untuk Pengembangan Teater Mataram dengan Taman Budaya mataram.( Peristiwa Budaya, Kompas, Minggu, 1 Maret 1992)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GLOSSARI:&lt;br /&gt;1.Amaq        :&lt;br /&gt;Bapak [untuk rakyat biasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Bellan        :&lt;br /&gt;Dukun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Cakepan     :&lt;br /&gt;Lontar-lontar yang berisi satu ceritera/sejarah dikumpulkan jadi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Inaq            :&lt;br /&gt;Ibu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Lelakaq      :&lt;br /&gt;Nyanyian/pantun Lombok/Sasak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Mamiq        :&lt;br /&gt;Bapak[untuk orang bangsawan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.Mamare-made :&lt;br /&gt;Suatu kegiatan menangkap ikan di laut selama 4-5 malam.Biasanya beberapa keluarga menginap di pantai dengan membuat bangunan darurat. Dilakukan menjelang turun ke sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.Nunas         :&lt;br /&gt;Pengemis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.Ngengapung:&lt;br /&gt;Suatu upacara berendam di laut yang dilakukan oleh seluruh penduduk desa. Upacara ini dimaksudkan untuk menolak bahaya dan mohon keselamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.Nyale        :&lt;br /&gt;Cacing laut yang keluar sekali dalam setahun di pantai selatan Lombok. Dikaitkan dengan legenda Putri Mandalika yang cantik. Ada upacara bau nyale[menangkap nyale] beramai-ramai pada setiap malam tanggal 20 bulan atas [Arab], yang biasanya jatuh dalam bulan Februari. Di Kuta [Selatan Lombok] tempat yang paling ramai untuk upacara ini kini sedang dibangun hotel-hotel berbintang.     [***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-114664335140748017?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/114664335140748017/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=114664335140748017' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114664335140748017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114664335140748017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/05/naskah-drama-balada-sahdi-sahdia-drama.html' title=''/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-114664296271545777</id><published>2006-05-03T00:50:00.000-07:00</published><updated>2006-05-03T01:37:26.550-07:00</updated><title type='text'>biodata Max Arifin</title><content type='html'>BIODATA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama                        : MAX ARIFIN&lt;br /&gt;Tempat,tanggal lahir: Sumbawabesar, 18 agustus 1938&lt;br /&gt;Pekerjaan                  : Pensiunan PNS Depdikbud Prov.Nusa Tenggara Barat,    &lt;br /&gt;                                    Mataram [Lombok]&lt;br /&gt;Pendidikan                : SD dan SMP di Sumbawabesar,&lt;br /&gt;                                    SMA di Yogyakarta,&lt;br /&gt;                                    Candidat Hubungan Internasional UGM Yogyakarta&lt;br /&gt;                                    IKIP Mataram [jurusan bahasa dan sastra inggris]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Sejak di SMA sudah bergelut dengan seni sastra dan teater.&lt;br /&gt;2.Di Depdikbud NTB bekerja pada Bidang Kesenian, diserahi seksi drama dan sastra [tradisional dan modern]&lt;br /&gt;3.Tiga kali mengikuti penataran seni drama di Cisarua dan Cipayung yang diselenggarakan oleh Depdikbud.&lt;br /&gt;4.Menulis naskah drama, cerpen,dan puisi.&lt;br /&gt;5.Pimpinan/sutradara kelompok Teater Gugus Depan Mataram.&lt;br /&gt;6.Membina seni drama/teater pada beberapa SMA dan fakultas di Mataram.&lt;br /&gt;7.Memberi ceramah,diskusi, seminar tentang teater.&lt;br /&gt;8.Mengikuti pertemuan Teater Penyusunan Materi Ketrampilan Seni Teater di Ambarawa, tahun 1977 yang diadakan oleh Direktorat Kesenian, Depdikbud, Jakarta.&lt;br /&gt;9.Mengikuti Seminar Teater di Bandung tahun 1978, juga diadakan oleh Direktorat Kesenian, Depdikbud.&lt;br /&gt;10.Pembawa makalah pada Seminar dan Pertemuan Teater di Bandung tahun 1996.&lt;br /&gt;11.Mengikuti/peserta Art Summit 1997 di Jakarta.&lt;br /&gt;12.Peserta Seminar Pendekatan Kebudayaan dalam Pembangunan Jawa Timur, 8 Juli 2003 di Jember.&lt;br /&gt;13.Peserta Temu Sastrawan se Jatim, September 2003.&lt;br /&gt;14. Pernah menjadi redaktur budaya di harian Suara Nusa [sekarang Lombok Post] dan koresponden majalah TEMPO untuk Lombok 1975-1979.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.Naskah/buku yang ditulis ,antara lain:&lt;br /&gt;a.Teater, sebuah Pengantar, diterbitkan oleh Nusa Indah, Flores, 1990.&lt;br /&gt;b.Putri Mandalika [naskah drama] tiga kali dipentaskan secara kolosal di pantai Seger,Kuta,Lombok Selatan, 1988-1990.&lt;br /&gt;c.Matinya Demung  Sandubaya, pernah dibawakan/dipentaskan oleh Kontingen NTB pada Festival Teater di Solo dan dimuat sebagai cerita bersambung pada harian Suara Nusa di Mataram.&lt;br /&gt;d.Badai Sepanjang Malam, naskah drama dalam kumpulan drama remaja, Gramedia,Jakarta 1988.Diikutkan sebagai naskah yang dipilih oleh Taman Budaya Jatim dalam Festival Teater Remaja 2003.&lt;br /&gt;e.Teknik Penyudtradaraan [stensilan FKIP Unram, Mataram]&lt;br /&gt;f.Teknik Baca Puisi, sebuah Pengantar, BKKNI, NTB, 1990.&lt;br /&gt;g.Balada Sahdi Sahdia [naskah drama],1992.&lt;br /&gt;h.Tumbal Kemerdekaan [naskah drama],1987.&lt;br /&gt;i.Petunjuk Teknis Penilaian/Pengamatan Lomba/Festival Teater, Bidang Kesenian, Depdikbud NTB 1985.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.Beberapa buku terjemahan:&lt;br /&gt;a.Pemberontak [The Rebel] oleh Albert Camus,penerbit  Bentang Budaya, Yogyakarta,2000.&lt;br /&gt;b. Seratus Tahun Kesunyian [One Hundred Years of Solitude] oleh Gabriel Garcia Marquez,penerbit  Bentang Budaya, Yogyakarta,2003 dan sebagai cerita bersambung di harian Jawa Pos, 1997.&lt;br /&gt;c.The Shifting Point----Teater,Film dan Opera oleh Peter Brook, Masyarakat Seni Pertunjukkan Indonesia [MSPI], Jakarta 2002.&lt;br /&gt;d.Menuju Teater Miskin [ Towards a Poor Theatre] oleh Jerzy Grotowski, MSPI, Jakarta, 2002.&lt;br /&gt;e.Teori-teori Drama Brecht, oleh Hans Egon Holthusen, Dewan Kesenian Surabaya.&lt;br /&gt;f.Seribu Burung Bangau [Thousand Cranes], oleh Yasunari Kawabata, Nusa Indah, Flores 1978 dan penerbit Bentang Budaya, Yogyakarta 2001.&lt;br /&gt;g.Orang Aneh [The Stranger] oleh Albert Camus, penerbit Nusa Indah, Flores 1980. dan penerbit Mahatari, Yogyakarta&lt;br /&gt;h.Pengembaraan [Walkabout] oleh James van Marshal, penerbit Nusa Indah,Flores,1978 dan sebagai cerita bersambung di harian Kompas 1976.&lt;br /&gt;i.Nyanyian Laut [The Sound of Waves] oleh Yukio Mishima, cerita bersambung di harian Kompas 1976 dan penerbit Mahatari, Yogyakarta.&lt;br /&gt;j.Kecantikan dan Kesedihan [The Beauty and Sadness] oleh Yasunari Kawabata, cerita bersambung di harian Kompas,1983.dan penerbit Mahatari, Yogyakarta.&lt;br /&gt;k.Suara yang lain [The Other Voice] oleh Octavio Paz [belum diterbitkan]&lt;br /&gt;l.Pertaruhan Mewujudkan Tulisan [Writing at Risk] oleh Jason Weis dan Women Writers at Work oleh George Plimpton , penerbit Jalasutra,Yogyakarta [belum terbit]&lt;br /&gt;m.Masalah-masalah Seni [The Problems of Art] oleh Susanne K.Langer, ada di penerbit Bentang, Yogyakarta. [belum terbit]&lt;br /&gt;n.Gema Surga [An Echo of Heaven] oleh Kenzaburo Oe, penerbit Bentang Pustaka ,Yogyakarta. [belum terbit]&lt;br /&gt;o.Hidupku Dalam Seni [My Life in Art] oleh Konstantin Stanislavski.[belum terbit]&lt;br /&gt;p.Kemelut [The Blind Owl] oleh Sadeq Hedayat, dimuat sebagai cerita bersambung di harian Surabaya Post.&lt;br /&gt;q.Blows and Boms, oleh Stephen Barber, tentang biografi dan konsep teater Antonin Artaud. [belum terbit]&lt;br /&gt;r.Surat-surat Negro [The Fire Next Time] oleh James Baldwin.[belum terbit].&lt;br /&gt;s.Teater dan kembarannya [Theatre and it’s double] oleh Antonin Artaud.[belum terbit] &lt;br /&gt;t.Teater Politik [Political Theatre] oleh David Goodman.[belum terbit]&lt;br /&gt;u.Kapal Orang-orang Bodoh [ The Ship of Fool] karya Christiana Perri Rossi.&lt;br /&gt;[ada di penerbit Biduk, Bandung.Belum terbit]&lt;br /&gt;v.Suatu Salah Paham, terjemahan naskah drama dari Teater l karya Samuel Beckett.&lt;br /&gt;w.Oedipus Sang Raja, saduran bebas dari skenario film oleh Pier Paulo Pasolini.&lt;br /&gt;x.Sasmita-Larasmara ,saduran bebas dari Antigone karya Sophokles.&lt;br /&gt;y.Mawar Dalam Taman, drama terjemahan dari The Rose in the Cloister oleh Margaret Luce,1985.  &lt;br /&gt;z.Menerjemahkan beberapa puisi dan cerpen dari Timur Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.Menjadi juri beberapa festival teater [Peksiminas se Jatim dan tingkat nasional] tahun 2000 dan ditetapkan sebagai juri Peksiminas se Jatim 2004, Agustus 2004 di Jember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.Menjadi kurator bidang teater pada Festival Seni Surabaya 2004 dan 2005.&lt;br /&gt;19.Menjadi pembawa makalah “Kritik Teater Kontroversi Cerita Lama”,dalam Simposium  Kritik Seni oleh Dewan Kesenian Jakarta, 23-24 Juni 2005 di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.Menjadi narasumber dalam workshop seni akting oleh Studi Teater Mojokerto, 20 Maret 2005 di sanggar Seni Saraswati Mojokerto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21.Pembawa makalah “Keniscayaan Dalam Pengembangan Kehidupan Kebudayaan di Mojokerto” ,dalam Malam Penghargaan ST Iesmaniasita, Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto-Pemkab Mojokerto, 10 Maret di Aula Infokom Kabupaten Mojokerto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22.Pembawa makalah “Realisme dalam teater”, disampaikan pada technical meeting Seleksi Daerah Jatim Tangkai Teater, 9 Agustus 2004 di Universitas Jember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Japan Raya, April 2006&lt;br /&gt;MAX ARIFIN,&lt;br /&gt;Jl.Bola Volley Blok E 33,&lt;br /&gt;Perum Griya Japan Raya, Sooko,&lt;br /&gt;Kabupaten Mojokerto 61361&lt;br /&gt;Jawa Timur&lt;br /&gt;Telp 0321- 326915&lt;br /&gt;Hp 085 2300 39 807&lt;br /&gt;Email: daxxenos2@yahoo.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-114664296271545777?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/114664296271545777/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=114664296271545777' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114664296271545777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114664296271545777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/05/biodata-max-arifin.html' title='biodata Max Arifin'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-114472818767185039</id><published>2006-04-10T20:40:00.000-07:00</published><updated>2007-11-02T00:01:48.453-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rendra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teater'/><title type='text'></title><content type='html'>A TRIBUTE TO WS RENDRA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku             : MENONTON BENGKEL TEATER RENDRA&lt;br /&gt;Editor                    : Edi Haryono&lt;br /&gt;Penerbit                 : Kepel Press,2005&lt;br /&gt;Tebal                      : 1692 halaman [ + kata pengantar xxxix &amp;amp; biodata penulis+indeks nama,judul &amp;amp; istilah]&lt;br /&gt;Harga                     : Rp 500.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiah yang pantas pada ulang tahun Rendra yang ke 70 beberapa bulan yang lalu   adalah dengan terbitnya buku ini.Sebuah buku besar dengan ketebalan lebih dari seribu lima ratus halaman dan berisi berita berita ulasan-ulasan dan artikel-artikel yang cukup bermutu dan kritis terentang dari wartawan, penyair, sutradara, novelis, teolog, pelukis, penari,editor buku, peneliti, dosen-dosen, seorang editor dari Malaysia, berita-berita di koran Jepang dan Korea Selatan.Semua relung –relung kehidupan dan denyut jantung Bengkel Teater Rendra [BTR] tampak dengan transparan, seakan-akan tak ada yang tersembunyi.Tampak bayangan Rendra berdiri seutuhnya disana dan tampaknya cuma pribadi seperti itu yang mampu  membangun sebuah sanggar teater sehebat Bengkel Teaternya.&lt;br /&gt;Dapat kita katakan buku ini berisi banyak tanggapan para penulis terkemuka Indonesia yang telah menjadi saksi keteateran dan sikap berkesenian seorang Rendra. Dan kita juga bisa bilang,bahwa tanggapan,respons Rendra terhadap kehidupan sekitarnya. Seperti dikatakan oleh Nietzsche dalam buku The Rebel  karya Albert Camus, “tak ada seniman yang dapat menerima kenyataan”, tapi dengan cepat dijawab olehnya,”tak ada seniman yang bisa terus melangkah di luar kenyataan.Pemberontakan dapat dijumpai pada seni dalam keadaannya yang murni dan kompleksitas purbanya”.Sebenarnya dari sinilah dasar pemahaman kita terhadap seni Rendra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arti penting kedua terbitnya buku ini adalah seperti ditulis oleh Max Lane pada kata pengantarnya.”Kerja ini sepantasnya mendapat penghargaan tersendiri dari masyarakat, karena usaha ini bisa berarti telah dimulainya suatu perjuangan yang harus diteruskan untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan seni budaya Indonesia yang terjadi karena kriminalitas Orde Baru di bidang budaya”. Lebih lanjut dosen University of Sydney Australia itu menulis:” perjuangan kemerdekaan lewat perjuangan aksi massa dulu harus dibarengi dengan perjuangan di bidang budaya dari sastra Tirtoardisoeryo, Mas Marco terus ke Chairil Anwar;sastra menjadi sebuah bagian yang sangat dibutuhkan bagi perjuangan menciptakan sebuah kepribadian dan sebuah khazanah karya yang membantu manusia Indonesai melihat dunia”. Karya-karya Rendra , Pramoedya Ananta Toer, Wiji Thukul dan lain-lain sudah seharusnya menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali Rendra tampil tahun 1968 sepulang dari AS dengan pementasan Mini Kata nya,Bip Boop, sejak itu tampil sebagai salah satu jenis seni modern yang mau ditumbuhkan di Indonesia oleh Rendra. Di sana sudah muncul pro dan kontra: yang memuji dan yang mencelanya. Sri Laksono SE menulis surat pembaca di Kompas yang menduga Rendra dilahirkan terlampau dini di Indonesia atau sepantasnya Rendra menjadi penghuni pasien poliklinik psikiatri. Suara yang sama datang dari dr Waluyo Suryodibroto [ dari bagian gizi FKUI Jakarta].Lain halnya tanggapan DR Fuad Hasan  di Kompas Juni 1968.Menurut Fuad Hassan, Rendra ingin mendramatisasikan penghayatan konflik pada manusia di abad modern ini tanpa elaborasi intelektual yang sadar; ia telah berhasil mengonstantir konflik yang khas dalam abad modern ini yaitu individuasi versus massifikasi atau lebih mendesak lagi humanisasi versus dehumanisasi.&lt;br /&gt;Kerja kesenimanan Rendra merupakan suatu “dehuman syndrome”-penurunan derajat atau reduksi manusia oleh modernitasnya sendiri, perusakan kemanusiaan kita oleh teknologi, kekerasan dan kebudayaan nihilisme. Akibat reduksi tersebut realitas hidup manusia menjadi miskin dan tanpa makna. Pengalaman pribadi manusia gampang dinafikan, dinisbikan, disepelekan dan dimanipulasi. Drama Mini Kata masih fasih berbicara untuk zaman kita sekarang setelah dipentaskan 37 tahun yang lalu. Malah terlalu fasih.&lt;br /&gt;Dan sejak itu membentang waktu selama 37 tahun – sampai Juni 2005- dengan mementaskan 23 buah naskah: asing/ adaptasi 14 naskah, naskah sendiri 7 buah  dan naskah orang lain 1 buah [ Sobrat karya Arthur S Nalan].&lt;br /&gt;Ia telah berpentas di Sabang, Langsa [Aceh], di hampir semua kota besar di jawa, di Pontianak, Samarinda, di Jepang, Malaysia, Korea Selatan dan di AS [ 1998] dengan membawa drama Selamatan Anak Cucu Sulaiman.Koran New York times memuat komentar D.J.Bruckner pada 24 Juni 1988. namun sayang Rendra tak pernah menginjakkan kaki di kota-kota Indonesia bagian timur: Bali, Sulawesi, NTB, NTT, Maluku dan Papua. Terdapat 172 orang yang menulis tentang Rendra dan pementasan-pementasannya yang terkumpul dalam buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DRAMATURGI  RENDRA&lt;br /&gt;Dalam krisis mungkin kita membutuhkan drama. Atau meniru Martin Luther king JR yang berteriak: “ Dalam suatu krisis kita harus punya satu rasa drama” dan ia menggerakkan anak-anak kulit hitam di jalan-jalan Birmingham pada suatu hari minggu yang damai, kota yang pernah membunuh anak-anak hitam yang tak bersalah. Martin Luther King JR tampil laksana seorang aktor besar di pentas dengan gerak tangan yang anggun. Semuanya berkahir memang sebagai sebuah ikhtiar politik; atau memang sebuah kisah panggung. Tapi Rendra bukan bergerak di jalan-jalan tapi benar-benar di atas pentas. Untuk itu dia membutuhkan komunikasi. Banyak orang mengatakan [ periksa antara lain buku Eric Bentley A Century of Hero-worship atau dalam dunia fotografi kita temukan prinsip dari Henri Cartier Bersson yang disebut “the decisive moment”-ketepatan dalam menentukan moment dalam hidup manusia], bahwa Rendra muncul di era yang tepat dan kemudian mampu menjadi juru bicara zamannya. Seniman memerlukan ketegangan tertentu dalam berhubungan dengan masyarakatnya karena ia ingin memperluas cakrawala pengalaman, menciptakan suatu paham utuh dari berbagai gaya dan ide, untuk mencari sesuatu yang baru atau untuk memapankan suatu perbedaan. Tidak heran bila Rendra dan kelompoknya menamakan dirinya sebagai “orang urakan”, yaitu orang-orang yang menolak untuk mengikuti aturan-aturan yang didiktekan oleh lingkungan. Sejak 1970 an dapat dikatakan Rendra menjadi ujung tombak dari suara kritis hati nurani rakyat Indonesia. Katakanlah dramanya yang terkenal Mastodon dan Burung Kondor yang menyindir kediktatoran militer.   Lysistrata yang mengritik mental militer. Panembahan Reso yang merupakan esei-esei kekuasaan yang mencekam. Atau Kisah Perjuangan Suku Naga yang merupakan cerita satir terhadap kediktatoran Soeharto dan terhadap sebuah fenomena  yang zaman sekarang akan disebut “globalisasi”. Keindahan dan kekuatannya yang anggun, kekenesannya dan kepiawaiannya- yang dijuluk Si Burung Merak itu- memang menusuk ke benak sekaligus emosi [ perhatikan pemilihan naskah-naskah yang seperti ditulis dalam bentuk blank verses karena memahami benar kekuatan dari kalimat-kalimat yang puitik.&lt;br /&gt;Menurut Max Lane ada 4 kondisi atau faktor yang memelejitkan Rendra sejak 1978.1.Mahasiswa terbungkamkan; 2.Ali Sadikin yang independent itu tidak jadi Gubernur lagi; 3.kapitalisme “Big Boss” dan “Mr Joe” dan para kroni berhasil berakar di Indonesia tapi dalam wajah yang negative; rakus dan keserakahan; 4.sektor pikiran sosialis humanis kritis meraih ruang kembali.&lt;br /&gt;Di sanalah kita  melihat strategi dramaturgi Rendra.Ia mencoba atau memang menyajikan unsur-unsur responsi politis-filosofi, suatu kritik budaya. Juga mencoba menemukan substansi estetik teater dan merumuskan fungsi terapautik teater bagi masyarakat saat itu. Disana memang kita akan melihat refleksi kompleksitas persaingan nilai-nilai estetik dengan nilai-nilai hegemonic dalam struktur dan kehidupan institusional masyarakat. Kalau kita mengikuti Pierre Bourdieau dalam bukunya The Field of Cultural Production [ Columbia University press 1993] maka dapat disebut bahwa dramaturgi [teater Rendra] merupakan fiksasi dari model perjuangan dengan memakai instrument artistik teater sebagai media pencapaiannya.&lt;br /&gt;Dan strategi dramaturgi seperti itu bukannya tidak menimbulkan kritik menurut sementara orang naskah-naskah drama dan terutama naskah-naskah asing yang diadaptasi terlalu dan selalu diletakkan di bawah kemauan dan keinginan Rendra dan terlalu menggurui yang menyebabkan Pamusuk Eneste tidak suka nonton Teater Rendra [halaman 1037]/ untuk tidak mengatakan ia “memanipulasi” naskah-naskah itu.&lt;br /&gt;Kritik-kritik bersliweran dalam buku yang tebal ini. Secara acak ambil tulisan Goenawan Mohammad di Tempo 25 Desember 1976 yang melontarkan sinyalemen-sinyalemen bahwa Bengkel Teater Rendra kekurangan aktor dan dalam tiga kali pementasan Hamlet praktis Rendra bermain sendiri dan menggelembungkan dirinya [halaman 630] , sampai ke tulisan Putu Fajar Arcana di Kompas 26 Juni 2005 , kritikan terhadap pementasan Sobrat [halaman 1635] yang mensinyalir gagalnya proses regenerasi dalam Bengkel Teater Rendra, yang mengorbankan penonton. Padahal Bengkel Teater Rendra sedang berhadapan  dengan publik dalam arti luas, yang terdiri atas komunitas teater, publik awam, pers, cendekiawan dan sponsor. Tapi Rendra menjawab enteng: “ Tak masalah bagi saya pertunjukkan ini dibilang baik atau jelek” di sana terkandung nada suara kecewa, kesal dan lelah. Usia Rendra sudah 70 tahun; apakah ia akan bilang seperti ditulis Stanislavsky dalam bukunya My Life in Art [halaman 458] ketika ia juga berusia 70 tahun: &lt;strong&gt;I am not young and my life in art is approaching it’s last. The time is come to sum up the result and to draw up a plan of my last  endeavour in art”,&lt;/strong&gt; yaitu menulis sendiri buku tentang dirinya tentang konsep-konsep artistiknya dalam teater seperti ditulis Stanislavsky dalam My life in Art itu yang akan disambung dengan 8 jilid lagi. Itu yang sebenar-benarnya yang kita tunggu.&lt;br /&gt;Tribute to WS Rendra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Max Arifin, pengamat teater.&lt;br /&gt;Tinggal di Jl.Bola Volley Blok E 33,&lt;br /&gt;Perum Griya Japan Raya,Sooko,&lt;br /&gt;Kabupaten Mojokerto 61361,&lt;br /&gt;Jawa Timur&lt;br /&gt;telp 0321- 326915&lt;br /&gt;Hp 085 2300 39 807.&lt;br /&gt;email: &lt;a href="mailto:daxxenos2@yahoo.com"&gt;daxxenos2@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB:&lt;br /&gt;artikel ini telah dimuat di Jawa Pos, Minggu, 9 April 2006. Ini adalah versi selengkapnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-114472818767185039?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/114472818767185039/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=114472818767185039' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114472818767185039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114472818767185039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/04/tribute-to-ws-rendra-judul-buku.html' title=''/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-114335093530053882</id><published>2006-03-25T21:18:00.000-08:00</published><updated>2006-03-25T21:28:55.313-08:00</updated><title type='text'>OCTAVIO PAZ: THE OTHER VOICE</title><content type='html'>Pengantar:&lt;br /&gt;Berikut adalah terjemahan buku karya OCTAVIO PAZ berjudul THE OTHER VOICE, Essays on Modern Poetry [Harcourt Brace Jovanovich Inc,1991].Dalam terjemahan inggris oleh Helen Lane. Terjemahan bahasa indonesia oleh MAX ARIFIN, penyunting oleh HALIM HD.Belum diterbitkan sebagai buku.&lt;br /&gt;Informasi lebih lanjut dapat menghubungi: Bapak MAX ARIFIN, Jl.Bola Volley Blok E 33 Perum Griya Japan Raya, Sooko, Kabupaten Mojokerto 61361 Jawa Timur. telp 0321- 326915 , Hp 085 2300 39807, email: &lt;a href="mailto:daxxenos2@yahoo.com"&gt;daxxenos2@yahoo.com&lt;/a&gt;.[***]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN&lt;br /&gt;[Dari sampul buku 'The Other Voice"]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Dalam tujuh buah esei yang indah dan cerdas yang membentang melampaui abad- abad dan wilayah kesusastraan, Octavio Paz, pemenang Hadaiah nobel Kesusastraan tahun 1990 ini mengupas dengan cara yang mendalam, dan menceriterakan kepada kita bagaimana puisi modern itu muncul, mencatat hal-hal apa saja yang membuat puisi itu modern, dan berspekulasi tentang apa saja yang terjadi terhadap puisi modern itu pada masa sekarang dan yang akan datang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-114335093530053882?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/114335093530053882/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=114335093530053882' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114335093530053882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114335093530053882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/03/octavio-paz-other-voice.html' title='OCTAVIO PAZ: THE OTHER VOICE'/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-114335027696862839</id><published>2006-03-25T21:10:00.000-08:00</published><updated>2007-11-02T00:06:21.854-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='max arifin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='stanislavsky'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='realis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teater'/><title type='text'></title><content type='html'>Pengantar:&lt;br /&gt;Berikut adalah terjemahan buku My Life in Art karya Konstantin Stanislavsky [Foreign Languages Publishing House,Moscow].Diterjemahkan dari bahasa inggris oleh Max Arifin.Belum diterbitkan sebagai buku.Informasi lebih lengkap tentang terjemahan buku ini, silakan menghubungi:Max Arifin [70 tahun],Jl.Bola Volley Blok E 33, Perum Griya Japan Raya,Sooko,kabupaten Mojokerto 61361 jawa timur. Telp 0321- 326915 , hp 085 230039807, email: daxxenos2@yahoo.com.[***]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.BILA ANDA MELAKONKAN ORANG JAHAT,CARILAH DI MANA KEBAIKANNYA&lt;br /&gt;Lakon The Usurpers of the Law&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Sastra dan Seni –selanjutnya kita sebut Masyarakat saja—ternyata mengalami kegagalan dalam bidang keuangan justru pada tahun pertamanya, namun hal itu tak menggoyahkan kepercayaan kami yang pada akhirnya toh berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Di awal-awal dari masa kedua terjadi perubahan-perubahan yang berarti. Persaingan yang ada dalam sekolah drama dan opera dan antara para sutradara—Fedotov dan Komissarzhevsky—memunculkan ketidaksetujuan-ketidaksetujuan dan secara material keseluruhan beban itu jatuh ke pundakku. Tambahan lagi pertemuan-pertemuan malam keluarga lama-lama mengalami kebosanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Para aktor bilang:”Kami sudah lelah bermain di teater’.Yang lainnya :”Kami lelah melukis di rumah”. Atau yang lainnya:”kami lebih senang bermain kartu pada malam hari dan di sini tak ada kartu untuk bermain. Lalu, club macam apa ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Para seniman itu tidak mau melukis tanpa kartu, penari tak mau menari, penyanyi tak mau menyanyi. Kehancuran club itu dipercepat lagi oleh suatu konflik setelah seniman meninggalkan Masyarakat yang diikuti oleh banyak aktor. Yang tinggal adalah departemen drama dan sekolah drama-opera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Masa kedua bagi Masyarakat Seni dan Sastra [1889-90] dibuka dengan produksi The Usurpers of the Law karya Pisemsky. Aku memerankan peranan Emperor Paul I, seorang jenderal. Lakon ini ditulis dengan baik sekali tetapi dalam kesulitan bahasa dari sebuah epos. Jendral Imshin pergi berperang meninggalkan istrinya yang masih muda—anak seorang bangsawan yang jatuh bangkrut—kepada saudaranya yang berperangai Don Juan, Pangeran Sergey. Wanita muda itu mencintai seorang opsir pengawal yang tampan dan ketika Pangeran Sergey secara tidak sengaja mengetahui mereka, ia memutuskan untuk mengancam wanita itu untuk membuka pada umum masalah itu atau menyerahkan diri padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tetapi sang jenderal tampaknya mencium adanya bahaya; dengan tak terduga ia pulang, berjalan tanpa dilihat ke ruang perpustakaan lewat kebun dan mengamati segala sesuatu, baik penghianatan yang dilakukan oleh saudaranya maupun ketidaksetiaan istrinya. Opsir muda itu datang  untuk melihat kekasihnya dan berhadapan dengan sang suami yang sudah tua itu. Adegan tersebut, di mana jenral itu bermain dengan istrinya seperti seekor kucing dengan seekor tikus tampak benar-benar mempunyai kekuatan. Ia mengunci keduanya di atas loteng dan di sana dengan seorang pelawak  yang bertindak sebagai hakim, jenderal itu memimpin peradilan, menghukum kedua kekasih itu dengan hukuman seumur hidup.Berhari-hari jendral itu duduk-duduk di jendela penjara di mana istrinya dihukum, dirobek-robek rasa kasihan dan iri hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sementara itu ayah istrinya, seorang perwira pemabuk dengan awajah jendral besar Rusia Suvorov mengumpulkan pengikut-pengikutnya  dan menyerang penjara itu untuk membebaskan putrinya. Terjadi pertempuran sesungguhnya di atas pentas. Para penyerang memanjat pagar-pagar, mendobrak loteng dan membebaskan para napi. Sang jendral dengan cepat mengumpulkan teman-temannya dan melakukan serangan balik. Para penyerang mundur, tetapi Imshin luka parah. Sebelum mati ia memberikan istrunya pada Rykov, sang perwira muda itu. Lakon tersebut, sebuah tragedi sejati di awalnya melorot menjadi sebuah melodrama menuju akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Banyak yang kutemukan sebelumnya kugunakan pada tulisan ini:restraint—pengekangan, pengendalian--,concealing—menyembunyikan—dari perasaan iri hati batiniah—inner jealousy—di bawah topeng ketenangan lahiriah yang begitu membakar tempramen dalam peran Anany, mimetics [peniruan] dan the play of the eyes [sesuatu yang datang sendiri ketika terjadinya anarki pada urat-urat atau otot-otot menghilang dengan] revelations yang sepenuhnya bersifat spiritual dari jiwa pada saat tekanan itu meninggi dan metode-metode my old man dari lakon The Miser Knight. Adalah benar bila dikatakan terdapat batu-batu karang yang berbahaya, seperti sepatu lars tinggi, pedang, kata-kata dan perasaan cinta kasih dan jika bukan puisi [verse] adalah bahasa yang angkuh yang ada dalam epos, tetapi Imshin bukanlah orang rusia untuk merasa takut terhadap orang Spanyol yang ada dalam diriku. Dan cintanya tidak muda lagi tapi sudah tua dan bersifat karakteristik tinimbang romantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Orang-orang mengatakan, bahwa aku telah menciptakan suatu imagi yang bertentangan dengan diriku, tetapi aku tidak tahu bagaimana. Teknik aktingku mendorong aku ke kebenaran dan kebenaran merupakan stimulan terbaik bagi emosi, inkarnasi, imajinasi dan kreativitas. Itu adalah pertama kalinya aku tidak menerima siapapun dan aku merasa baik-baik saja di atas pentas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Cuma ada satu hal yang tepat untuk itu yang kutemukan dalam gaya berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Latihan untuk lakon The Usurpers of the Law bertepatan dengan [latihan] lakon lainnya di mana aku tidak mengambil bagian tetapi aku datang melihatnya bila aku mempunyai waktu senggang. Sering pendapatku diminta atau ditanya tentang sesuatu. Kata-kata yang baik dan benar muncul bukan ketika anda mau mengatakan tentang mereka, ketika mereka menjadi perlu bagi diri mereka sendiri. Sebagai contoh, aku tidak dapat berfilsafat, berpikir dan menciptakan aphorisme bila aku sendirian.Tapi bila aku menjelaskan pikiran-pikiranku kepada orang lain, maka di sana diperlukan logika untuk argumentasiku dan aphorisme-aphorisme muncul sendiri. Dan itulah yang terjadi pada waktu ini. Apa yang terjadi di pentas adalah lebih baik dilihat dari auditorium daripada dari pentas itu sendiri. Melihat dari auditorium seketika aku bisa melihat kesalahan-kesalahan yang terjadi di pentas dan mulai menjelaskan pada teman-temanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Lihatlah ke mari”,kataku pada salah seorang dari mereka,”kau memerankan seseorang yang sedih tanpa alasan; kau merengek sepanjang waktu dan kau risau, tampaknya, bahwa kau tidak tampak seperti seorang yang sedih-tanpa alasan itu. Tapi kenapa risau soal itu ketika pengarangnya sendiri sudah menaruh perhatian terhadap hal itu. Hasilnya adalah seperti kau melukis sebuah gambar cuma dengan satu warna   dan warna hitam Cuma menjadi hitam ketika beberapa [warna] putih dimasukkan untuk menimbulkan kontras. Jadi masukkanlah sedikit warna putih seperti beberapa warna yang terdapat pada pelangi ke dalam peranmu. Akan terdapat kontras, keanekaan dan kebenaran. Jadi bila kau memerankan seorang yang sedih tanpa alasan [atau yang disebut penyakit-bersedih-hati], carilah di mana ia berbahagia dan bergembiralah. Jadi setelah ini kau terus juga merengek, maka sebentar lagi kau akan bosan. Sebaliknya kemauan keras supaya dilipatgandakan. Tersu menerus dan rengekan yang non stop yang kau lakukan tak tertahankan seperti kita mendapat sakit gigi. Bila kau memerankan orang baik, carilah di mana kejahatannya dan dalam diri orang jahat, carilah di mana kebaikannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Setelah tanpa sengaja mengucapkan aphorisme ini aku sadar bahwa tak ada yang kabur atau samar-samar tentang peran jendral Imshin. Aku telah membuat kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh temanku. Aku memerankan peran orang jahat tetapi tak ada perlunya untuk memperhatikan hal itu, penulisnya sendiri telah memperhatikan hal itu lebih dari cukup.&lt;br /&gt;Apa yang tertinggal padaku adalah untuk melihat dan mencari di mana letak kebaikannya, penderitaan, penuh rasa penyesalan, kasih sayang, kelembutan dan pengorbanan. Dan inilah beban-beban baru pada latihan aktor-aktorku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bila anda memerankan seorang jahat, carilah di mana letak kebaikannya.&lt;br /&gt;    Bila anda memerankan seorang tua, carilah di mana letak ketuaannya, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Makin aku mendapat keuntungan dari penemuan yang baru ini, makin lembut nada umum [general tone] dari lakon The Usurpers of the Law, makin sedikit keluhan tentang beratnya lakon tersebut.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;    Sepanjang masa kedua itu Msyarakat Seni dan Sastra mengejar garis pertanyaan artistik yang hampir sama dan masalah-masalah teknis seperti yang terdapat pada masa-masa pertama.&lt;br /&gt;     Sangat disayangkan bahwa Fedotov tidak meletakkan semangat tua yang sama ke dalam pekerjaannya. Ia merasa tidak puas dengan sesuatu; ia tidak bisa bersama-sama dengan Komissarzhevsky dan kehilangan kepentingan di dalam teater kami.[***]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21007504-114335027696862839?l=majapahitan2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://majapahitan2.blogspot.com/feeds/114335027696862839/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21007504&amp;postID=114335027696862839' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114335027696862839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21007504/posts/default/114335027696862839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://majapahitan2.blogspot.com/2006/03/pengantar-berikut-adalah-terjemahan.html' title=''/><author><name>abdul malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05557279071880756881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21007504.post-114309496003540396</id><published>2006-03-22T22:11:00.000-08:00</published><updated>2007-11-02T00:04:15.121-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='samuel beckett'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='max arifin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teater'/><title type='text'>NASKAH TEATER I"SEBUAH SALAH PAHAM"</title><content type='html'>NASKAH           : TEATER I “SEBUAH SALAH PAHAM’’&lt;br /&gt;KARYA              : SAMUEL BECKETT&lt;br /&gt;ALIHBAHASA  :MAX ARIFIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut sebuah jalan.Runtuhan bangunan.&lt;br /&gt;A, buta, duduk di atas bangku dengklik, menggesek biola tuanya. Di sampingnya ada sebuah peti setengah terbuka dan di atas peti ini ada sejenis mangkok.&lt;br /&gt;                 Dia berhenti menggesek biolanya, memandang ke kanan, mendengar.-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                    Pause.-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.A.        :       Sedekahlah untuk orang tua melarat; sedekahlah untuk orang tua melarat. [Diam.Dia bermain,berhenti lagi, memandang ke kanan, mendengar. B masuk dari kanan di atas kursi roda. Dia berhenti. Tertegun].&lt;br /&gt;                    Sedekahlah untuk orang tua melarat.&lt;br /&gt;                    [Pause].-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.B          :       Musik ! [Pause].Jadi sama sekali bukan impian.Akhirnya ! juga bukan angan-angan; mereka membisu dan aku membisu di depan mereka.[Dia maju,berhenti,memandang ke dalam mangkok,tanpa emosi].Orang malang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                    [Pause].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                    Sekarang aku bisa kembali,karena misteri itu sudah terungkap .[dia kembali memandang kursi rodanya.Berhenti]. Atau, bagaimana kalau kita bergabung dan hidup bersama,sampai maut datang menjemput.[Pause]. Bagaimana pendapatmu tentang itu,Billy? Boleh aku memanggil kau Billy seperti nama anakku? [Pause].Kau ingin seorang teman, Billy?[Pause] Kau mau makanan kaleng, Billy?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.A         :       Makanan dalam kaleng? Makanan apa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.B          :      Daging dalam kaleng,Billy; ya, daging dalam kaleng.Cukup untuk menjaga kesehatan badan dan jiwa sampai musim panas. [Pause]. Tidak? [Pause]. Juga ada beberapa buah kentang,Ya,cuma beberapa pon.[Pause] .Kau suka kentang,Billy?&lt;br /&gt;                    [Pause] .Malah kita bisa membiarkan kentang-kentang itu bertunas kemudian kita menanamnya.Kita bisa mencobanya.[Pause] Aku memiliki tanahnya dan kau bisa menanamnya.[Pause].Tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                    [Pause]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.A.        :       Bagaimana pohon-pohon itu tumbuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.B          :  Sulit mengatakannya.Seperti kau ketahui, sekarang ini musim dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                    [Pause]&lt;br /&gt;7.A         :       Sekarang ini siang atau malam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.B          :       Oh,…[memandang ke langit] sekarang siang, kalau kau mau.Tak ada matahari,tentunya, sebab kalau ada kau tentulah tidak bertanya. [Pause].Dapat kau mengerti apa maksudku? [Pause] Apakah kau masih memiliki kecerdasan tentang dirimu sendiri. Billy, apakah kau memiliki akal budi tentang dirimu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.A         :       Kalau cahaya,bagaimana. Ada ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.B        :  Ya. [Memandang ke langit lagi]. Ya,cahaya. Tak ada kata yang tepat untuk itu. [Pause]. Boleh aku menjelaskannya padamu ? [Pause]. Boleh aku mencoba memberikan sebuah gagasan tentang cahaya ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.A       :      Bagiku, kadang-kadang bila aku menghabiskan waktuku di sini di waktu malam, itu berarti memainkan biola tua ini atau mendengar, mengawasi ada orang datang. Aku biasa merasakan bagaimana senja menjelang dan mempersiapkan diri. Aku menyisihkan biola dan mangkok dan berdiri bila ia menuntun aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                    [Pause].-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.B        : Dia ? Dia siapa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.A       : Dia istriku. [Pause] Seorang wanita. [Pause]. Tapi sekarang……….[Pause]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.B        :       Sekarang ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.A       :       Kapan aku keluar, aku tidak tahu; dan kapan aku tiba di sini aku tidak tahu dan selama aku berada di sini aku tidak tahu, apakah siang atau malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.B        :       Kau tidak selalu seperti dirimu. Apa yang menguasai kau ? Perempuan?Judi? Atau Tuhan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.A       :      Aku akan selamanya seperti diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.B        :       Mari !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.A       :      [Marah]. Aku akan selamanya seperti diriku,dicekam kegelapan sambil menggesek biola yang menghasilkan nada-nada sumbang menuju ke empat penjuru angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.B        :      [Marah]. Kita mempunyai istri, bukan? Istrimu akan menuntun kau dan istriku akan mendorong kursi roda ini ke luar di waktu malam dan pulang lagi di waktu pagi dan mendorong aku sejauh mungkin bila aku bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21.A       :      Kau pincang ? [Tanpa emosi] Mahluk yang malang !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22.B        :       Cuma satu masalah: kalau putar ke kanan. Bila tak ada masalah yang satu ini, kupikir aku akan bisa mengelilingi dunia ini dengan cepat. Sampai pada suatu hari ketika aku menyadari aku bisa pulang. [Pause]. Umpama begini. Aku berada di A [ Ia mendorong dirinya sedikit ke depan lalu berhenti]. Aku bergerak ke B [Ia mendorong 
